Subhanallah! Sembilan Alasan Logis Merayakan Maulid Nabi

Ilustrasi

Memasuki bulan Rabiul Awal (maulud) tentunya kita mengingat sebuah kegiatan besar yang dilakukan setiap tahun oleh mayoritas umat islam di seluruh dunia. Yaitu perayaan maulid atau hari kelahiran baginda Nabi besar Muhammad saw.

Perayaan ini biasanya dilakukan dengan penuh gembira dan sumringah. Mereka berkumpul bersama-sama dalam sebuah tempat dengan lantunan shalawat dan puji-pujian terhadap baginda Nabi saw. Disamping itu, juga ada zikir, ceramah dan acara makan-makan yang sengaja disiapkan bagi mereka untuk meyambut hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Bahkan, faktanya jika mereka sedang dalam kondisi finansial yang tidak memungkinkan untuk menyiapkan makanan mulai dari yang ringan hingga ke yang berat terpaksa mereka harus menempuh jalur hutang demi untuk meluapkan kegembiraannya atas kedatangan hari kelahiran manusia terbaik yang telah menjadi rahmat bagi seluruh alam dan seisinya.

Pertanyaannya sekarang, kenapa mereka begitu ngebet merayakan maulid? Adakah alasan yang logis dan mendasar atas semua itu? Jawabannya dapat ditemukan dalam sembilan point penting dibawah ini sebagai pendukung dan dasar atas sikap mereka.

Pertama, perayaan maulid bagian dari bentuk ungkapan dan ekspresi kegembiraan serta kebanggaan kita terhadap Nabi besar Muhammad SAW.

Ungkapan kegembiraan dari sesuatu kenikmatan yang membanggakan bukanlah hal yang hina dan dilarang. Ia boleh-boleh saja bahkan dianjurkan. Apalagi hal itu dilakukan demi luapan kegembiraan dan kebanggaan terhadap satu-satunya manusia pilihan dan terbaik sepanjang sejarah.

Dasarnya jelas dalam al-Qur’an Surat Yunus 58:

قلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Disamping itu, kemanfaatannya jelas bagi yang merayakannya. Abu Lahab saja yang kafir dapat kemanfaatan keringanan siksaan pada setiap hari senin disebabkan ia telah memerdekakan seorang budak yang bernama Tsuwaibah sebagai bentuk bentuk dari ungkapan kegembiraannya atas kabar gembira kelahiran Nabi Muhammad saw. Masa kita sebagai orang islam dan umatnya kalah dari Abu Lahab yang Kafir. (HR. Abdu al-Razzak dalam al-Mushannafnya, juz 7, halama 478)

Kedua, perayaan maulid juga telah dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad saw semasa hidupnya.

Beliau semasa hidupnya telah mengagungkan hari kelahirannya dengan berpuasa seabgai bentuk syukur kepada sang pencipta yang telah memberikan nikmat yang sangat luar biasa terhadapnya yaitu berkat kelahirannya dunia dan seisinya menjadi bahagia.

Diriwayatkan oleh Qatadah, bahwa Nabi Muhammad saw pernah ditanya oleh salah seorang sahabatnya kenapa dia berpuasa di hari Senin. Beliau menjawab, saya dilahirkan pada hari itu apakah salah jika saya mengagungkannya dengan cara berpuasa? (HR. Muslim dalam Shahihnya kitab al-Shiyam)

Ketiga, Nabi Muhammad saw punya perhatian yang lebih terhadap ikatan sebuah kejadian keagamaan yang agung dengan waktu tertentu.

Kejadian keagamaan yang sudah berlalu oleh nabi selalu diperhatikan dengan diikatkan pada waktu tertentu. karena datangnya waktu dimana kejadian itu terjadi merupakan sebuah moment penting untuk mengenang dan mengangungkannya.

Lihatlah apa respon Nabi Muhammad saw di saat melihat orang yahudi berpuasa pada hari A’syura’ sebagai bentuk syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan nabi Musa dan menenggelamkan musuh-musuhnya. Beliau mengatakan: kalau begitu saya lebih berhak dari kalian” maka dari itu beliau berpuasa dan menganjurkannya pada umatnya.

Selanjutnya, kita bisa berkesimpulan dari perkataan Nabi tentang bentuk keutamaan dan kemuliaan hari Jumat dimana Nabi Adam diciptakan pada saat itu, bahwa mengagungkan dan memuliakan kelahiran seorang Nabi apalagi kelahiran nabi terbaik dan paling mulia merupakan suatu hal yang sangat penting dan tidak dapat dibantah.

