Tafsir Tunggal

Ilustrasi

Dulu waktu masih kuliah di Bandung, pas pulang ada tetangga tanya “Mas kalau ke Bandung enaknya naik apa?” Kujawab “bisa naik Jogja cepat, Kramatjati atau Bandung Express.”

Tetangga itu bingung. Ternyata dia pingin diberi pilihan terbaik versiku. Dia bingung diberi alternatif. Mungkin jawabanku nggak solutip seperti Bu Tejo.

Baik-baik saya baru sadar. Baru saya jelaskan untung ruginya masing-masing pilihan. Dia mantuk-mantuk…

Lalu beberapa waktu yang lalu ada seorang Ibu datang ke tempat saya sama suami, konsultasi anaknya sebaiknya masuk jurusan apa saat SBMPTN.

Bapaknya hanya memberi pilihan tunggal, Teknik Kimia. Selain itu akan susah untuk sukses. Karena ada temannya yang lulusan Teknik Kimia dan sukses. Anaknya nggak mau, nggak suka. Anaknya stres.

Lalu saya bantu saya jelaskan ada beberapa alternatif. Dan contoh orang-orang sukses di masing-masing bidang.

Setelah itu Ibunya setengah teriak “Nah itu… masak kuliah kok harus Teknik Kimia..” Baru bapaknya pun terbuka pikirannya. Ikut senyam-senyum.

Ada kyai model Quraish Shihab yang ingin masyarakat itu pinter, berpikir. Beliau biasanya memberikan konteks dari suatu aturan. Lalu masyarakat diberi kebebasan untuk memilih yg paling nyaman, sesuai suara hati. Tidak menakut-nakuti.

Begitu juga Buya Syakur selalu menjelaskan alternatif-alternatif. Biar masyarakat tahu pilihan mana yang sesuai dengan konteks hari ini di sini. Tidak menyebut-nyebut neraka atau siksa.

Umumnya masyarakat kita adalah nurut sama panutan.Masyarakat harus diberi pengertian sejelas-jelasnya sebelum memilih.

Tetapi ada kelas-kelas masyarakat tertentu yang cerdas, ingin dimanusiakan dalam beragama. Tidak mau didikte atau dipaksa.

Banyak ustadz baru yang datang dengan tafsir tunggal. Selain yg tafsir itu dianggap salah.

Padahal hampir semua persoalan syariah tidak ada tafsir tunggal. Fiqih itu dugaan-dugaan. Nggak ada kebenaran tunggal dalam fiqih.

Banyak orang jadi korban tafsir tunggal. Hidupnya tertekan, makin sempit dan jauh dari keriangan. Suka hoaks dan menyalahkan pihak lain.

Tafsir tunggal membuat pikirannya tumpul. Pikirannya hanya tahu halal haram, surga neraka. Bahkan untuk mengucapkan selamat ultah saja, nyari dalil. Ribet.

Padahal saat korupsi atau nyontek saat ujian, dalil-dalil yang jelas malah dilanggar.

Banyak ustadz tafsir tunggal dan masyarakat korban tafsir tunggal. Kalau dari kacamata orang normal, korban tafsir tunggal ini kehilangan kemampuan berpikir.

Ada seorang istri yang suka mengkafirkan suami, suami diabaikan gara-gara menuruti nasehat ustadznya, anak dipaksa mengikuti maunya, semakin jauh dari saudara dan teman-temannya dulu. Dia ditakuti dengan dosa, neraka, dan siksa oleh ustadznya.

Yenny Wahid saat diskusi Jilbab dan Aurat, ditanya seorang ibu, “Saya harus berpakaian seperti apa?”

Dijawab, “Bebas, Ibu, masing-masing ada dasarnya. Pilih yang Ibu nyaman.”

Nah orang-orang cerdas suka memberi alternatif pilihan.

Orang-orang picik atau mungkin jahat, sengaja menekan orang untuk ikut tafsir tunggal sesuai seleranya.

Mari biasakan untuk menghindari tafsir tunggal jika memang situasi kondisinya begitu. Sehingga kita menjalani pilihan itu dengan happy karena kita lakukan dengan kesadaran, dengan sukarela.

Mari kita didik diri kita dan masyarakat untuk biasa berpikir bebas tanpa ketakutan.

Tidak ada paksaan dalam agama, Laa ikraha fiddiin..QS 2:256

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10220972528094500&id=1580376858

(Suara Islam)

Loading...