Syu’bah Asa dan Film G30S/PKI

Bagi saya, tidak ada kesan apa-apa ketika melihat film PKI. Saya merasa berkesan melihat film ini, justru bukan karena kandungan ceritanya, tapi karena Pak Syu’bah Asa yang memerankan Aidit. Soal kandungan cerita sudah saya dapatkan dari ayah saya yang saat itu aktif menjadi pengurus Ansor Desa. Ada dua cerita yang menakutkan menurut ayah saya; pertama, cerita soal Banser dan PKI, kedua, cerita soal Golkar yang berkuasa pada era 70an 80an. Soal PKI, kyai dan PKI berhadapan dan di Jawa Tengah rata-rata kalangan kyai yang menang. Soal Golkar, ketika partai ini berkuasa, kyai-kyai yang bergabung di PPP setiap malam diintimidasi hidupnya. Pada masa PKI saya tidak mengalami langsung, namun pada masa Golkar saya mengalami, karena usia saya waktu itu sudah menjelang SD. Saya ingat setiap malam kyai-kyai NU muda saling menjada dan bertirakat untuk melawan intimidasi Golkar saat itu. Keduanya adalah cerita buat saya, dan saya berusaha mengambil hikmahnya.

Pak Syu’bah Asa, seorang wartawan senior dan penulis keislaman terutama tafsir, dan pemeran Aidit adalah seorang wartawan yang sangat jarang terutama dilihat dari kemampuannya membaca kitab-kitab klasik. Ketrampilan membaca kitabnya hanya bisa ditemukan di dalam sosok-sosok modernis Muslim seperti Almagfurlah Cak Nur dan Johan Effendi. Saya mengenal Pak Syu’bah lumayan lama, semenjak saya masih mahasiswa di Ciputat. Perkenalan semakin dekat ketika beliau memimpin majalah Panji Masyarakat versi ke sekian yang berkantor di Kemang. Pasalnya, pada saat itu, saya sering dan rutin diminta dia menulis kolom soal Islam terutama hal-hal yang terkait dengan tema-tema fiqih, madzhab, perselisihan madzhab dan lain sebagainya. Saya pernah menulis seri imam empat di majalah dalam beberapa pekan berturut karena permintaan dia. Saya sering menulis yang agak panjang dan dia pasti memangkas dan memotongnya. Pak Syu’bah ini lahir di Pekalongan di lingkungan tradisi kaum tradisionalis yang cukup kuat, namun dia bukan orang NU, demikian katanya pada saya suatu saat di kantor Panji. Namun penguasaannya terhadap khasanah klasik cukup lumayan. Saya pernah tanya darimana bisa baca kitab-kitab klasik seperti itu. Dia tertawa terkekeh dan sambil nyabek-nyabek tangan saya, “wis-wis gak usah diterusin.” Kalau kita main ke meja dia, maka kitab-kitab besar berserakan di mejanya, terbuka semua. Maklum zaman dulu masih belum ada tools-software yang bisa memudahkan kita mencari kata kunci tafsir, hadis dan kitab-kitab lainnya. Andalannya ya indeks al-Qur’an dan indeks hadis. Namun, saya akui bahwa Pak Syu’bah memang seorang pembaca kritis dan cerdas atas khasanah lama dan berhasil menuliskannya dengan apik, padat dan memenuhi.

Pak Syu’bah juga suka berpolemik dan bisa membuat orang yang diajak polemik menjadi jengkel karena kekenesan dan kekritisannya. Dia termasuk orang yang memiliki kedekatan khusus dengan Allahu Yarhamhu Gus Dur dan bisa bicara panjang sekali soal Gus Dur ini. Tidak hanya memujinya, namun juga mengkritiknya. Maklum dia mengenail Gus Dur sejak dulu kala ketika Pak Syu’bah kerja di Tempo. Dalam kolom dia tentang Gus Dur, “GUS DUR MENCAPAI CITA-CITANYA”, kita bisa merasakan kedekatan Pak Syu’abh ini dengan Gus Dur.

Namun, dilihat dari karya-karyanya, Pak Syu’bah memang memiliki warna tersendiri. Karyanya terakhir sebelum beliau meninggal adalah “Dalam Cahaya al-Qur’an.” Buku ini adalah kumpulan dari tulisan dia di majalah Panji yang berseri yang dia sebut sebagai tafsir sosial dan politik. Dia nampaknya sengaja memberi judul ini agar ada kedekatan dengan judul sebuah tafsir gerakan terkenal, Fi Dhilalil Qur’an.

Saya secara pribadi memiliki kenangan yang tak tak terlupakan dengan dia dan termasuk mendapatkan banyak ilmu dan cara-cara menuangkan tulisan yang padat dan memenuhi tadi. Meskipun saya berusaha untuk belajar menulis seperti pak Syu’abh namun tetap saja tidak bisa selincah dan seirit pak Syu’bah dalam mengolah kata menjadi bermakna dan itulah kelebihan dia.

Sayang sekali, ketika itu saya lupa bertanya kepada dia, kenapa dan bagaimana sampai dia memerankan tokoh Aditi ini. Benar-benar lupa bertanya.

Oh ya, saya tambahkan dikit, Pak Syu’bah bersuara bariton dan agak groyok (apa artinya dalam bahasa Indonesia ya).

Alfatihah untuk Almaghfurlah Pak Syu’bah Asa.

Syafiq Hasyim, Intelektual NU

(suaraislam)

Loading...