Poligami, Monogami, Sunah Rasul

Ilustrasi

Saya sedang tidak ‘kecangkeman’ ngomentari hidup orang. Saya sedang bicara tentang kelatahan. Ada tren hijrah yang menggalakkan poligami. Alasannya sunnah Rasul. Alasan ini separuh benar. Sunnah Rasul adalah semua hal yang dilakukan Nabi dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun ketetapan.

Kenapa separuh benar? Nabi tidak hanya melakukan poligami. Nabi adalah pelaku monogami, bahkan dalam periode yang lebih lama. Nabi melakukan monogami sepanjang 25 tahun usia pernikahannya dengan Bunda Khadijah RA, isteri beliau yang pertama. Nabi menjalani poligami setelah itu, selama sekitar 12 tahun. Artinya, kalau mau pas betul dengan sunnah Nabi, poligami dilakukan setelah isteri yang pertama meninggal. Sekarang orang ‘kecangkeman’ poligami dengan alasan sunnah Rasul. Orang boleh saja poligami, kalau punya nyali. Syariat Islam juga membolehkan. Yang saya tolak adalah dalih sunnah Rasul, seolah monogami bukan sunnah Rasul. Kalau mau persis sunnah Rasul, mestinya sabar sampai isteri yang pertama meninggal.

Lebih baik begini: saya poligami karena pingin. Kenapa pingin? Karena punya uang. Nikah, tentu saja, jalan terbaik daripada zina! Jangan dikit-dikit pakai dalih sunnah Rasul. Terus digalakkan dalam seminar-seminar ‘kiat sukses poligami.’ Orang pingin, punya duit, ada nyali, siap risiko, silakan kawin lagi. Tapi jangan ‘kecangkeman’ sunnah Rasul. Kalau alasanmu sunnah Rasul, terus meleset, anakmu terlantar, rumah tanggamu berantakan, terus cerai, sunnah Rasul akan jadi tersangka dari kekacauan hidupmu. Kata Gus Baha’, sudahlah hidup itu biasa saja. Ora usah dijerok-jerokke!

M Kholid Syeirazi

Sumber: https://www.facebook.com/mkholid.syeirazi/posts/10160866269758242

(Suara Islam)

Loading...