Ta’mir Masjid Bekasi dan Peremeh Masker

Apa persamaan dan perbedaan oknum ta’mir masjid di daerah Bekasi, yang kemarin berurusan dengan polisi karena melarang jamaahnya menggunakan masker, dengan netizen yang meremehkan penggunaan masker karena lebih percaya dengan teori konspirasi?

Persamaannya jelas, kekacauan informasi yang mereka percayai, membuat mereka mengambil keputusan sesat dan menyesatkan.

Bedanya adalah, si ta’mir masjid ini menambahi dengan tafsir keliru atas AlQuran, yang bahkan QS Ali Imran 96 yang disebutnya sama sekali tidak berkaitan status masjid sebagai tempat yang aman, apalagi aman dari penyebaran penyakit.

Sedangkan netizen peremeh masker, mereka mungkin tidak melandaskan kepada ayat suci, tetapi mereka sadar atau tidak, adalah korban dari hoaks dan teori konspirasi yang menganggap COVID19 hanyalah penyakit biasa yang tidak berbahaya. Bahkan salah satu tokoh teori konspirasi, Dr. Judy Mikovits, memiliki pendapat absurd bahwa masker itu bisa mengaktivasi virusnya.

Kalau kita kembali tengok dalam dialektika umat Islam dalam menyikapi COVID19 ini, bisa jadi ada yang berpendapat kalau masjid itu aman dari wabah penyakit. Mereka mencoba berlandaskan kepada sebuah hadits riwayat Anas bin Malik, “Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka.”

Namun argumen ini sebenarnya sudah dibantah oleh para ulama dan tokoh Islam yang memahami ilmu kesehatan. Pertama, hadits tersebut dinilai gharib dhaif. Kedua, konteks At Taubah 18 yang menyatakan “petunjuk bagi mereka yang memakmurkan masjid” adalah terkait spiritual, bukan terkait dengan kekebalan atas penularan penyakit, seperti COVID-19. Ketiga, cluster COVID19 masjid itu faktanya terjadi di beberapa tempat, sebut saja yang terkenal adalah cluster Masjid Jami Sri Petailing di Malaysia.

Ada juga yang menggunakan referensi hadits dimana Rasulullah melarang menutup muka ketika sholat. Memang dalam situasi normal, menutup muka ketika sholat itu dihukumi makruh oleh sebagian ulama. Namun ketika dalam situasi tertentu, misalnya dalam situasi berdebu, maka hukumnya bisa mubah. Atau bahkan wajib jika dalam situasi penyebaran COVID19 yang dinilai berpotensi kegawatan.

Jadi sangat mengada-ada mereka yang masih mencoba mencari pembenaran atas intimidasi oknum pengurus masjid kemarin ini dengan landasan baik agama maupun dari ilmu pengetahuan. Maka ikutilah pendapat ulama yang berlandaskan keilmuan yang baik, dan juga selaras dengan ilmu kesehatan. Terlebih sudah ada perintah dari pemerintah, ulil amri, yang mewajibkan masyarakat mematuhi protokol kesehatan, diantaranya adalah menggunakan masker dan menjaga jarak.

Muhammad Jawi
Referensi:
https://www.nu.or.id/post/read/118855/benarkah-masjid-tempat-yang-aman-dari-wabah-penyakit-

https://republika.co.id/berita/qh4uvd320/benarkah-pakai-masker-saat-sholat-selama-pandemi-haram

Sumber: https://www.facebook.com/100007033081538/posts/3069942729916800/

(Suara Islam

Loading...