Terorisme dan Agama

Ilustrasi (Foto: Antara/M Agung Rajasa)

Pasca aksi teror dalam bentuk bom bunuh diri yang menyasar gereja dan jemaat Gereja Kederal Makassar pada hari Minggu, 28 Maret 2021 lalu, Presiden Jokowi mengeluarkan pernyataan yang di dalamnya terdapat narasi bahwa “Terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan agama apapun. Semua ajaran agama menolak terorisme, apapun alasannya”. Narasi yang diucapkan oleh Presiden Jokowi ini sama persis dengan narasi yang juga diucapkan oleh Pak Jokowi saat terjadi bom gereja di Surabaya pada tahun 2018 lalu.

Sama dengan reaksi publik di tahun 2018, reaksi yang sama – dan beragam – juga terjadi di tahun 2021, misalnya “coba lihat KTPnya apa”, atau “meninggalnya dimakamkan dengan cara apa”, atau “saat melakukan aksi teror, pelakunya memakai pakaian apa”, bahkan ada reaksi-reaksi yang bermain di ranah konspirasi seperti “ah, mungkin saja pelakunya sengaja memakai pakaian seperti itu untuk memojokkan agama tertentu’.

Pertanyaan yang selalu muncul dalam tiap aksi teror yang terjadi di Indonesia adalah: apakah benar tidak ada kaitan sama sekali antara agama dan terorisme, seperti yang dikatakan oleh Jokowi?

Agar kita bisa menganalisis apakah ada hubungan antara agama dan terorisme maka kita harus berangkat dari pemahaman bahwa terorisme adalah taktik atau alat untuk mencapai sebuah tujuan. Dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengatakan bahwa ‘terrorism is a means to and end, and not the end itself”. Oleh karena itu maka baik negara (state) atau aktor non-negara (non-state actors) atau organisasi/kelompok yang bisa memakai teror untuk mencapai tujuannya.

Terorisme tradisional mengenal ada 3 kategori terorisme: Kiri, Kanan dan Etnis-Separatis. Kelompok kiri cenderung berlandaskan pada tujuan-tujuan berdasarkan ideologi anarkisme, marksisme dan sosialisme. Kelompok kanan cenderung berlandaskan pada tujuan berdasarkan ideologi supremasi ras, fasisme dan nasionalistik. Sedangkan kelompok etnis-separatis bisanya bertujuan untuk melawan ‘penjajah’ dan menciptakan negara berdasarkan identitas etnis. Terorisme tradisional bisa juga disebut sebagai terorisme lama.

Pasca perang dingin, dunia melihat adanya pola terorisme baru, yang kemudian dikenal dengan sebutan “religious-motivated terrorism” alias terorisme yang dimotivasi oleh agama.

Ada tiga ciri yang terdapat dalam terorisme yang dimotivasi oleh agama ini. Yang pertama adalah ciri-ciri apokaliptik. Kelompok teroris dengan ciri ini pada intinya ingin menciptakan dunia baru yang hanya bisa dicapai dengan menghancurkan dunia sekarang. Kelompok Gush Emunim di Israel atau kelompok Aum Shinrikyo di Jepang adalah contoh kelompok yang percaya bahwa dunia harus hancur barulah ada kehidupan yang baru.

Yang kedua adalah kelompok teror yang dimotivasi oleh agama untuk menciptakan pemerintahan berdasarkan agama. Tujuan mereka adalah menghilangkan sekularisme dalam negara dan menggantinya dengan negara yang berdasarkan atas hukum dan doktrin agama, serta sebisa mungkin menciptakan pemerintahan kawasan yang berdasarkan agama. Bagi kelompok ini, minoritas silahkan tinggal di dalam negara yang mereka ciptakan, tapi harus tunduk pada aturan yang mereka ciptakan yang berdasarkan agama. Al Qaida dan Jamaah Islamiyah adalah contoh kelompok teror yang dimotivasi oleh agama untuk menciptakan pemerintahan berdasarkan agama.

Yang terakhir adalah kelompok teror yang dimotivasi oleh agama untuk melakukan pembersihan agama. Kelompok ini memakai teror untuk membersihkan orang atau kelompok yang dianggap berbeda agamanya, atau berbeda interpretasi agamanya dengan kelompoknya. Kalau kelompok kedua bisa mentolerir perbedaan sepanjang minoritas ikut aturan mereka, maka kelompok ketiga ini tidak mau menerima perbedaan sama sekali, termasuk dengan orang yang seagama namun punya pemikian atau interpretasi yang berbeda. ISIS adalah contoh kelompok ini yang membunuh orang yang dianggap berbeda tafsir dan interpretasi mereka.

Kemudian, ada kesalahan persepsi bahwa kelompok teror yang dimotivasi oleh agama adalah orang-orang yang mengerti agama. Hal ini bukan ciri dari religiously-motivated terrorism. Para Wijayanto yang merupakan amir Jamaah Islamiyah itu bukanlah seorang tokoh agama atau orang yang sangat mengerti agama. Ali Kalora juga bukan seorang dengan pendidikan agama yang kuat. Rata-rata, kelompok ini memilih pemimpin karena kombinasi beberapa faktor, dan tidak melulu karena kemampuan keagamaannya.

Selanjutnya, terorisme yang dimotivasi oleh agama ini pun punya 2 target spesifi: target taktis, dan target simbolik. Target taktis adalah target yang bisa membuat mereka meraih posisi yang lebih baik dalam aksi mereka, JAD di Indonesia misalnya mentargetkan polisi dan/atau pos polisi, atau mentargetkan Presiden atau menteri, seperti penyerangan Pak Wiranto beberapa waktu lalu. Namun, karena dimotivasi oleh agama, maka mereka juga punya target simbolik yang abstrak, misalnya rumah ibadah, atau praktik-praktik tradisi, adat dan budaya.

Nah, dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa:

1. Adalah benar bahwa semua agama menolak terorisme, seperti kata Pak Jokowi. Akan tetapi, ada terorisme yang dimotivasi oleh agama. Oleh karena itu maka peran agama di Indonesia itu penting dalam mencegah kelompok-kelompok untuk memakai agama sebagai motivasi melakukan aksi teror dan/atau mengembangkan ideologi radikal terorisme.

2. Teror pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Ada kelompok teror (yang dimotivasi oleh agama) yang ingin menciptakan negara yang berdasarkan atas agama tertentu, dengan memakai teror. Tapi, karena tujuannya adalah politik kekuasaan, maka jika mereka bisa meraihnya lewat aksi-aksi non-teror, misalnya dengan menjadi partai politik dan mendominasi mayoritas suara di legislatif, maka tujuan mereka tercapai.

3. Kenapa gereja atau kenapa Polisi yang diserang? Karena gereja adalah target simbolis, sedangkan polisi adalah target taktis dari terorisme yang dimotivasi oleh agama.

Alto L

Sumber: https://www.facebook.com/1283835646/posts/10225499364972708/

(Suara Islam)

Loading...