Tak Perlu Pro & Kontra Secara Berlebihan

Saat ini di Indonesia saya perhatikan banyak sekali kelompok pro & anti yang berlebihan dan bahkan cenderung kebablasan. Sikap overdosis ini sangat berbahaya dan tidak baik untuk kesehatan dan masa depan bangsa dan anak cucu kita.

Hal itu dikarenakan sikap overdosis ini berpotensi memunculkan tindakan intoleransi, anti-kemajemukan, dan bahkan kekerasan kalau tidak terkontrol dan terkelola dengan baik atau dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang memiliki kepentingan tertentu (baik kepentingan politik, agama, ideologi, maupun ekonomi).

Ada beberapa contoh kelompok pro & kontra yang berlebihan ini di masyarakat, baik pro & kontra terhadap asing maupun pro & kontra terhadap lokal (“pribumi” / “native”). Menariknya, mungkin karena memiliki kepentingan yang berbeda, kelompok yang pro/kontra terhadap asing itu ambigu alias mencla-mencle dan tidak konsisten dalam mendefinisikan kata “asing” itu.

Misalnya, sekelompok Ngeslam terkentu (eh tertentu) menganggap China dan Barat itu sebagai “asing” tetapi Arab tidak. Mereka menganggap Arab sebagai “pribumi”. Dulu waktu zaman Pilgub di Jakardah – Pilgub terburuk dan terpekok se-dunia-akherat – banyak spanduk, pamflet dan tetek-bengek lainnya yang berisi kecaman terhadap asing (si kokoh) dan ajakan dukungan terhadap “pribumi” (si bubud). Betul-betul pekok bin katrok.

Ada juga kelompok yang kontra terhadap kebudayaan Arab (atau Timur Tengah secara umum) secara berlebihan karena dianggap sebagai “budaya asing yang bertentangan dengan budaya Nusantara” tetapi tidak mempermasalahkan dengan kebudayaan Barat, Korea, India, Amerika Latin, dan lainnya.

Padahal Indonesia itu sudah lama “diserbu” oleh orang, agama, dan budaya Timur Tengah. Anda menjadi Muslim & Kristen saja itu berarti sudah menjadi bagian dari Timur Tengah karena dari kawasan inilah agama Islam & Kristen berasal. Begitu pula, Anda menjadi Hindu & Buddha berarti juga sudah menjadi bagian dari asing (India). Yang memeluk Konghucu berarti bagian dari Tiongkok (China). Sekarang ditambah Baha’i (atau Bahai Faith) yang juga produk impor / asing (Iran / Timur Tengah).

Yang mungkin “asli produk Nusantara” kan mungkin kayak Sunda Wiwitan, Parmalim, Kaharingan, Marapu, Kejawen, dlsb. Menariknya, yang “agama impor” produk asing dipuja-puji, yang agama lokal malah dicaci-maki.

Kalau kaliyen konsisten “mencintai Nusantara” idealnya harus mencintai semua produk Nusantara, termasuk agama-agama lokal ini, bukan hanya seni-budayanya saja. Banyak sekali kelompok Ngeslam dan Kresten yang antipati terhadap agama lokal sehingga “kegatelan” ingin segera diislamkan atau dikrestenkan.

Kelompok pro Arab juga banyak yang fanatik dan overdosis dan “semangat 69” untuk “mengarabkan” Nusantara karena dianggap sesat-tapir. Padahal sejatinya nyaris tidak ada jenis / produk kebudayaan yang “genuine” Arab itu karena semua hasil dari adaptasi dan “pinjam-meminjam” dari orang dan kebudayaan lain (“cultural borrowings”). Ini bukan hanya berlaku untuk suku-bangsa “Ngarab” saja tetapi juga suku-bangsa lain di dunia ini.

Jadi, intinya begini cuk: silakan pro tetapi jangan berlebihan; silakan kontra namun jangan berlebihan. Apapun yang berlebihan itu tidak baik dan tidak enak dipandang. Perut berlebihan jadi kayak gentong, pantat berlebihan jadi kaya panci, congor berlebihan jadi kayak bimoli (bibir monyong satu mili), susu berlebihan jadi kayak semangka, manuk berlebihan jadi?

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

Sumber: FB Sumanto Al Qurtuby

(suaraislam)

Loading...