Rizieq dan Bahar: Kultus Identitas dan Pragmatisme dalam Pasar Gelap Politisasi Agama

Dalam beberapa tahun terakhir, demokrasi telah mengalami kemunduran di hampir semua wilayah di dunia. Pada saat yang sama, banyak negara otoriter yang dipimpin oleh China dan Rusia menjadi jauh lebih tegas. Pada sisi lain, pemberontakan “Arab Spring” tahun 2010–11 yang mendegradasi kediktatoran di seluruh Timur Tengah menghasilkan demokratisasi yang melenceng: tumbangnya beberapa rezim despotik yang sebelumnya memegang kekuasaan justeru meringkus rakyat ke dalam perang saudara. Ini terjadi di Irak, Libya, Suriah, dan Yaman. Anomali ini setidaknya terhubung dengan adanya pergeseran ekonomi dan teknologi global.

Semua itu kemudian melahirkan sebuah fenomena baru di banyak negara: kebangkitan politik identitas! Di seluruh dunia, para politisi berusaha memobilisasi pengikut di sekitar gagasan bahwa martabat mereka telah ditindas – yang dengan segera harus dipulihkan. Figur-figur yang melekat dengan agama dimunculkan paksa untuk membangun magnet massa. Dunia politik mengekspresikannya sebagai “megalothymia”: sosok dengan tampilan superior. Moral tidak lagi menjadi ukuran – sepanjang dinikmati oleh khalayak, bahkan caci maki harus tetap diglorifikasi.

Dengan gaya arogan dan frontal diharapkan orang-orang jadi percaya bahwa identitas primordial mereka memang  tidak mendapat pengakuan yang memadai. Kebencian kepada kelompok yang lebih kecil secara perlahan dipertegas dan digiring ke dalam sekat-sekat elektoral. Politik identitas akhirnya bukan lagi fenomena kecil. Ia menjadi pertempuran politik melalui “perang budaya” yang dipromosikan oleh media massa, yang akhirnya seolah menjadi kekaprahan dalam kebebasan demokrasi.

Sosok seperti Rizieq Shihab atau Bahar Smith adalah postulat politik kosmetis yang hanya membuat demokrasi menjadi cacat. Bayangkan jika sistem politik kita melahirkan pemimpin dengan gaya “firebrand” dan totalitarian seperti mereka. Perang saudara akan terjadi dan membelah-belah bangsa kita dalam petilan-petilan kecil seperti di Timur Tengah. Karenanya, sebelum bangsa ini terlanjur remuk, negara harus hadir dengan “kaca mata kuda”. Tegas, setegas-tegasnya.

Islah Bahrawi

Sumber: https://www.facebook.com/1076831809/posts/10219905016110583/

(Suara Islam)

Loading...