Tokoh Agama Masuk ke Gereja Adalah Hal Lumrah

Tokoh agama masuk ke Gereja dan menyampaikan ucapan selamat hari raya besar umat Kristen di negara Arab itu lumrah, seperti di Mesir dan Dubai.

Masalahnya mereka yang masuk kesana adalah tokoh punya otoritas, seperti Grand Syeikh Al-Azhar dan jajarannya.

Dulu Gus Dur pun keluar masuk gereja memangku otoritas yang melekat, ketum PBNU atau mantan Ketum PBNU.

Masalahnya Gus Miftah hadir memangku otoritas apa, apakah ditunjuk Anis Baswedan atau diminta pihak Gereja. Hemat saya melihat jejaring perkawanan Gus Miftah, ia diminta Anis sebagai perwakilan Agamawan.

Kalau seperti itu, mestinya ia tidak membawa label NU, untuk wilayah DKI, otoritas keagamaan yang mewakili lebih tepat kalau Ketua PW NU DKI, pengurus wilayah Muhammadiyah DKI, kalau tidak langsung pengurus PB mereka.

Kenapa seyogyanya harus tokoh dengan otoritas yang datang? Supaya tidak menjadi contoh buruk yang membuat semakin banyak orang latah, sok-sokan pluralis dan toleran. Tidak sembarang ustadz yang boleh hilir mudik masuk gereja, apalagi bocah ormas keremajaan atau kepemudaan yang masih harus belajar agama lebih intens.

Karena selain perlu menata hati sebab ini menyangkut akidah, toleransi itu memerlukan ilmu fikih yang lebih rumit dibanding bidang muamalah yang lain.

Seperti dalam banyak video adegan membayakan yang disertai hot Line “adegan membahayakan hanya boleh dilakukan ahli atau didampingi oleh profesional”, demikian juga sikap kita dalam bertoleransi.

Ini hanya perspektif, Anda boleh tidak setuju tanpa mereport akun saya ke pihak Facebook .

Ahmad Tsauri

Sumber: https://www.facebook.com/1804176800/posts/10215375369496493/

(Suara Islam)

Loading...