Waspadai Pelaku Teror Berjubah Agama

Ilustrasi, Anggota Densus 88 membawa terduga teroris dari Makasar setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (4/2/2021). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

Teror membangun emosi ketakutan yang disebabkan oleh ancaman dan penggunaan kekerasan, atau persepsi tentang bahaya besar. Teroris merupakan instrumen utama untuk menimbulkan ketakutan ekstrem, baik pada individu atau kelompok yang ditargetkan. Sedangkan terorisme, apapun basis ideologinya adalah upaya intimidasi demi mengejar tujuan politik.

Bahkan dalam terorisme yang mengatasnamakan agama, ia tidak hanya ingin masuk surga, melainkan juga menguasai negara. Dalam pandangan mereka kulminasi agama adalah penaklukan dan penguasaan populasi untuk mewujudkan satu entitas negara, yang akhirnya menjadi alat kontrol bagi manusia lainnya.

Dalam sejarah Indonesia, pada tahun 2000-2009 aksi teror bersahutan. Ledakan bom di mana-mana. Terlebih pada awal milenium, pihak kepolisian serasa bangun tidur di tengah berbagai dentuman. Hingga akhirnya dibentuk “Satgas Bom” – yang kelak menjadi Densus 88 – berbagai aksi teror itu berhasil diiris satu per satu. Tahun 2004 Densus 88 terbentuk secara organik di bawah Mabes Polri.

Tapi terorisme juga mengenal momentum. Tidak semua teroris secara serampangan melakukan aksi terornya. Sejak tahun 2009 mereka mengubah strateginya. Mereka melakukan hibernasi dengan membangun kekuatan pelan-pelan, berusaha menggemukkan diri di bawah “gorong-gorong” yang disamarkan. Densus 88 berusaha mengimbangi ini. Ia bekerja senyap dan penuh konsentrasi, mengendusnya secara detil agar mereka tidak membesar.

UU Terorisme No 5/2018 memberi amanah kepada Densus 88 untuk menindak mereka meski belum melakukan aksi teror. Agar kita kelak tidak seperti bangun tidur ketika mereka membesar. Mereka diurai, “dipatahkan”, dan ditangkap untuk disadarkan agar tercipta ruang reintegrasi ideologi kebangsaan dan kemanusiaan.

Mereka yang menginginkan Densus 88 dibubarkan pada dasarnya adalah bagian dari mereka, secara langsung atau tidak. Saya teringat kalimat George Bush pasca 9/11; “you are either with us, or against us”. Tak ada alasan apapun untuk membiarkan radikalisme dan terorisme hidup di Indonesia, apalagi hanya untuk kepentingan elektoral dengan penghasutan dan kejahatan atas nama agama.

Sumber: https://www.facebook.com/groups/582525011844233/posts/4525033907593304/

(Suara Islam)

Loading...