Waspadai Gerak-gerik Jurnalis Kadrun, Ini Ciri-cirinya!

Ilustrasi

Meningkatnya pendidikan dan kepemilikan gelar serta pengalaman seseorang tidak menjadi jaminan baginya untuk menjadi pribadi yang moderat dan toleran. Termasuk di kalangan jurnalis, rekan seprofesi saya.

Selain ormas kadrun, ustadz kadrun, politisi kadrun dan artis selebritis kadrun, di sekitar kita juga ada jurnalis kadrun.

Sejak zaman grup milis Yahoo, awal 2000an, saya kenal sosok jurnalis senior, dosen sekolah jurnalistik, sempat mengecap pendidikan di luar negeri dan menulis banyak buku – tapi pro fundamemtalis. Kalau menurut ukuran sekarang, sudah jadi kadrun!

Masa itu, tulisannya – baik di grup milis maupun media massa – selalu sinis dan cenderung anti Gus Dur – anti Megawati, dan pro FPI. Pro Taliban. Pro penerapan syariat islam di berbagai daerah. Pro razia perempuan malam. Padahal dia ada pengalaman kerja di redaksi stasiun teve nasional. Pernah sekolah di Amerika juga.

Mereka yang sudah terpapar oleh ideologi fundamentalis dan militan (kadrun) cenderung menggunakan keahlian dan kapasitas intelektualnya untuk ideologinya itu.

Ciri ciri kadrun era 2000-an, anti Amerika pro Taliban. Sosok heronya Osama bin Laden.

Sedangkan kadrun masa kini (2020-an) cenderung AntiChina, pro Timur Tengah dan Turki. Sosok heronya, Presiden Erdogan.

MENGUTIP tulisan Agus Sudibyo, pakar jurnalistik, dalam buku “34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan”, dalam menjalankan tugasnya seorang jurnalis harus melakukan “depersonalisasi dan deideologisasi”. Artinya, saat melaporkan subyek berita dan narasumbernya, jurnalis mengendapkan kedekatan personal, dan sentimen agama serta ideologi dalam dirinya.

“Agama jurnalis adalah jurnalisme itu sendiri, ” kata Agus Sudibyo, Ketua Komisi Pengaduan di Dewan Pers, menyebut buku “Agama saya adalah Jurnalisme” karya Andre Harsono.

Merujuk pada sumpah dokter, dalam menolong pasien tak melihat apa agama dan partai yang dianut pasiennya. Panggilan tugasnya adalah menyelamatkan nyawa pasien. Titik. Demikian halnya jurnalis.

Sedangkan Kadrun is kadrun.

Dalam peliputan dan penulisan, jurnalis kadrun selalu ‘sensi’ terhadap Islam. Memastikan liputannya tidak merugikan Islam, mendzalimi Islam, menyudutkan kelompok Islam, dst.

Dalam persepsi jurnalis Kadrun, umat Islam Indonesia saat ini sedang terancam, disudutkan, dipinggirkan. Ulama ulamanya dikriminalisasi dan dianiaya. Agama Islam dalam bahaya. Ada Islamophobia – ajaran Islam diserang. Bahaya liberal – sekular anti Islam. Umat perlu diselematkan.

Kosa katanya tak jauh dari itu. Dipompa terus sehingga yang kurang literasi termakan.

Jurnalis kadrun, yang bekerja di media umum – bukan media radikal – mengabaikan fakta bahwa 87 persen WNI adalah muslim, penganut Islam. Presiden dan Wakil Presidennya Islam (bahkan ulama), Ketua DPR dan MPR-nya Islam, Menhankam dan Menko Polhukamnya Islam. Panglima TNI dan Kapolri-nya Islam, Menkeu dan Menlunya Islam.

Mereka membangun sentimen anti China dan anti Komunis. Komunisme bangkit dan akan merebut lekuasaan. Mereka masuk perangkap kampanye Amerika yang sedang perang dagang dengan China. Amerika yang pro Arab Wahabi. Jadi proxy.

JURNALIS kadrun ada dalam semua level. Semua strata sosial dan pendidikan. Ilmu jurnalistik yang dikuasai, hanya alat dan perangkat bagi mereka. Pengabdian total diri mereka ada pada agama dan ideologi antitoleran yang sudah merasuk ke tulang sungsum mereka.

Kita sama sama tahu bahwa dr. Azahari bin Husin, teroris Malaysia yang lama mengacau di Indonesia bersama Noordin Top, beberapa tahun lalu, adalah pemegang gelar doktor dan Ph.D., pengajar di Universitas Teknologi Malaysia. Lulusan luar negeri, yakni Australia dan Inggris.

Setinggi tinginya pendidikan dan kecerdasannya jika sudah terpapar ideologi militan kadrun sangat membahayakan.

BUMN BUMN seperti Telkomsel dan Pertamina pun kini banyak disusupi kadrun. TNI dan ASN juga. Mereka sudah jadi kader sejak masih di kampus kampus negeri. Sudah jadi zombie agama.

Bahkan lembaga superbody seperti KPK selama bertahun tahun ceramah rohaninya diisi oleh ustadz kadrun, padahal ijazahnya abal abal dan tukang adu ayam. Ideologinya antitoleran, celotehannya selalu sinis pada pemerintah.

Sumber : FB Supriyanto Martosuwito

(Suara Islam)

Loading...