Terorisme dan Bisnis Syariah Bodong Semakin Merusak Citra Islam

Kita mungkin akrab dengan diktum sederhana, bahwa Islam itu suci, tapi tidak dengan pemeluknya. Islam suci karena ia datang dari Allah secara langsung melalui utusan-Nya yang ma’shum. Sementara pemeluknya adalah hamba, adalah manusia, yang tak bisa lepas dari lupa, alpa, dan dosa.

Jadi secara sederhana saja, sebenarnya sangatlah berat bagi manusia yang tak luput dari salah dan dosa itu untuk memikul dan melaksanakan pesan-pesan Islam yang selamanya akan tetap suci itu. Itulah kenapa umat Islam selalu membaca ihdinash shiratal mustaqim, meminta petunjuk ke jalan yang lurus karena potensi salah, luput, dan dosa selalu menghantui umat manusia.

Artinya, mungkin saja, pada titik tertentu, manusia tertentu “memaksakan” diri mengatasnamakan Islam namun sebenarnya yang dilakukan itu menjadi penyebab lahirnya interpretasi buruk tentang Islam. Di tengah situasi dunia yang “digiring” untuk memuluskan hajat “Islamophobia” di berbagai negara di dunia, sebagian pemeluknya justru kerap memaksakam diri menggunakan diksi atas nama Islam yang suci itu (syari’at atau syar’ie).

Apa contohnya? Dua hal “mengerikan” yang kerap terjadi di dunia modern saat ini, yaitu terorisme atas nama Islam dan kegiatan bisnis syar’ie, Islami, meski ujung-ujungnya bodong karena sama sekali tak sesuai dengan prinsip-prinsip, value dalam Islam, termasuk tidak masuk akal dari sisi prinsip-prinsip keuangan.

Masalahnya, ketika agama sudah dibawa-bawa, tak banyak yang bisa menolaknya. Melakukannya, bahkan, dianggap suci juga. Agama dijadikan alasan sekaligus kekuatan munculnya ketakutan untuk melakukan perilaku tertentu, meski sebenarnya menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Kita bisa berdebat panjang lebar soal ini, tapi rerata orang akan berpikir ulang jika sudah mendengar “demi agama”, meski yang “demi” itu adalah interpretasi dan tafsir manusia yang, kadang masih, ditafsirkan ulang sesuai kehendak dan rasa suka.

Pertama, terorisme. Soal ini sebenarnya harus dilepaskan dari agama tertentu karena faktanya, terorisme bukan bagian dari ajaran agama manapun. Tapi kita juga tak bisa memungkiri fakta yang lainnya, bahwa umat Islam banyak yang terlibat dalam kasus terorisme. Entah sudah berapa kali bom meledak di negeri ini, tak sulit mencarinya. Mbah Google sangat bisa memberikan informasi selengkapnya.

Kalau kita sepakat, bahwa terorisme adalah musuh bersama yang tidak menjadi bagian dari ajaran agama Islam, tulisan ini tidak untuk mengulasnya lagi. Tidak juga untuk mengulas bagaimana mereka melakukan perekrutan dan brain storming terhadap otak para pelaku. Bahasan itu terlalu “berat” bagi penulis yang tak mau sok paham tentang itu.

Tapi yang jelas, tindakan terorisme bukan ajaran Islam yang rahmat. Apalagi dalam setiap kali peristiwa terorisme terjadi selalu ada kaitannya dengan gerakan internasional, yang dimodali dan dibiayai. Dipersiapkan untuk menjadi pengantin yang siap mandi dari air yang mengalir di taman surga, begitu katanya.

Tulisan ini pun tidak untuk menghakimi “nasib” para pelaku di akhirat kelak, karena yang jelas, dosa terbesar ada pada “para penyuruhnya” yang menjual agama atas kepentingannya. Sebab andai saja benar apa “yang dijanjikan” oleh ayat atau hadis yang mereka yakini, tentulah para petingginya yang akan melakukan pertama kali, bukan mencari orang untuk melakukan tindakan terorisme dengan meledakkan diri sendiri.

Jelas tindakan terorisme yang dilakukan oleh segelintir umat Islam itu sangat merugikan bagi Islam sebagai sebuah agama karena yang rusak Islam sebuah sebuah agama. Maka, kita pun tak bisa memungkiri, bahwa ketakutan terhadap Islam, justru diprakarsai oleh segelintir penganutnya yang merasa paling Islam dan paling benar dalam menjalankan agama.

