Terorisme dalam Game

Banyak organisasi teroris global seperti ISIS yang mulai melakukan radikalisasi dengan target anak muda atau generasi milenial. Menurut para pakar intelijen AS, sekitar 1000 pejuang asing bergabung dengan ISIS setiap bulan. Sedangkan di Indonesia sekitar 700 WNI bergabung dengan ISIS. Banyak dari mereka berumur 24 – 40.

Penargetan kelompok teroris kepada kaum milenial adalah salah satu tujuan mereka setelah adanya seruan jihad 3.0 (online jihad). Kelompok ekstremis ini menggunakan teknologi modern dan Internet sebagai sarana utama untuk memengaruhi orang lain. Bagi para teroris itu sendiri, internet merupakan media baru yang secara kolektif merupakan alat transformatif yang menawarkan kemungkinan tak terbatas untuk komunikasi dan ekspansi.

Dengan dominasi penggunaan internet di kalangan anak muda, kelompok ekstrimis mengemas kontennya dengan gaya milenial, baik dari segi visual, tata bahasa maupun suara. Game adalah salah satunya. Melakukan radikalisasi dalam video games adalah salah satu cara efektif untuk menyebarkan ideologi mereka. Dalam perkembangannya video games telah berevolusi sangat cepat yang berimbas pada pertambahan pesat gamer di seluruh dunia.

Jumlah Pemain Game Mencapai 3.5 Milyar

Dari laporan Digital 2020: Global Digital Overview yang dirilis oleh DataReportal pada bulan Januari 2020, dijelaskan bahwa sekitar 59% dari total populasi dunia yaitu 7.75 milyar adalah pengguna internet aktif. Jika kita kalkulasikan, pada awal 2020 pengguna internet di seluruh dunia telah mencapai angka 4.5 milyar.

Dari angka populasi pengguna internet tersebut, lebih dari 4 – 5 pengguna internet berusia 16 hingga 64 di seluruh dunia bermain video game setiap bulan, artinya ada sekitar 3.5 milyar lebih gamer aktif setiap bulannya. Mayoritas gamer bermain game di smartphone mereka (69 persen dari total pengguna internet), tetapi sisanya bermain game di konsol game khusus dan juga komputer.

Para gamer bahkan bersedia mengeluarkan sejumlah uang untuk sebuah game. NewZoo melaporkan bahwa para gamer menghabiskan lebih dari US $ 150 miliar untuk game pada 2019, meningkat hampir 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian pula, Statista melaporkan bahwa pengguna internet menghabiskan lebih dari US $ 83 miliar untuk pembelian game online pada tahun 2019, naik sekitar 5 persen tahun-ke-tahun. Dan dalam laporan appannie.com pengguna seluler di dunia menghabiskan lebih dari US $ 65 miliar untuk aplikasi game.

jumlah dan statistik pengguna aplikasi mobile di dunia

Narasi Teror Dalam Game

Sekarang ini, kita tidak hanya disodorkan kualitas visual graphic dan berbagai permainan interaktif saja, tetapi banyak dari mereka yang memiliki sistem komunikasi antar pemain, system jual beli dalam game dan pengalaman bermain role playing (memainkan karakter dalam game seperti di dunia nyata).

Sehubungan dengan video game dan terorisme, banyak game yang bertemakan isu-isu terkait teroris, terutama game “Perang Melawan Teror” seperti Counter-strike, Call Of Duty, Medal of Honor dan lain sebagainya. Tetapi ada juga beberapa game yang sengaja dibuat dengan narasi teror. Pada tahun 2006, kelompok Al-Qaeda membuat perubahan pada game first person shooter (FPS) bernama Quest for Saddam (2003) dan mengubahnya menjadi game lain yang disebut Quest for Bush . Tujuan dari permainan aslinya adalah untuk membunuh tentara Irak dan menangkap Saddam Hussein, sedangkan Al-Qaeda sepenuhnya membalikkan peran para pemain.

Game Teroris Quest For Bush
Game Quest for Bush

Dalam cloning game buatan Al-Qaeda, misi para pemain adalah membunuh tentara Amerika dan menangkan George Bush (presiden amerika waktu itu). Selanjutnya seorang seniman berdarah Amerika Irak bernama Wafaa Bilal, mengadaptasi game buatan Al-Qaeda tersebut dan menciptakan cerita baru, game yang dinamakan Night of Bush Capturing: A Virtual Jihadi (2008) itu memposisikan player sebagai seorang pembom bunuh diri yang bertujuan untuk membunuh presiden Amerika Serikat.

Game Teroris Virutal Jihadi Wafaa Bilal
Wafaa Bilal Virtual Jihadi

Propaganda Teroris Dalam Game Online Multiplayer

Dalam game online yang sangat digemari kaum milenilai juga tak lepas dari unsur-unsur ideologi teror. Dalam game multiplayer bernama ARMA 3: Takistan Life menyajikan permainan role player atau karakter buatan di dalam game. Player dapat memilih akan memainkan karakter sebagai warga sipil, militer, pemberontak, atau bahkan teroris. Sebuah tulisan yang dimuat di thehmm.nl oleh Salvador Miranda menceritakan pengalaman bermain game ARMA 3: Takistan Life dan memainkan role play teroris dan juga victims (korban).

Cuplikan beberapa adegan di dalam game

Ia mengatakan bahwa histori dari beberapa aksi terorisme diulang kembali, dimulai dari peristiwa besar seperti 9/11pengeboman metro London 2005 dan serangan Thalyst 2015. Sampai peristiwa yang lebih umum seperti penembakan di bandara, pembajakan pesawat, dan serangan kepada pejalan kaki yang semuanya sekarang merupakan bagian dari gambaran umum tentang kegiatan terorisme.”

Adegan seperti peristiwa 911 dalam game
Salah satu aksi di dalam game seperti peristiwa 9/11
Bernegosiasi dengan teroris di dalam game
Bernegosiasi dengan teroris
Simulasi Teroris Training dalam game online
Simulasi training jihadi dalam game
Latihan Meledakan bom dengan detonator
Latihan pengeboman dengan detonator

Ia juga mengatakan: ”dalam beberapa permainan bertemakan role playing menawarkan pengalaman untuk mendalami karakter yang sedang dimainkan. Di permainan ini (Takistan Life) saya menemukan beberapa gamer/player berkomitmen penuh untuk bermain sebagai teroris, mengembangkan latar belakang dalam karakter dalam game mereka sendiri untuk melakukan radikalisasi, membenarkan motivasi mereka kepada pemain lain, dan terlibat dalam aksi terorisme.

Menurutnya ketika bermain role play dalam game, player akan meluangkan waktunya untuk mendalami identitas karakternya di dalam game, dan karakter palsu di dalam game tersebut bisa menjadi lebih dari sekedar simbol. Hal ini bisa menjadi perpanjangan ontologis dalam diri dan dimungkinkan akan berpengaruh pada kehidupan pribadinya.”

Didi Akhmadi

Sumber: https://carubannusantara.or.id/terorisme-dalam-game/

(Suara Islam)

Loading...