Teologi Syahid Rijikers, Sayyid Qutb, dan Bahayanya

Ilustrasi

Saat Rizieq Shihab mengatakan bahwa apa yang menimpa pada enam pengikutnya yang membela dirinya (dia menyebut membela Islam) adalah mati syahid, hati saya tergidik. Apa yang salah dalam pengetahuan umat Islam akhir-akhir ini?
Tetapi, membayangkan agama tanpa kesalahan, tanpa politisasi ayat dan dunia tanpa kekerasan sungguh bayangan yang utopia. Sebagaimana membayangkan hati, diri, dan ketubuhan manusia terbebas dari kesalahan dan dosa.

Seruan mati syahid adalah bentuk dari politisasi ayat. Dan itu doktrin yang sangat fatalistik. Cukup banyak contoh-contoh separti yang dipraktikkan Rizieq Shihab. Namun seruan mati syahid ala Rizieq, di video yang viral itu, tampak jelas, bahwa sebenarnya hanya dijadikan temeng untuk mendinginkan sanubari pengikutnya. Dengan asumsi, bahwa siapapun mati karena membela Islam-Tuhan, itu mati syahid.

Siapa yang mati dalam keadaan syahid, langsung masuk syurga. Wih!

Orasi Rizieq Shihab dalam ceremahnya memancing jemaahnya, “Mau kebal apa mati syahid? “Syahid! jawab pengikutnya. “Mau kebal apa mati syahid? “Syahid! tambahnya. Lanjut, “Apa umat Islam perlu takut sama musuh? Siap berjuang? Siap mati di jalan Allah?” Siap! jawab pengikutnya keras. Kemudian Rizieq Shihab melanjutkan, “malam ini seorang pemuda mati karena bela Islam. Besok jutaan pemuda Islam akan bangkit kembali, akan menegakkan Islam di Indonesia! Angkat tanganmu saudara, Takbir! (Allah hu akbar) Takbir! (Allah hu Akbar) Takbir (Allah hu Akbar).

Miris! Melihat itu, umat Islam seperti mundur ribuan tahun ke belakang karena poros pengetahuan tokohnya yang dangkal. Bagaimana mungkin orang bisa mengatakan bahwa orang yang mati membela “dirinya”, dianggap membela Islam? Sedang dalam kasus Rizieq Shihab, ia lari dari kejaran polisi karena kasus kerumunan yang dibuatnya di Petamburan. Di sini, kita bisa lihat dan mengatakan bahwa sebagian muslim di Indonesia berada dalam kemunafikan, kepengecutan dan agama Islam berada dalam jerat kekerasan.

Teologi syahid yang digemborkan Rizieq Shihab, hampir mirip seperti yang dilakukan Sayyid Qutb dan pelaku bom bunuh diri di Indonesia. Bedanya, Rizieq Shihab tidak berkorban sendiri, melainkan dia cuma memprovokasi pengikutnya untuk mati syahid. Baik mati membela dirinya atau kelompoknya.

Teologi Syahid Fatalis

Kita mundur kebelakang untuk melihat sejarah teologi syahid yang pernah ada dalam sejarah gerakan politik Islam.

Saat Sayyid Qutb divonis mati bersama 40 pengikutnya, ia menerima hukuman mati itu dengan sukacita dan berterima kasih kepada Allah. Sayyid Qutb memilih menjalani hukuman mati–daripada hukuman lainnya—yang menurut pandangan dan keyakinannya sebagai jalan syahid (Abdul Munir Mulkhan, 2012).

Sayyid Qutb untuk mendapatkan kesyahidan tersebut setelah lebih dari 10 tahun berjuang dengan aksi-aksi kekerasan dan karya-karyanya, seolah ia menuai hasil dengan jalan syahid melalui hukuman mati tersebut (Lawrence Wright, 2011).

Pilihan heroik Sayyid Qutb, kemudian menuai aksi-aksi teroris dan gerakan radikal lainnya atas nama jihad di jalan Tuhan, yang dilakukan umat muslim untuk mendapatkan mati syahid seperti Sayyid Qutb. Bahkan, teologi apa yang disebut syahidisme itu, sampai sekarang sulit dipadamkan dan bahkan malah makin tebal.

Tafsir syahidisme ini cenderung melakukan kekerasan kepada mereka yang dianggap musuh (di Indonesia: sistem dan aparat), dan komunitas pemeluk agama lain yang mereka sebut sebagai kaum pagan dan kafir. Teologi syahid ini cenderung menempatkan kaum pagan dan kafir sebagai ancaman sebagaimana posisi kaum Nasrani dan Yahudi yang sering disebut salibis dan zionis. Persis seperti doktrin teologi Rizieq Shihab dan aktivis revivalis lainnya.

Teologi syahid Rizieq Shihab, yang termotivasi dari Ikhwanul Muslimin dan Salafi dari Mesir, sering mengagung-agungkan kekerasan atas nama jihad fi sabilillah. Doktrin mereka bersemai dalam gagasan pembangkitan negara Islam, di mana, daarus salam yang dijadikan syariah sebagai referensi utama, dan daarus harb yang menurut teologi syahidisme dikuasai kaum kafir.

