Terorisme Karena Konten Medsos?

Ilustrasi Kelompok Teror di Media Sosial (Foto: bengkuluinteraktif.com)

Pagi mruput pukul 05.30 tadi diajak live di Metro Pagi Prime time ditanya keterkaitan tindak terorisme yang dilakukan oleh anak muda yang menurut beberapa pernyataan hal tersebut disebabkan karena konten media sosial.
Benarkah?

Meskipun media sosial punya peran, tapi media sosial bukan akar masalah. Buletin Isis bisa diakses secara terbuka, juga video pemenggalan dan konten pembuatan bom yang dulu ada di Youtube sebagai bagian dari propaganda, kini berpindah ke grup-grup Telegram. Film Jihad Selfie karya Noor Huda Ismail menggambarkan para mahasiswa yang terpacu maskulinitasnya melihat konten-konten kekerasan dan berjejaring secara intens serta dibaiat lewat Facebook.

Tapi, hanya menyebut-nyebut media sosial sebagai penyebab, akan membuat kita menyederhanakan persoalan dan justru gagal dalam mengatasi akar masalah. Media sosial adalah trigger dan fasilitas propaganda, tapi bukan root cause.

Perjalanan seseorang hingga sampai pada tahap mendukung tindak teror adalah sesuatu yang kompleks, yang selalu diawali dari satu bab kejenuhan dalam hidupnya.

Saya berikan tiga contoh kasus.

1. Seorang anak muda yang bapaknya gantung diri karena hutang, kemudian ditinggal ibunya bertahun-tahun menjadi TKI tanpa kabar dan ternyata sudah menikah lagi. Hidupnya kesepian hanya bersama kakek yang sudah disabilitas dan tak punya teman. Anak muda ini lalu diisi kesepiannya ketika bertemu dengan seseorang yang membawanya ke sebuah “pengajian”. Di sanalah, kekosongan batinnya diisi dengan narasi-narasi ketidakadilan yang dilakukan oleh negara yang membuat banyak orang termasuk dirinya hidup dalam kesulitan. Proses pengisian ini terus menerus dilakukan hingga membangkitkan kemarahan, sambil diputarkan dokumenter-dokumenter penyiksaan umat muslim di negara lain yang sebetulnya jauh konteks dengan pengalaman yang bersangkutan.

2. Seorang remaja dari keluarga yang cukup sejahtera. Sehari-hari cukup akses ke media sosial. Saking kritisnya, ia justru sedang mempertanyakan apa yang bisa ia lakukan di masa depan. Tapi, keluarganya seluruhnya sibuk. Pertanyaannya itu disambut dengan seseorang di media sosial yang mengajaknya mengobrol dengan bahasa Inggris dari negeri yang jauh. Ia mengatakan bahwa ada satu negeri yang indah yang harus ia kunjungi bersama keluarga sebab tanah ini adalah tanah yang dijanjikan dan tak ada kesusahan di sana.

Kasus kedua ini kisah nyata. Si remaja benar-benar pergi bersama belasan anggota keluarganya ke Syria dengan dana sendiri, lalu mendapati bahwa negeri indah yang digambarkan itu ternyata tidak ada. Mereka tinggal di camp yang sangat kotor, sulit mengakses air bersih dan diperlakukan dengan sangat tidak terhormat. Hingga kemudian mendapat cara untuk pulang kembali ke Indonesia.

3. Buruh migran perempuan lajang dan kesepian di negeri yang jauh. Setiap hari dia diinternalisasi bahwa uang yang ia dapatkan itu tidak halal karena hasil bekerja di negeri kafir. Perasaannya juga disentuh. Ia dijanjikan bisa menikah dengan seorang “ustaz” dengan segera sehingga ia bisa menjadi istri sekaligus menebus dosa-dosa yang ada dalam dirinya. Kasus buruh migran yang terpapar ekstremisme membuat target punya peran sebagai pemberi dana (dari gaji mereka yang disisihkan), menjadi agen untuk meradikalisasi teman yang lain, hingga jadi calon “pengantin” bom.

Kok sepertinya kata kuncinya selalu kesepian? Ya benar. Baik kesepian secara “nyata”, maupun kesepian secara intelektual. Kesepian secara intelektual membuat seseorang menjadi gumunan. Ada seorang kawan yang dulu sangat cerdas matematika di sekolah, kini sedang sangat gumunan ketika terpapar cerita-cerita penegakan khilafah.
Setiap hari ia berkisah tentang sejarah dunia dalam versinya dengan perasaan paling tahu seolah-olah itulah yang paling benar, padahal informasi yang ia bagikan sesungguhnya sangat menggelikan jika ia tahu referensi-referensi lain yang lebih luas. Kesepian diri dan kesepian intelektualnya diberi apresiasi dalam kelompok yang memberikan ilusi kepada dirinya bahwa seolah-olah dirinya adalah orang penting, pemimpin, dan bagian dari perjuangan global.

Dari ketiga kasus di atas, ada beberapa pembelajaran.

Meskipun data tentang perilaku intoleransi hingga ekstremisme amat melimpah, tetapi kita tetap perlu data yang benar-benar jelas untuk mengklasifikasi banyak hal.

Misalnya, klasifikasi mereka yang baru proses terpapar, mereka yang sudah terpapar dan punya ketertarikan kepada tindak kekerasan, dan mereka yang memang sudah mendukung dan ikut melakukan propaganda secara terbuka untuk tindak teror.

Selain itu setiap persoalan juga perlu solusi yang berbeda. Seseorang yang teradikalisasi karena isu ekonomi, perlu diadvokasi dengan pemberdayaan ekonomi. Seseorang yang teradikalisasi karena putus cinta dan kesepian, perlu diadvokasi sesuai masalahnya. Sambil terus memastikan kontra narasi ideologi yang telah terlanjur ia internalisasi. Inilah sebabnya pendampingan negara dan CSO kepada tiap-tiap manusia menjadi rumit. Sedangkan, kelompok-kelompok ekstrem memang selalu siap untuk terus ada bersama mereka.

Intervensi negara dalam melihat paparan konten kekerasan berbasis agama di media sosial lebih baik diletakkan dalam konteks dukungan untuk produksi konten-konten Islam damai dan Islam berkemajuan di media digital. Tentu kerja-kerja menyisir grup/ kelompok-kelompok ekstrem di Facebook hingga Telegram mesti terus dilanjutkan.

Tapi, jika kontrol yang dimaksud adalah pembatasan, blokir dan terbitnya aturan baru yang sembrono, justru akan memberikan dampak yang buruk buat demokrasi.

Kalis Mardiasih

Sumber: https://www.facebook.com/kalis.mardiasih/posts/10218320206268879

(Suara Islam)

Loading...