Islam yang rahmat tercoreng karena perilaku mereka yang menyimpang dari keluhuran nilai-nilai beragama. Tak hanya semakin tercoreng, saudara umat Islam yang lain juga ikut tertarik dalam pusaran mengerikan yang tak semestinya terjadi. Sederhananya, “kekhawatiran” berlebihan terhadap cadar dan cingkrang yang muncul akhir-akhir ini, salah satunya, disebabkan oleh kebiasaan para teroris menggunakan cadar dan cingkrang saat melakukan aksi.

Dengan realitas seperti itu, menyedihkan bagi kita ketika melihat umat Islam yang benar-benar murni melaksanakan ajaran agamanya dengan cara bercadar dan cingkrang, kemudian ikut menjadi “tertuduh” dan hidup dalam kewaspadaan serta kecurigaan orang lain hanya karena saudara seagamanya memiliki keyakinan berbeda: ekstrim dan radikal lalu menjadi bagian dari gerakan terorisme.

Andai saja saat mereka melakukan tindakan terorisme tidak menggunakan cadar atau celana cingkrang, barangkali tak terlalu berakibat fatal. Kalau perlu gunakan saja baju tank top, baju-baju you can see, saat melakukan aksi. Tampil saja secara berani, toh, data diri mereka juga akan terbongkar oleh negara, pada akhirnya. Seru kali ya!

Lah, ini. Dalam setiap kejadian, pelaku perempuannya bercadar dan pelaku prianya bercingkrang juga. Berjenggot pula. Klop. Sinisme dan apatisme terhadap mereka yang bercadar dan bercingkrang semakin menguat, padahal banyak umat Islam yang lain yang secara tulus dan murni hanya ingin menjalankan perintah agamanya. Tak lebih dan tak kurang.

Mereka bercadar, bercingkrang, memelihara jenggot, dan simbol-simbol keislaman lainnya memang murni untuk menjalankan ajaran Islam yang diyakininya, tanpa berperilaku ekstrim dan radikal, kemudian ikut menderita dan menanggung beban karena ulah saudara seimannya yang “tergelincir” dan menjadi kaku dalam memahami teks agama sehingga memilih menjadi ekstrim ekstrimis.

Kedua, apa saja kalau sudah menjadikan agama sebagai bagian dari promosi dalam bisnis, akan mudah diterima, bahkan diapresiasi. Apalagi ditambah dengan narasi-narasi menggugah soal kepatuhan beragama, syar’i, demi Islam, menjalankan Islam yang kaffah, beramal demi agama, padahal tujuan sebenarnya adalah murni bisnis semata. Termasuk di dalamnya investasi, simpan pinjam, travel dan pariwisata syar’i, dan lain sebagainya.

Kembali pada Islam yang kaffah. Tidak ada bunga. Tidak ada riba. Kerap menjadi jualan manis pelipur lara sembari menjelekkan Bank Konvensional, bahkan yang sesama syari’ah tapi tak sesuai dengan madzhab mereka.

Sebagai orang Islam, semangat untuk Islamisasi adalah keniscayaan. Perekonomian berdasarkan prinsip-prinsip keislaman harus menjadi solusi untuk menghadapi kapitalisme, sosialisme, serta isme perekonomian lain yang tak kunjung menjadi solusi. Islam harus menjadi solusi dari perekonomian dunia, karena Islam memiliki sejarah manis tentang semua itu.

Muncullah kemudian istilah ekonomi syari’ah, yang mampu melepaskan diri dari kungkungan riba, ketidak adilan, dan ketimpangan. Sebagai turunannya, muncul juga kemudian bisnis-bisnis syar’i yang kini banyak ditemui. Investasi syari’ah, travel dan pariwisata dengan pengelolaan syar’i, hotel syar’i, bahkan pakain syar’i. Semuanya serba syar’i, termasuk respon Bank konvensional yang kemudian membuat versi syari’ah seperti BCA Syari’ah, BNI Syari’ah, BRI Syari’ah, dan lain sebagainya.

Permasalahannya adalah, semangat kebangkitan ekonomi Islam itu dirusak oleh oknum-oknum tertentu yang kerap menjual istilah syari’ah padahal tujuan utamanya lebih cenderung mendekati serakah. Tipu-tipu menggunakan diksi dan iklan yang “suci” tapi aslinya tak lebih profesional dibandingkan yang konvensional.

Apa contohnya? Baru saja, Polda Metro menangkap pengembang Rumah Syariah yang menggelapkan uang sekitar 23 miliar. Iklannya sama, tanpa bunga dan bersih dari praktik riba. Penangkapan ini tak berapa lama setelah publik dikagetkan dengan kejadian serupa, yaitu bisnis investasi Kampoeng Kurma. Meski diakui tak ada embel-embel syari’ah disitu, tapi melalui promosi iklan habis-habisan di medsos serta penggunaan tokoh-tokoh agama dalam meng-endorse (seperti alm. Ustad Arifin Ilham dan Ust. Ali Jaber) menjadi nilai jual tersendiri dalam menggaet “korban”.

