Susi dan Indonesia Kita

Semalam, saya, si Akang, dan putra kami Reza (13 tahun) menonton film Susi Susanti, Love for All. Motivasi utama sebenarnya untuk “mengajari” Reza soal perjuangan, kerja keras, cinta tanah air. Saya bukan kritikus film. Hanya penikmat film biasa. Tapi saya (dan keluarga) sering rewel kalau ada yang terasa tidak logis saat nonton bersama. Sudah sering kami nonton bareng, lalu setelahnya obrolan kami justru bernada “kok gini ya..??” atau “harusnya kan begitu..?” [banyak ‘bolong’ di sana-sini yang kami temukan].

Tapi, untuk film Susi ini, saya tidak ketemu hal penting yang bisa saya protes. Kalau hal-hal ga penting sih ada, misalnya “kok stadion bulutangkis di Barcelona ga megah?” Tapi kan itu ga penting banget dibahas karena terlalu banyak hal penting lainnya yang patut diapresiasi dari film ini. Lagipula jawabannya jelas: emang ada investor yang mau membayar biayanya kalau harus syuting di Barcelona?

Satu kata dari saya untuk film ini: TOP.

Sungguh saya baru tahu bahwa di balik kemenangan Susi Susanti yang gemilang, ada kisah duka sekaligus heroik yang membuat saya berkali-kali meneteskan air mata. Saya baru tahu bahwa para atlet bulutangkis legendaris keturunan Tionghoa zaman dulu, termasuk Susi Susanti, ternyata dulu tidak diakui sebagai warga negara Indonesia.

Bahkan dua pelatih legendaris yang sukses melatih Timnas Indonesia saat itu (sehingga berhasil menang dalam berbagai kejuaraan internasional), Tjiu Sia dan Tong Sinfu juga tidak bisa mendapatkan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). Seolah selembar kertas itu sedemikian sakralnya, tidak bisa ditebus dengan perjuangan panjang mereka dalam membela Indonesia di dunia bulutangkis, bahkan dengan medali emas Olimpiade sekalipun.

[Setelah Suharto lengser, aturan SBKRI ini dihapus]

Berbagai adegan mengharukan muncul di film ini, seperti saat-saat orang Indonesia, baik Muslim maupun Kristiani, mendoakan kemenangan Susi (sambil menonton siaran langsung di televisi). Saat mereka, dari berbagai etnis dan strata sosial, bersorak sorai di depan televisi, saat tim Indonesia menang. Tapi juga ada banyak adegan-adegan jenaka dan bikin senyum-senyum.

Banyak dialog bernas tapi tidak menggurui dalam film ini. Pas banget untuk ortu yang pingin nasehatin anaknya, tapi lewat media film (biar anak tidak merasa didoktrin).

Misalnya, “musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri” atau “cintailah musuhmu”, atau “berani itu bukan berarti tidak ada rasa takut dalam diri” [tentu saja, ini ringkasan, kalimatnya tidak persis begini].

Jadi teringat pada Munir, bahwa yang perlu dilakukan saat takut [dalam memperjuangkan kebenaran] adalah ‘merasionalisasi rasa takut’. Karena takut itu wajar, alamiah. Jadi jangan ejek anak ‘penakut’, tapi bantu dia menerima rasa takut itu lalu mencari cara untuk mengatasinya.

Akting Laura Basuki (pemeran Susi) juga keren abis. Saya takjub saat tahu bahwa Laura Basuki awalnya bukan pemain bulutangkis, tapi telah menjalani latihan keras 6 bulan [bahkan dilatih langsung oleh Tjiu Sia yang dulu melatih Susi]. Hasilnya, seolah Susi bereinkarnasi dalam diri Laura. Ini juga jadi bahan diskusi yang penting dengan anak-anak: tentang totalitas dalam berkarya.

Dan banyak lagi renungan yang bisa didiskusikan pasca nonton film ini. Misalnya, betapa diskriminasi suku, agama, ras (SARA) masih terus berlangsung hari ini di Indonesia. Negara ini terlihat sedemikian lemah, tidak mampu melindungi warga negaranya sendiri. Siapa yang masih ingat bahwa hari ini ada ratusan orang Jamaah Ahmadiyah dan warga Syiah dari Sampang yang masih hidup di pengungsian, tidak bisa kembali ke kampung halamannya? Pemerintahan silih berganti, tak ada yang bisa mengembalikan hak mereka, karena pertimbangan politik. Serius membela minoritas beresiko kehilangan dukungan dari mayoritas.

Sungguh film ini, buat saya, seolah menggedor nurani tentang absurdnya politik identitas, berpolitik yang didasari identitas SARA. Kesetiaan diberikan kepada kelompok, bukan kepada bangsa. Kalau kamu bagian dari “kami”, akan “kami” dukung. Mirip seperti kata-kata Bush: “you’re either with us, or against us” [kalau kamu tidak bersama kami, maka kamu adalah musuh kami].

Singkat kata, ini film yang wajib tonton deh. Bikin nangis, tertawa, tercenung, dan merindukan Indonesia yang merayakan keberagaman.

FB DINA SULAEMAN

(suaraislam)