Seri Tauhid Aswaja: Memahami Wujud Allah dan Implementasinya dalam Kehidupan

Salah satu ciri penganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah itu mempelajari atau mengajarkan Aqidah yang berjumlah 50 macam. Terdiri dari 20 sifat wajib bagi ALLAH Ta’ala, 20 sifat mustahil bagiNya dan 1 sifat jaiz (wenang) bagiNya. Lalu dilengkapi dengan 4 sifat wajib bagi para Rasul, 4 sifat mustahil bagi para Rasul dan 1 sifat jaiz bagi para Rasul.

Sifat pertama yang wajib bagi ALLAH adalah wujud (ada), mustahil bersifat ‘Adam (tiada). Petunjuk akal (dalil aqli) tentang keberadaan ALLAH adalah bukti adanya alam semesta ini yang berarti menunjukkan adanya Sang Pencipta yakni ALLAH SWT. Mustahil alam ini tercipta dengan sendirinya. Sedangkan petunjuk ayat (dalil naqly) atas keberadaan Sang Pencipta adalah firman ALLAH yang menyatakan :

وَلَئِنْ سَئَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ اللهُ
“Dan jika mereka (orang kafir) ditanya: ‘siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi. Maka mereka menjawab : “ALLAH”. (Q.S.az-Zumar : 38)

Dengan adanya ALLAH, maka alam semesta ini terwujud dengan kuasa dan kehendakNya, termasuk umat manusia serta penghuni bumi lainnya. Lantas, apa bedanya wujud kita dengan wujudnya ALLAH ? Perbedaannya adalah jika kita dan makhluk lain wujudnya itu wujud nisby (relatif), sedangkan wujud ALLAH itu adalah wujud haqiqy (yang sebenarnya). Maksudnya, kita dan makhluk lainnya ini ada karena diadakan oleh ALLAH. Jika Dia tidak menjadikan kita, maka kita semua tidak akan ada. Dengan demikian, hakekat keberadaan seluruh makhluk itu tiada alias kosong, berawal dari ketiadaan lalu menjadi ada atas kehendak Yang Maha Kuasa.

Sedangkan wujudnya ALLAH itu wujud haqiqy (yang sebenar-benarnya). Adanya ALLAH tidak disandarkan oleh sesuatu; termasuk pula tidak disandarkan pada adanya alam semesta. Maka ada atau tidak adanya alam semesta, ALLAH SWT tetap ada. bahkan adanya ALLAH itu wajib (waajibul wujud). Ada ungkapan yang indah sehubungan dengan ini yakni:
“ALLAH itu ada sebelum kata “ada’ itu ada; dan Dia akan tetap ada, sekalipun kata “ada” sudah tidak ada.”

Untuk memahami wujud nisbi-nya manusia, bisa kita lihat dalam sejarah Rasulullah saw, tepatnya berkenaan dengan turunnya surat Al-Lahab, di mana Abu Lahab dan isterinya marah besar karena menganggap mereka telah dihina oleh Nabi Muhammad saw dan Tuhannya. Maka Ummu Jamil (isteri Abu Lahab) mencari Nabi Muhammad saw seraya membawa sebongkah batu untuk dihantamkan pada kepala Nabi. Tidak berapa lama ia menjumpai Abu Bakar Ash-Shiddiq dan menanyakan keberadaan Nabi Muhammad saw. Padahal Rasululah saw itu berada di samping Abu Bakar r.a., namun tidak terlihat oleh Ummu Jamil.

Atau berkenaan dengan asbabun nuzul ayat 9 surat Yaasiin, di mana Syekh Hamami Zadah (pengarang Tafsir Yaasiin) menyebutkan bahwa segolongan kaum kafir Quraisy pernah ingin membawa Rasulullah saw dan para sahabatnya ke gunung (jabal) Abi Qubaisy untuk dibunuh. tapi ketika melewati Ka’bah, mereka dibutakan ALLAH sehingga tidak dapat melihat Nabi saw dan para sahabatnya yang sedang duduk bercengkrama di dekat pintu Ka’bah.

Kedua kisah tersebut menjadi bukti bahwa keberadaan makhluk itu sangat relatif (nisby). Sekalipun secara fisik Rasulullah saw dan para sahabatnya itu ada, tapi “ditiadakan” oleh ALLAH dalam pandangan orang-orang kafir yang ingin membunuh mereka. Dengan kata lain, makhluk yang ada bisa dianggap tidak ada dalam kasus di atas.

