Saksi Ahli Bahasa: Tidak Ada Kata Yang Menistakan Agama di Pidato Ahok

Prof. Dr. Rahayu Surtiarti, ahli bahasa

Suaraislam.co – Tidak ada kata atau kalimat yang menistakan atau menodai agama dari isi pidato Basuki Tjahaja Purnama atau akrab dipanggil Ahok, yang disampaikan di Kepulauan Seribu, September 2016 lalu. Demikian ahli bahasa Rahayu Surtiarti, Guru Besar, Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Menurutnya, ucapan Basuki terkait surat Al-Maidah 51 merupakan satu ungkapan dari sebuah rangkaian pikiran yang konsisten yang menjelaskan mengenai program perikanan dari awal hingga akhir.

Isi pidato yang terkait ‘jangan percaya sama orang’ menurut ahli bukan ditunjukan pada Ulama tetapi ditunjukan kepada para politisi yang mempolitisir ayat ayat Qur’an.

Baca juga:

“Secara liguistik, pidato Basuki di Kepulauan Seribu untuk memberikan motivasi kepada masyarakat nelayan di sana yang tengah mengikuti program budidaya ikan kerapu, ” ujar Rahayu.

Menggunakan kata Pakai pada kalimat ‘dibohongi Pakai surat Al-Maidah 51’ menurut ahli surat Al-Maidah 51 sebagai alat kebohongan untuk membohongi orang lain. Jika kata ‘ merujuk’ yang dipakai disini baru mengatakan Al-Maidah berbohong, ucap Rahayu.

“Jadi jelas bukan Al-Maidah 51 yang bohong akan tetapi Al-Maidah 51 dijadikan sebagai alat kebohongan, “jelas Rahayu Surtiarti.

(Komkil/suaraislam)

Loading...