Keempat, kelahiran Nabi Muhammad saw menjadi factor pendorong akan anjuran syariat untuk membaca shalawat dan salam

Itu berarti bahwa sesuatu yang menjadi factor pendorong diberlakukannya anjuran syariat juga merupakan bagian dari syariat pula. Lagi pula, betapa banyak keistimewaan bershalawat hingga penapun sekalian takluk untuk menghitung dan menuliskannya.

Kelima, bukankah perayaan maulid menjadi salah satu cara mengenal Nabi Muhammd saw

Kita dituntuk untuk meneladani beliau otomatis kita juga dituntuk untuk mengetahui dan mengenal lebih dalam tentang beliau. Mulai biografinya, sejarah hidupnya, perangainya, mukjizatnya hingga pada ajaran dan nilai-nilai baik yang dibawa oleh beliau.

Tindakan demikian tentunya sangat membantu bagi kita untuk untuk mengenal lebih dalam yang puncaknya agar ia bisa dijadikan teladan hidup sempurna. Disamping juga, pastinya hal itu akan memberikan efek positif terhadap keimanan kita.

Keenam, perayaan maulid sudah menjadi sesuatu yang diyakini baik oleh ulama dan mayoritas kaum muslimin

Kita bisa lihat dari ujung timur hingga ujung barat dunia mayoritas ulama dan umat islam sudah meyakini baik perbuatan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Hanya ada sebagian kecil saja yang berbeda dari mereka. Jumlahnya sangat tidak sebanding.

Dasarnya jelas, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dikatakan bahwa sesuatu yang diyakini baik oleh mayoritas umat islam tentunya juga baik oleh Allah swt. Begitu juga sebaliknya. Sesuatu yang diyakini buruk oleh mereka itu juga menjadi buruk bagi Allah swt.

Ketujuh, bukankah perayaan maulid itu tetap dilakukan dengan cara yang positif? Hingga saat ini, perayaan maulid selalu saja diungkapkan dalam bentuk kegiatan yang positif. Seperti perkumpulan yan didalamnya terdapat silaturrahim, zikir, melantunkan puji-pujian, adanya suguhan makanan dan shadaqah serta lain sebagainya. Bukankah hal ini semua termasuk dari sesuatu yang dianjurkan dan disunnahkan?

Kedelapan, setiap sesuatu yang tidak pernah dicontohkan secara detail oleh Nabi Muhammad saw bukan berarti dilarang dan bid’ah yang menyesatkan.

Kita harus tahu bahwa sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad saw bukanlah sebuah bid’ah yang diharamkan. Jika ia, berarti proyek-proyek besar yang baru dan tidak pernah dicontohkan oleh baginda Nabi yang dilakukan oleh para sahabtnya seperti pengumpulan dan penulisan al-Qur’an adalah sesuatu yang diharamkan.

Jadi, jelas tidak semua bid’ah atau hal yang baru itu diharamkan. Kita harus melihat, jika ia baik dan memberikan kemaslahatan tentunya boleh-boleh saja dilakukan. Begitu juga sebaliknya. Jika tidak baik dan dapat mendatangkan mudharat berarti ia harus dilarang. Dari itu kita harus sepakat bahwa sejatinya bid’ah itu ada yang baik dan juga ada bid’ah yang buruk.

Kesembilan, perayaan maulid bagian dari cara menghidupkan kenangan-kenangan keagamaan

Bukti nyata dari point ini adalah banyak pekerjaan-pekerjaan ibadah yang dilaksanakan pada waktu haji merupakan tindakan dan bentuk menghidupkan kenangan-kenangan keagamaan. Seperti sa’i diantara shafa dan marwa, melempar jumrah wukuf di mina dan lain sebagainya. Ini semua adalah kejadian-kejadian lama yang selalu saja dihidupkan oleh umat islam disaat melaksanakan haji. Selanjutnya, bukankan perayaan maulid juga tidak ada bedanya dengan hal ini. yaitu bagian dari cara menghidupkan kenangan-kenangan lama. Wallahu A’lam.

(lihat: Haula Al-Ihtifal Bidzikra Al-Maulid Al-Nabawi Al-Syarif, karya al- sayyid Muhammd bin Alawy al-Maliki. Halaman 22-34, Maktabah al-Asriyah-Bairut)

Sumber: FB Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah

(suaraislam)