Setahun Tragedi Bom Makassar: Menguak Tapak Kaki Munarman

Munarman Ditangkap Densus 88 (Foto: Twitter)

Peristiwa ledakan bom di depan Gereja Katedral Makassar, tepat hari Minggu Palma pada 28 Maret 2021, membuat gempar masyarakat di seluruh Indonesia. Kejadian ini menyebar dengan cepat melalui media dan media sosial. Masyarakat mengecam. Pihak kepolisian langsung melakukan penyelidikan dan berhasil menemukan fakta-fakta dari kejadian ini. Presiden Joko Widodo mengutuk keras aksi terorisme yang memprihatinkan tersebut.

Tragedi yang terjadi hari ini setahun lalu itu, siapa sangka ternyata menguak kejahatan terorisme yang telah dibangun enam tahun sebelumnya. Pada tahun 2015, seorang petinggi FPI bernama Munarman, hadir dalam sebuah prosesi Bai’at untuk menyatakan kesetiaan terhadap Khalifah Negara Islam Iraq dan Suriah (ISIS) Abu Bakar al-Baghdadi. Pelaku bom bunuh diri yang sepasang suami istri itu diketahui sebagai bagian dari kelompok jaringan organisasi teroris yang melakukan sumpah setia kepada Al-Baghdadi pada akhir bulan Januari 2015 di Makassar.

Sebuah peristiwa teror memang tidak pernah lahir dari ruang hampa. Munarman yang hadir dalam acara sejenis secara berturut-turut di Jakarta, Makassar dan Medan, tapak kakinya ternyata juga tercium dalam peristiwa bom bunuh diri serupa sejauh 1300 kilometer dari Makassar, yakni di Jolo, Filipina. Gereja Katedral di kota itu diledakkan oleh teroris setahun sebelumnya yang menyebabkan 15 orang tewas. Pelakunya adalah anggota jaringan organisasi teror yang sama dengan pelaku bom Katedral Makassar.

Dari dua peristiwa tersebut ditemukan sebuah benang merah yang tidak kalah pentingnya; mereka merupakan bagian dari lingkaran yang sesama berbai’at kepada ISIS di Makassar, dimana Munarman hadir sebagai perekat (enabler) dari berbagai kelompok itu.

Kejahatan pada akhirnya harus dihadapkan kepada kebenaran. Dimana pertempuran diantara keduanya selalu dimenangkan oleh kebenaran, meski harus melalui logika yang berliku dan melewati tragedi yang penuh getir. Hari ini setahun lalu, peristiwa peledakan bom Katedral di Makassar terjadi. Menyisakan kisah getir dari rangkaian tindakan pengecut tak bermoral yang selalu menormalisasi brutalitasnya dengan menunggangi agama. Berbagai penangkapan setelah itu dilakukan oleh Densus 88-AT Polri, yang berujung kepada sosok penting dari semua peristiwa itu: Munarman.

Para pelaku teror termasuk Munarman hari ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, meski tidak akan mampu mengembalikan nyawa setiap manusia yang telah menjadi korbannya, tapi setidaknya kejadian ini tidak boleh terulang kembali. Tidak boleh lagi ada terorisme di bumi ini, karena setiap manusia dengan segala perbedaannya, pasti diciptakan oleh Tuhan yang sama.

Islah Bahrawi

Sumber: https://www.facebook.com/1076831809/posts/10220259422250515/

(Suara Islam)

Loading...