Saracen, Saladin dan Sindikat Penebar Hoax

Saya mengenal istilah Saracen ketika waktu kuliah, karena game RTS yang sangat populer waktu itu: Age Of Empire II, yaitu ketika salah satu tema Campaign-nya adalah perjalanan Salahuddin Al Ayyubi (Saladin) dari mulai konsolidasi kekuatan di Mesir, hingga pembebasan Jerusalem dari pasukan Salib.

Saracen sendiri adalah istilah yang disematkan oleh kalangan Kristen Eropa untuk menyebut orang Timur Tengah, dan kemudian lebih spesifik lagi, kalangan muslim Timur Tengah.

Kalau Saracen seperti Saladin yang sangat terkenal dan ditakuti di dunia Eropa karena dianggap lawan tangguh, sekaligus dihormati karena mengkultivasi budaya chivalry (ksatria), namun sekarang ada kumpulan orang Indonesia yang menggunakan istilah Saracen untuk membuat sindikat (diduga) penyebar hoax, yang jauh dari perbuatan ksatria.

Kita tengok dialog antara Saladin dan Balian dari Ibelin ketika penyerahan kota Jerusalem ke pasukan muslim. Balian berkata, “Ketika kami, pasukan Salib, dahulu memasuki Jerusalem, semua muslim kami bunuh.” Ia mempertanyakan kenapa Saladin tidak membunuhi umat Kristen sebagai balas dendam, dan justru memberikan jaminan keamanan bagi mereka yang hendak pergi keluar. Saladin menjawab, “Saya Salahuddin”. Ini petikan yang direka ulang dalam film besutan Ridley Scott, Kingdom of Heaven.

Ajaran Islam yang dipahami Saladin, bukanlah Islam yang menghalalkan segala cara. Bahkan terhadap lawan pun, tidak mengurangi rasa kasih sayangnya. Ketika Raja Baldwin IV dari Jerusalem sakit akibat lepra yang dideritanya, Saladin pun mengirimkan dokter terbaiknya. Bahkan ketika berperang melawan Richard the Lionhearted dari Inggris, ada kisah ketika Richard sakit, Saladin juga mengirimkan dokternya. Dan ketika kudanya habis dalam perang, Saladin juga mengirimkan kuda pengganti untuk Richard.

Budaya menang kompetisi dengan tetap menjunjung martabat adalah budaya yang diwariskan oleh Saladin, tokoh Saracen yang sangat berpengaruh dalam membentuk landscape Timur Tengah. Dan bukan budaya menghalalkan segala cara, seperti menyebarkan hoax, fitnah, hasut untuk memecah belah saudara dan bangsa sendiri. Padahal sudah ada pula Fatwa MUI tentang Pedoman Bermuamalah di Media Sosial yang melarang perilaku terkutuk ini.

Apakah kita tidak mau belajar darinya?

Muhammad Jawy

(fbcomabumuhammadaljawy/suaraislam)

Loading...