Kelompok yang tidak ikut atau menolak gagasan mereka bahkan apabila mendukung segala apa yang digagas Barat, diposisikan sebagai daarus harb yang halal di bunuh dan hartanya halal dirampas.

Maka, tidak heran jika melihat gerakan FPI lewat komando Rizieq Shihab sering menggunakan yad, “tangan”, atau kekuatan atas nama agama, seperti merampas, men-sweeping dan aktivitas kekerasan lainnya, sehingga menyebabkan kesan agama Islam terlihat keras dan jahat.

Teologi syahid, atau syahidisme ala Rizieq Shihab, menjangkarkan pada tauhid yang menurutnya, juga pengikutnya, bisa mempersatukan umat Islam di dunia dan karena itu akan bisa membangun negara yang sesuai dengan Islam seperti zaman Rasul. Satu doktrin mati syahid yang salah tapi bermakna sehingga memiliki daya Tarik kekuatan untuk memantik-mengelabuhi hati anak-anak muda muslim (yang polos) di seluruh Indonesia.

Teologi syahid atau dogma itu memperoleh tempat bersemi ketika dimasukkan kepada kurikulum pendidikan (Toto Soharto, 2020), dan dakwah keagamaan, permainan politik praktis serta akan menguat jika terus digelorakan oleh gerakan revivalis Islam (Abdul Munir Mulkhan, 2012). Bahkan, ia akan terus subur disertai ilmu dan perangkat canggihnya untuk mempolitasi ayat atau membalikkan nalar umat Islam yang lagi mengalami krisis ini.

Sebagaimana kita ketahui, teologi syahid yang oleh Mulkhan disebut “teologi maut” ini, telah tampak memasuki budaya murni dan bahasa gaul anak-anak muda kota juga pedesaan. Lihatlah busana tetangga, adik, kakak dan saudara kita di kampung akhir-akhir ini dan bagaimana cara mereka bergaul-berekspresi dalam kehidupan, baik sosial atau keagamaan. Pasti berbeda. Mereka mengikuti model muslim populis yang sebenarnya terjeblos dalam perangkat dan alam revivalis-kapitalis.

Entah pilihan-pilihan itu didasari oleh pemahaman fatalistik atau sekadar gaya unjuk identitas sebagai muslim modern-tradisional yang saleh dan teguh imannya. Apabila mereka memahami itu sebagai ekspresi yang diperintahkan Islam, maka kita bisa menyebut, mereka telah terjangkiti doktrin “palsu” dengan memahami ayat suci secara prokial dan tidak kontekstual, yang mudah mengimplementasikan dalam sikap keagamaan yang keras, eksklusif dan militan, seperti membunuh orang dan bunuh diri atas nama agama.

Menurut Hendropriyono, dalam Terorisme, fundamentalisme, Kristen, Yahudi, Islam (2012), mereka adalah orang-orang yang mengalami kegagalan teori, keterbelahan kepribadian dan gangguan jiwa: ingin cepat mati, tetapi tidak berani hidup. Dari situ, mereka menamkan dalam jiwanya, dan percaya, bahwa mati syahid jauh lebih mulia dibandingkan hidup di dunia, tetapi tidak ada artinya. Sungguh ideologi yang sangat amat fatalis.

Seharusnya dan Sebaiknya

Hemat saya, perkataan atau himbauan serta doktrin pimpinan ormas Islam dan pejabat tinggi tentunya, seharusnya mempertimbangkan beberapa faktor yang nantinya berdampak luas pada umat.

Mereka seharusnya menyerukan ajaran atau dogma berdasarkan prinsip Islam yang rahmah bagi seluruh alam. Sebab, kekhalifaan manusia di dunia meniscayakan keragaman dan kerukunan antarumat beragama dan manusia lewat kerja-kerja bersama (M .Quraish Shihab 2018).
Kandungan ajaran Islam, baik yang bersifat rabbaniyah, insaniyah, amaliyah harus melahirkan benih-benih Islam yang toleran.

Ajaran agama, sapantasnya, mempromosikan teologi wasathiyah yang dibuktikan dengan mendaratkan pada waqi’iyah, al-hudhuiyah, dan adam-Alharaj sebagai sumber ajaran Islam.

Yang paling penting, untuk saat ini, semua elemen perlu melakukan seruan yang lebih bombastis daripada Rijikers, yaitu hidup syahid. Hidup syahid ini, adalah cara untuk mencari kebenaran dan titah Tuhan lewat jalan melakukan kebaikan kepada sesama. Memanfaatkan hidup di dunia dengan perilaku kebajikan, saling tolong menolong dan berlaku damai kepada semua orang termasuk kepada setan jika ia mau, lewat pitutur dan suluk yang ilahiyah.

Agus Wedi

Sumber: https://www.harakatuna.com/teologi-syahid-rijikers-yang-fatalistik.html

(Suara Islam)

Loading...