Waspadalah! Ini Strategi Jamaah Islamiyah Susupkan Agen untuk Pengaruhi Kebijakan

Ilustrasi, Anggota Densus 88 Antiteror menggiring terduga teroris masuk ke dalam mobil saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (18/3/2021). Polri memindahkan 22 terduga teroris jaringan kelompok Jamaah Islamiyah (JI) dari Jawa Timur ke Jakarta. (merdeka.com/Imam Buhori)

Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) nonaktif, Ahmad Zain An Najah, ditangkap Densus 88 Antiteror Polri karena diduga terlibat kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI). Pakar terorisme meminta semua pihak waspada terhadap dugaan JI ‘menanam’ orang untuk mempengaruhi kebijakan.

“Karena MUI lembaga strategis dalam membuat kebijakan terkait kepentingan umat Islam, mereka (JI) menanam orang-orangnya itu mempengaruhi pengambilan kebijakan,” kata pakar terorisme dari UIN Syarif Hidayatullah (UIN), Jakarta, Zaki Mubarak kepada wartawan, Kamis (18/11/2021).

“Sekaligus sebagai strategi kamuflase supaya tidak kelihatan bahwa dia orang JI. Menjadi free rider atau penumpang gelap menjadi strategi mereka saat ini,” tutur Zaki.

Zaki mengatakan JI yang baru atau neo-JI punya strategi menyusup ke mana-mana, terutama ke lembaga negara dan ormas-ormas strategis, termasuk partai politik. Mereka dinilai ingin mempengaruhi pengambilan kebijakan lembaga atau ormas agar mendelegitimasi pemerintah.

Dia menilai JI berusaha menyulut kebencian publik terhadap pemerintah. Hal itu, katanya, merupakan bentuk strategi baru JI karena belum siap berkonfrontasi langsung dengan aparat keamanan.

“JI baru juga punya program merekrut para ahli atau profesional, ekonom, insinyur, ahli hukum, pengusaha, sebagai persiapan membentuk pemerintahan jangka panjang. Jadi mereka ini mencontoh keberhasilan Taliban. Penyusupan ke MUI dalam rangka itu juga,” papar Zaki.

Zaki juga mengingatkan potensi JI menyusup ke lembaga negara, seperti Polri, TNI, hingga BUMN. Zaki menyebut ada beberapa orang Indonesia yang bergabung ISIS di Suriah merupakan mantan anggota Polri, TNI, dan pegawai BUMN.

“Tidak tertutup kemungkinan mereka menyusupkan orang-orang di lembaga negara, kepolisian, tentara, BUMN, dan sebagainya. Kita tahu beberapa jihadis Indonesia yang berangkat ke Suriah bergabung ISIS, ada yang berasal dari bekas polisi, tentara, dan pegawai BUMN. Ini tentunya menjadi kewaspadaan kita semua,” ucapnya.

(Suara Islam)

Loading...