Surat Cinta untuk Buruh Indonesia

Ilustrasi, Sejumlah pengunjuk rasa melempari gedung DPRD Yogyakarta saat aksi menolak pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja atau Omnibus Law di Yogyakarta, Kamis (8/10/2020). Unjuk rasa tersebut berakhir ricuh dan mengakibatkan fasilitas di kawasan Malioboro rusak.(Foto: Hendra Nurdiyansyah/Antara)

Yth. Rekan-rekan buruh
Dimana pun berada

Assalamualaikum wr wb
Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Terlebih dahulu marilah kita selalu bersyukur kepada Allah, Tuhan yang Maha Penyayang karena kita masih disayang oleh-Nya. Salah satu bentuk sayang Tuhan kepada kita adalah diberikan kesehatan dan rezeki yang halal dan cukup. Cobalah kita sejenak menoleh, berapa banyak orang-orang yang jadi pengangguran? Berapa juta orang yang kekurangan karena tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk keluarganya?

Rekan buruh yang sangat saya cintai….
Tersiar kabar, hari ini akan diadakan demo besar-besaran. Protes massal atas disahkannya UU yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Apakah demo itu dilarang? Tidak dilarang, tapi waktunya tidak tepat. Mengapa?

Jutaan orang terinfeksi virus Corona. Ratusan ribu orang meninggal dunia. Virus Corona benar-benar meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan di segala sektor. Perusahaan, perkantoran, pendidikan, keagamaan dan lain-lain.

Ada 213 negara di dunia yang terkena imbas pandemi COVID-19. Ribuan pabrik bangkrut karena daya beli masyarakat anjlok. Akibatnya, puluhan juta orang tiba-tiba jadi di-PHK. Sejak hari itu, statusnya berubah jadi pengangguran. Enakkah jadi pengangguran?

Di rumah kontrakan yang tak seberapa, istri dan anak-anak mulai kelaparan. Pemilik kontrakan mulai menagih uang sewa. Debt collector terus mencari kreditur yang macet. Orang tua di kampung sakit-sakitan karena biaya obat tidak juga ditransfer anaknya. Enakkah situasi yang demikian?

Saat RUU itu disahkan jadi UU kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG langsung bereaksi positif. Artinya, kepercayaan investor mulai tumbuh. Di tengah-tengah pandemi COVID-19 yang begitu dahsyat, ekonomi nasional Indonesia menggeliat. Tumbuh dan ada tanda-tanda berkembang positif.

Namun, aksi unjuk rasa dimana-mana mulai terlihat anarkis. Buruh mulai unjuk rasa dan mengancam mogok kerja nasional. Stabilitas politik memanas. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi yang tadinya mulai positif berubah jadi negatif.

Pengusaha mulai berpikir ulang. Mereka tidak betah bertahan di tengah kesulitan ekonomi yang sangat parah. Sudah penjualan anjlok, keuntungan turun drastis, bahkan merugi, tapi para karyawan justru menuntut kenaikan upah. Masih untung mereka bisa bekerja dan diberikan upah. Lihatlah, ada jutaan orang yang mencari pekerjaan.

Investor pun mulai berpaling. Situasi politik sangat tidak menguntungkan mereka. Ini jelas sangat berbahaya bagi investor itu. Uangnya triliunan ditanamkan di Indonesia, tapi justru bukannya ucapan terima kasih dan keramahan yang didapatkan, melainkan justru tuntutan yang tidak masuk akal.

Rekan-rekan buruh yang baik.

Kini ada indikasi investor mulai menarik investasinya di sini. Mereka tidak mau ambil risikonya. Risiko rugi yang sangat besar. Maka, mereka pun mulai mengalihkan investasi ke negara-negara yang lebih ramah dan upah yang lebih murah. Kamboja, Vietnam, Thailand, Malaysia dipilih investor karena kinerja buruh dianggap lebih produktif dan situasi politik juga lebih stabil. Kita?

Kita akan jadi pengangguran. Akan ada PHK besar-besaran. Jutaan orang jobless. Lapangan kerja langka. Andaikan ada, upahnya akan turun jauh dari sebelumnya. Mengapa? Karena kebutuhan tenaga kerja berkurang, sedangkan peminatnya justru jauh lebih banyak. Anda bisa bekerja di perusahaan ini, tapi upahnya 50 ribu per hari. Anda mau silakan. Tidak mau, di luar banyak yang sudah antre. Enakkah begitu?

Ini adalah gambaran singkat tentang risiko besar yang dihadapi para buruh. Ibarat siapa menabur angin maka bersiaplah disambar badai. Badai dahsyat yang bernama status pengangguran. Mungkin motor Ninja R, Ducati, atau CBR Sport tak lagi bisa dinikmati karena tak kuat lagi bayar angsuran. Bahkan mungkin kalung emas istrinya yang tak seberapa dijual untuk beli beras. Enakkah yang demikian?

Demikian sekelumit sapaan untuk rekan-rekan buruh. Tetaplah bekerja keras di perusahaan agar disayang manajer. Perusahaan makin besar tentu gaji buruhnya juga dinaikkan. Tetaplah jaga kesehatan karena ada ribuan orang yang dirawat di rumah sakit. Ingat istri dan anak-anakmu di rumah yang begitu menunggu ayahnya pulang dengan membawa oleh-oleh. Mudah-mudahan bukan oleh-oleh terakhir yang bisa dibawa pulang karena dipecat perusahaan akibat turut demonstrasi dan mogok kerja. Semoga Allah memberikan kesehatan dan keselamatan kepada kita semua.

Aamiin yra.

Hidup buruh.. Jaya Indonesia….

Salam hangat,

Enha

Sumber: https://www.facebook.com/pageKataKita/posts/3618438578247501

(Suara Islam)

Loading...