Sumanto Al-Qurtuby: Lagi, Kerja Sama Positif Saudi–China

Raja Salman

Saya sudah sering menulis tentang kerja sama positif-konstruktif Saudi–China. Anda, jika berminat, silakan ubek-ubek sendiri di dinding Facebookku ini. Kerja sama simbiosis mutualisme “P to P” (antar-pemerintah) maupun “B to B” (antar-kelompok bisnis) telah menghasilkan banyak keuntungan di kedua belah pihak. Saudi (KSA) senang, China (PRC) bahagia.

Sejak dua dekade terakhir, hubungan kedua negara memang sangat baik dan mesra sekali, sama sekali tidak mempermasalahkan dan mengaitkan masalah ideologi “Komunisme” maupun “Wahabisme.” PRC menghormati urusan internal Saudi, begitu pula KSA respek terhadap masalah daleman China. Masyarakat Saudi sama sekali tidak ada yang menuduh raja sebagai “antek China” misalnya.

Kedua negara hanya komitmen menjalin relasi bisnis dan iklim stabilitas / keamanan regional / nasional sebagai prasyarat kelancaran dagang. Oleh karena itu sebuah “hoax akbar” yang menyebarkan berita bahwa Saudi memusuhi China karena berideologi “komunis-ateis” (menganggap PRC sebagai “rezim komunis-ateis” saja sudah keliru). Sebuah kebohongan besar yang mengatakan bahwa Saudi itu anti-China. Dan hanya propaganda murahan kelas cabe-cabean yang menganggap warga Saudi membenci China. Justru sebaliknya, warga masyarakat di Saudi menyukai produk-produk China yang relatif murah dan “mengsunami” di kawasan Jazirah Arab.

Baca:

Kunjungan Raja Salman ke China setelah melawat Malaysia dan Indonesia kembali membubuhkan kerja sama positif-konstruktif mencapai 65 milyar US dollar di berbagai bidang: dari energi sampai perumahan. Selain 14 MOU antar-pemerintah ini, pelaku bisnis dan industri di kedua negara juga menyetujui sekitar 21 kesepakatan berdagang di berbagai bidang. Berbagai perusahaan raksasa kedua negara seperti Aramco, Nurino, Sabic, Sinopec, dlsb turut mengambil peran sentral dalam kerja sama bisnis dan investasi ini.

Kontras dengan propaganda ecek-ecek sejumlah kelompok Islam “tengil” di Indonesia, para pelaku politik dan bisnis Saudi—seperti dieskpresikan oleh Duta Besar Saudi untuk PRC Turki bin Muhammad al-Mahdi—justru sangat mengharapkan peran aktif PRC sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia dalam membantu perekonomian dan keamanan regional di kawasan Arab Teluk khususnya, yaitu Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Oman.

Lebih detailnya, silakan baca berita kunjungan Raja Salman di China di “koran Saudi” Arab News di bawah ini:

#KerjasamaSaudiChina

H. Sumanto Al Qurtuby, dosen di King Fahd University for Petroleum and Gas, Arab Saudi.

(suaraislam)

Loading...