Sistem Mazhab dalam Islam

Ilustrasi

Karena ada permintaan terkait tema khutbah kemarin di Al Akbar, berikut saya tampilkan link YouTube dan beberapa teks hadis yang saya baca dalam khutbah:

Sejak masa Nabi ada Sahabat yang mampu berijtihad dan ada yang tidak mampu. Bagi Sahabat yang memiliki ilmu agama Nabi membenarkan ijtihadnya. Bagi yang tidak mampu, Nabi memerintahkan untuk bertanya kepada ulama. Berikut riwayatnya:

– Nabi membenarkan Sahabat untuk ijtihad:

«ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﺠﺪ ﻓﻲ ﺳﻨﺔ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻻ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ اﻟﻠﻪ؟» ﻗﺎﻝ: ﺃﺟﺘﻬﺪ ﺭﺃﻳﻲ

Nabi berkata kepada Mu’adz bin Jabal: “Bagaimana jika ada masalah yang tidak ada dalam hadis Nabi shalallahu alaihi wasallam dan Al-Qur’an?” Mu’adz menjawab: “Saya berijtihad” (HR Abu Dawud)

– Nabi memerintahkan Sahabat untuk bertanya kepada orang yang berilmu atau ulama:

ﻗﻴﻞ ﻟﻪ ﻛﻴﻒ ﻧﻔﻌﻞ ﺇﺫا ﺟﺎء ﺃﻣﺮ ﻟﻢ ﻧﺠﺪﻩ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ اﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﺳﻨﺔ ﺭﺳﻮﻟﻪ؟ ﻓﻘﺎﻝ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ﺳﻠﻮا اﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻭاﺟﻌﻠﻮﻩ ﺷﻮﺭﻯ ﺑﻴﻨﻬﻢ” ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ

Ada yang bertanya kepada Nabi: “Apa yang kami perbuat jika ada masalah yang tidak kami temukan dalam Al-Qur’an dan Sunnah?” Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Tanyakan kepada orang-orang Saleh. Dan jadikan masalah itu sebagai musyawarah di antara mereka” (HR Thabrani dari Ibnu Abbas, hadis ini dikutip oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ dan ditakhrij oleh Al-Hafidz Al-Iraqi)

– Setelah Islam tersebar luas maka ada beberapa tipikal metodologi / sistem bermazhab, yaitu rasionalis, kelompok ahli hadis dan yang menggabungkan 2 sistem tersebut:

ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﻣﺎ ﺯﻟﻨﺎ ﻧﻠﻌﻦ ﺃﻫﻞ اﻟﺮﺃﻱ ﻭﻳﻌﻠﻨﻮﻧﻨﺎ ﺣﺘﻰ ﺟﺎء اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻓﻤﺰﺝ ﺑﻴﻨﻨﺎ

Ahmad bin Hanbal berkata: “Kami (dari golongan ahli hadis) saling hujat dengan kelompok rasionalis, hingga datang Asy-Syafi’i, ia berhasil menggabungkan diantara kami” (Qadli Iyadl, Tartib Al-Madarik 1/22).

Sumber: FB KH Ma’ruf Khozin

(Suara Islam)

Loading...