Di kampung-kampung, bahkan mulai menjamur lembaga-lembaga keuangan yang menjual semangat memurnikan muamalah dari praktik ribawi dan bersih dari bunga. Entah itu berupa simpan-pinjaman, tabungan haji, tabungan umum, dll. Namun dari beberapa cerita pengalaman teman, tetangga, dan kisah lain yang didengar penulis, ada beberapa keluhan, diantaranya soal bagi hasil yang dianggap tidak proporsional dan adil, profesionalitas kerja, serta sedekah atau infaq atau apapun istilahnya yang bahkan lebih tinggi dari bunga Bank konvensional.

Sempat viral keluhan-keluhan dari anggota beberapa BMT di medsos beberapa waktu lalu. Anehnya, mereka yang mempertanyakan hak dan kejelasan justeru diserang karena dianggap meragukan lembaga BMT yang kebetulan “bernama” dan bonafid, lebih jauh dianggap tidak mempercayai ajaran-ajaran Islam dalam konteks muamalah. Padahal mereka, kan, hanya ingin mendapatkan jawaban kenapa “iurannya” justeru lebih tinggi dibandingkan bunga Bank.

Jadi, pada titik inilah sebenarnya yang perlu diluruskan kembali, bahwa sangat tidak dianjurkan untuk terlalu mudah memercayai bisnis yang menggunakan embel-embel syari’ah sebagaimana tidak disarankan juga untuk terlalu gampang percaya, bahwa yang berbau syari’ah tidak terlalu meyakinkan karena banyak contoh dan bukti yang menjelaskan, bahwa bisnis syari’ah itu jauh lebih berkah.

Artinya begini, kita percaya, bahwa soal terorisme dan bisnis bodong berbau syari’ah itu adalah perilaku oknum. Namun, janganlah terlalu mudah membawa label syari’ah karena tanggung jawabnya sangatlah berat. Salah sedikit, tidak hanya perusahaan yang rugi tapi akan menyasar secara umum terhadap Islam sebagai sebuah agama. Islam akan semakin jelek dan dianggap buruk karena perilaku pemeluknya yang mengatasnamakan Islam hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Padahal Islam mengatur sedemikian jelasnya bagaimana muamalah yang sesuai dengan syari’ah itu. Semuanya sudah lengkap dalam fiqih muamalah dengan berbagai pandangan dari ulama’ dan pemikir yang bisa dipertanggungjawabkan secara agama, keilmuan, dan moral.

Menginginkan muamalah, bisnis, usaha, dan investasi yang sesuai dengan syari’ah adalah sebuah keniscsyaan bagi seorang muslim, tapi sekali embel-embel syari’ah itu disematkan, maka berusahalah untuk melakukannya dengan baik dan benar sesuai aturan. Jangan hanya mempergunakan kata syari’ah untuk meraup klien dan demi keuntungan bisnis semata. Begitu pula dengan terorisme yang semakin mengerikan.

Bagaimana mungkin berbicara soal syari’ah dan demi kemajuan Islam, sementara pada praktiknya si beberapa tempat) jauh lebih “barbar” dibandingkan sesuatu sering dicap sebagai sistem gagal? Kalau mau jahat, jahat saja. Tak perluencari dalil dalam Islam karena tak akan ditemukan. Kalau mau menipu, menipu saja. Tak perlu istilah investasi syari’ah yang pada akhirnya bodong.

Teroris, berhentilah menggunakan narasi agama sebagai alasan dan pembela. Para pengusaha di bidang syari’ah, berhentilah menggunakan embel-embel Islam jika pada praktiknya tidak mampu memberikan jawaban terhadap permasalahan. Jika tidak demikian, “Anda berdua” justeru akan semakin merusak citra Islam.

Bertarunglah secara jantan. Dalam dunia ideologi atau perrkonomian. Jangan memanfaatkan situasi psikologis massa dengan menawarkan “label syari’ah” yang pada akhirnya bodong atau tak perlu menempelkan label keislaman untuk memberikan justifikasi atas tindakan terorisme yang dilakukan.

Kita masih percaya, bahwa mayoritas Muslim memiliki laku keagamaan yang benar. Banyak yang masih bisa jadikan sebagai rujukan dalam beragama maupun berbisnis sesuai dengan syariah yang lurus. Sisanya adalah penipuan dan keserakahan atas dalil dan prinsip beragama yang diselewengkan. Mereka itulah oknum, yang ssbenarnya sangat merusak Islam dari dalam. Semoga kita semua terselamatkan. mn.

Salam,
Mustafa Afif
Kuli Besi Tua

(kompasiana/suaraislam)