Reuni 212 Makin Sepi Peminat

Saya melihat acara 212 makin lama makin sepi peminatnya, kenapa ya?

Tentu jawabannya karena rakyat Indonesia sudah cerdas menyikapi kelompok ini. Gerakan yang awalnya katanya demi bela agama dan Al-Quran, tapi faktanya sudah menyimpang dan menjadi gerakan politik yang penuh intrik.

Seringkali kita dengarkan, orasi mereka bukan lagi bicara soal akhlaq Nabi, tapi justru dipenuhi dengan kata cacimaki dan saling membenci satu sama lain. Do’a-do’a yang diucapkan pun tidak membawa kedamaian, tapi justru memicu permusuhan.

Hari ini kelompok 212 melakukan reuni di Tugu Monas, dan pesertanya menurut polisi ada skitar 10rb, tapi pihak panitia mengklaim ada sejuta. Mana yang benar ?

Tidak perlu saya jawab, karena jawabannya ada pada kewarasan otak kita masing-masing. Biarkan saja pihak panitia mengatakan bahwa jumlah peserta reuni 212 ada sejuta, karena kita tahu ini urusannya terkait dengan pencairan dana.

Jika jumlah peserta sedikit maka cairnya pun sedikit, begitu juga sebaliknya. Nah, disitulah masalahnya, dan faktanya setiap tahun selalu menurun drastis jumlah pesertanya.

Tujuan gerakan 212 ini pun semakin terlihat jelas. Mereka menyerukan ingin tegakkan khilafah, dan NKRI bersyariah. Apa mereka mau mengkebiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)?

Wajar hal itu saya tanyakan, karena hampir tidak ada bendera merah putih di setiap acara reuni 212, dan Kalaupun ada, mungkin hanya hitungan jari. Sedangkan, bendera yang menjadi simbol HTI begitu banyak kita temui.

Saya sih melihatnya ini bukan reuni, tapi ajang ingin mengkebiri NKRI.

Sumber: FB Yusuf Muhammad

(suaraislam)