Spirit ‘Tauhid dan Khilafah’ dalam Perayaan Kemerdekaan Indonesia

Bulan Agustus 2020 ini memang terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini juga bersamaan dengan pergantian Tahun Baru Islam (Muharram). Biasanya di saat Agustus bangsa ini penuh dengan nuansa perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan, namun ada juga yang “merayakan” suatu hal berbeda. Yaitu peluncuran Film (baca: propaganda) Jejak Khilafah di Nusantara. Ini menjadi paradoks sekaligus sebuah bahan renungan bagi bangsa ini.

Bagi mereka yang menganggap bahwa Nasionalisme tidak ada dalilnya dan Khilafah adalah keniscayaan karena Janji Allah, mungkin tidak pernah berpikir bahwa semangat kemerdekaan bangsa ini sudah memuat spirit atas apa yang dijanjikan Allah SWT yaitu tegaknya Khilafah. Yang menjadi masalah adalah, Gagal Tafsir oleh mereka yang menganggap Khilafah sebagai sebuah Sistem Politik dan Pemerintahan. Padahal Khilafah adalah Spirit sebuah Keadaan.

Yang pertama adalah Bendera Merah Putih VS Bendera Khilafah. Dengan pongahnya mereka menganggap Bendera Merah Putih adalah “berhala” dan haram hukumnya memberi sikap hormat. Padahal Merah Putih adalah juga manifestasi dari Tauhid dan bahkan bersifat lebih Universal. Merah bermakna sebagai Darah yang mengalir dalam tiap Raga. Dalam kajian Spiritual Islam, Raga kita adalah eksistensi dari Nur Muhammad sebagai penciptaan semesta. Yaitu manusia, langit, bumi dan seluruh isinya.

Sedangkan Putih bermakna sebagai Jiwa dan Ruh yang merupakan bagian dari eksistensi Tuhan. Ruh yang ditiupkan dalam tiap diri manusia sebagai tanda dimulainya sebuah kehidupan. Itulah mengapa dalam dua Kalimat Syahadat diikrarkan dengan Aku Bersaksi! Pertanyaannya adalah, Kapan dan Dimana? Jawabannya adalah dalam Jiwa dan Raga ini!

Kemudian tentang Janji Allah akan tegaknya Khilafah sebagaimana dalam QS. An-Nur ayat 55. Dimana Allah menjanjikan akan menukar keadaan Umat Manusia dari ketakutan menjadi Aman Sentausa. Dan ini juga diperkuat dengan Hadits Nabi:

“Masa kekhilafahan yang ada pada umat sepeninggalku adalah 30 tahun, setelah itu adalah kerajaan” (HR: Ahmad).

Dalam hadits lain juga disebutkan:

“Akan ada setelahku nanti para Khalifah, setelah para Khalifah itu akan ada para Amir, setelah para Amir itu akan ada para Raja, kemudian setelah itu para Raja yang otoriter, kemudian akan ada dari kalangan Ahli Baitku yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana penuhnya penyimpangan.” (HR. Al Haitsami)

Dalam Al Qur’an dan Hadits sebenarnya sudah disebutkan dengan jelas bahwa Khilafah yang dijanjikan Allah SWT adalah sebuah KEADAAN, sekali lagi adalah keadaan dimana umat manusia menjadi aman sentausa. Keadaan ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dengan semangat egaliter dan menjunjung tinggi Perikemanusiaan dan Perikeadilan. Dimerdekakan dan dijadikan seorang Budak (Bilal) menjadi sahabat adalah salah satu momentum sekaligus simbolnya. Termasuk hidup rukun penuh toleransi sebagaimana yang tertuang dalam Piagam Madinah.

Secara tegas pula Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa masa Khilafah sesudah beliau hanya berlangsung selama 30 tahun. Yaitu jaman Khulafaur Rasyidin (11H – 40H). Dan setelahnya bukanlah masa Khilafah. Sedangkan Muawwiyah, Abbasyiah hingga Utsmani Ottoman adalah bentuk Kerajaan meskipun para pemimpinnya masih disebut sebagai Khalifah. Disinilah letak kerancuan serta gagal tafsir dari para pengusung Khilafah pada saat ini. Mereka merujuk pada kekuasaan Khalifah yang berlangsung lama hingga ratusan tahun. Padahal “kelanggengan” kekuasaan mereka bisa jadi karena bersifat Mulkan ‘Adhdhan (kerajaan yang menggigit) dan berganti dengan Mulkan Jabriyyatan (Kerajaan Yang Memaksa) pasca runtuhnya Utsmani. Contohnya adalah Monarkhi Saudi yang memaksakan paham Wahhabi pada pemerintahannya.

Jadi kesimpulannya, Bendera Merah Putih bukanlah Berhala. Justru sebagai salah satu manifestasi Tauhid yang memuat Nilai Spiritual dan bukan sekedar simbolis berupa Tekstual Kalimat Tauhid yang ditulis pada bendera yang justru mengkerdilkan makna dan nilai Spiritualitasnya. Dan spirit Khilafah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW juga tertuang dalam Pancasila serta Pembukaan UUD 1945. “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Itu juga menjadi salah satu spirit dari AS An-Nur ayat 55, bahwa Umat Manusia akan hidup aman sentausa tanpa penjajahan dan penindasan.

Salah satu contoh konkrit spirit Khilafah (perikemanusiaan, perikeadilan dan aman sentausa) oleh Bangsa Indonesia adalah mendukung Kemerdekaan Bangsa yang masih terjajah dan tertindas seperti Palestina. Bukan malah menjajah Bangsa yang sudah merdeka seperti Irak, Suriah dan target selanjutnya Indonesia dengan topeng penegakan Khilafah itu sendiri. Itulah yang namanya Khilafah Abal-Abal sebagai salah satu Fitnah Besar dari Dajjal. Namun masih banyak yang tidak menyadarinya!(FAZ)

Wallahu a’lam bi shawab.

Fadly

Loading...