Begitu juga barang yang ada di tangan kita pun bisa raib/hilang seketika akibat berbagai kemungkinan seperti dicopet, musnah dilalap api atau hanyut terbawa banjir, dan lain-lain.
Alhasil, segala makhluk yang ada itu semua wujudnya nisby.
Bahkan dalam Syarah Hikam, Ibnu ‘Athoillah menjelaskan bahwa keberadaan ALLAH itu sangat zhohir (nyata), yang nampak pada semua ciptaanNya, bahkan jika tidak terhalang oleh dosa-dosa, maka setiap hamba dapat melihatNya melalui pandangan mata batin mereka (ainul bashiroh). KeberadaanNya itu sangat dekat, bahkan lebih dekat daripada jarak leher dengan uratnya. Dia tidak terhalang atau tergantung oleh apapun dan siapapun.

Mengingat esensi keberadaan makhluk yang tiada atau kosong, maka kita tidak sepantasnya menyombongkan diri terhadap orang lain. Karena apa saja yang kita punya baik harta benda, jabatan, popularitas, kelebihan dari segi fisik, kemampuan otak, bakat atau keahlian, semua itu hanya fatamorgana, kamuflase, fana (bakal rusak) dan sementara. Bisa saja semua nikmat tersebut dihilangkan ALLAH dengan seketika. Tiada satupun yang dapat menghalangi atau menolak kehendak Ilahi jika Dia berkehendak memberi atau mengadakan suatu anugerah kepada hambaNya; begitu juga dalam mencabut atau meniadakan anugerah tersebut.

maka ketika anugerah itu kita terima, hendaklah pandai bersyukur, tidak menyalah gunakannya atau dijadikan objek kesombongan. Sebaliknya jika anugerah tersebut ditiadakan, hendaklah diterima dengan lapang dada, sabar, ridho dan ikhlas. Karena nikmat tersebut sejatinya bukan milik kita, melainkan milik ALLAH. Kita cuma dititipkan saja alias tak ubahnya seperti tukang parkir yang ketitipan kendaraan. Maka tidak boleh marah atau kecewa jika titipan tersebut diambil kembali oleh pemiliknya. ALLAH sajalah pemilik segala sesuatu. Al-Qur’an menegaskan hal ini sebagai berikut :

لِهِٰti مَا فِى السَّمٰوَاتِ وَمَا فِى اْلأَرْضِ
“Milik ALLAH sajalah segala apa yang ada di langit dan bumi. “(Q.S.alBaqarah : 284).

Begitu pula dengan pujian dan celaan yang kerapkali mewarnai episode kehidupan manusia. semuanya pun mesti disikapi dengan santai dan biasa saja. Tidak perlu dimasukkan ke dalam hati. Sebab jika dimasukkan ke dalam hati, maka pujian bisa membuat orang lupa diri dan celaan bisa menyebabkan sakit hati.

Sesungguhnya hakekat dari pujian dan celaan itu adalah “kosong”. Sekarang, cobalah pujian dan celaan orang yang dialamatkan kepada kita itu ditangkap, lantas telapak tangan kita dibuka, maka apa yang terlihat? pasti nihil alias kosong bukan? artinya segala pujian atau celaan itu bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan atau dikhawatirkan. Semua itu tidak akan berdampak apapun jika tidak dimasukkan ke dalam hati. sehingga apa saja yang kita lakukan atau kita perjuangkan seluruhnya ditujukan untuk mencari ridho ALLAH. Inilah yang disebut dengan Ikhlas. Beribadah dan berjuang bukan untuk mencari pujian manusia dan sebaliknya tidak takut celaan orang yang mencela. (Q.S.al-Maidah : 54).

Hikmah yang kita bisa petik dari wujudnya ALLAH adalah bahwasanya keberadaan kita haruslah bermanfaat bagi orang lain. Apa saja yang kita miliki baik ilmu, harta, jabatan, pikiran, tenaga, atau pun keahlian haruslah dishare untuk kemaslahatan umum, kebahagiaan dan keselamatan bersama, sehingga bisa mengantarkan kita menjadi manusia terbaik sebagaimana yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad s.aw. dalam sebuah sabdanya :

خَيْرُالنَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling berguna buat sesama.”

Jangan sampai keberadaan kita tidak mendatangkan manfaat sedikit pun buat orang lain, sehingga keberadaan kita sama saja dengan ketiadaan kita (wujuduhu ka’adamihi). Orang seperti itu sama halnya dengan mayat hidup. Diserupakan dengan mayat, dikarenakan sudah tidak bisa berbuat apa-apa, tidak ada gerakan atau karya yang dihasilkan, dan tidak bisa diharapkan sama sekali. Alangkah ruginya jika eksistensi seseorang diserupakan dengan mayat hidup. Na’udzu billahi min dzalik.

Ustad Cep Herry Syarifuddin

Sumber: https://www.facebook.com/100005439434530/posts/1366724566852178/

(suaraislam)

Loading...