Siapakah Pelaku Teror itu? Dialog dengan Seorang Mahasantri

Ilustrasi teroris. (Foto: Thinkstock)

Dalam kesempatan kuliah/ mengaji, kemarin aku mengatakan di hadapan para mahasantri begini :ۢ “Kemuakan dan phobia terhadap agama akan terus menyebar dan meluas sejalan dengan meningkatnya kekerasan dan kebrutalan oleh manusia-manusia tak beradab yang mengatas namakan agama”.

Seorang mahasantri bertanya : Orang yang mengatasnamakan agama itu siapa? Dia beragama atau tidak?. Ciri- cirinya bagaimana?. Katanya kan tidak boleh dihubungkan dengan agama apapun?.

Wouw, pertanyaan ini menohok. Lalu aku bilang dari banyak fakta sesudah dilakukan penelitian dalam setiap peristiwa pemboman dan teror, ditemukan bahwa mereka adalah orang- orang beragama, berpenampilan bagai seorang beragama dan saleh. Mereka rajin shalat, berpuasa dan baca al Qur’an. Potongan celananya sering tidak umum. Bahkan dia sering berargumen dengan al Quran dan Hadits/Sunnah Rasul untuk membenarkan tindakannya.

Peristiwa teror bom kemarin di depan gereja Katedral, Makassar, setelah diidentifikasi dua pelakunya adalah anggota “Jaringan Jamaah Ansarut Daulah (JAD).

Ali Imran, terpidana dengan hukuman penjara seumur hidup menceritakan : “mengapa seorang menjadi teroris. Salah satu syariat dalam Islam adalah jihad fi sabilillah. Karena itu saya berangkat ke Afganistan”…

Jadi apa yang salah dari mereka?, kata santri tadi.

Aku bilang : dia punya pemahaman yang berbeda dari kita.

“Jadi, kalau begitu apakah salah jika kita mengatakan bahwa teroris itu dibenarkan oleh agamanya?

“Wah, kamu pinter sekali. Cerdas dan kritis” jawabku.

Iya benar, mereka mengutip ayat al-Quran. Misalnya :

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ۚ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.. Q.s. al Anfal 39)،

Para ahli tafsir menyebut yang dimaksud “Mereka” adalah orang-orang musyrik.

Atau ayat ini:

فَإِذَا انْسَلَخَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ ۚ

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian”.

Dari hadits Nabi juga ada.

Jadi bagaiman kiai?, katanya lagi penasaran.

Wah, kamu ini hebat. Penjelasannya rumit dan panjang. Maaf. Lain kali saja ya?. He he he

Aku melihat dia kecewa berat.

29.03.2021

KH Husein Muhammad

Sumber:
https://www.facebook.com/1106288500/posts/10224946856474423/

(Suara Islam)

Loading...