Pisau dan Teror Pola Baru dari Wiranto hingga Syekh Ali Jaber

Ilustrasi, Instagram @zldianr, @warungjurnali

“Jika memang secara serius berniat untuk membunuh dengan sasaran personal, seseorang tidak akan menyerang ketika target sedang di panggung. Menyerang dengan senjata tajam di depan mata ratusan orang dan sorot sejumlah kamera, keberhasilan pembunuhan adalah bonus, namun tujuan utamanya adalah sebuah pesan.” Lloyd Paul Stryker menulis dalam “For the Defense” pada 1947.

Dalam dunia radikal-ekstrim dan teror dengan basis teologis, tidak pernah dikenal istilah “martir tuhan yang gagal,” yang ada “martir tuhan yang tertunda.” Semua ekstrim-radikalis selalu menjadi ancaman hingga kapanpun. Jika mereka diam, berarti sedang melakukan hibernasi sebagai sel tidur – kecuali ideologinya telah berubah dan mengalami deradikalisasi. Semua pelaku teror berusaha menahan diri untuk menunggu momentum. Mereka bersabar hingga tahunan. Saat sampai waktunya, mereka akan melakukan tindakan ekstrim dengan cara apapun, dimanapun dan kepada siapapun.

Teroris tunggal ataupun kelompok yang berinduk kepada organisasi besar namun dengan jaringan lokal – yang tak terstruktur dan tidak terlalu rumit – biasanya lebih mementingkan aksi publikatif demi menyampaikan pesan; “dirinya masih eksis!” Pesan itu ditujukan untuk musuh, bisa juga ditujukan bagi kawan seperjuangannya yang antah berantah. Penusuk pak Wiranto tahun lalu adalah sejenis ini. Melihat momentum, alat serang dan aksinya yang juga publikatif, kasus penusukan Syekh Ali Jaber bisa saja bertipikal sama. Namun apapun, kita tunggu hasil penyidikan kepolisian.

Dalam skema teror, penusukan kepada Wiranto dan Syekh Ali Jaber mungkin tidak begitu fatal. Namun menghasilkan reaksi emosional yang jauh lebih kuat daripada kadar peristiwanya. Semua orang membicarakan dengan segala kontroversinya. Ini biasa, karena memang itulah yang diinginkan si pelaku. Ia ingin dibahas agar pesan tersampaikan. Semakin besar reaksi publik, semakin tercapai tujuan teror itu.

Sementara reaksi konyol dari publik adalah bonus tersendiri bagi pelaku: semisal merubah nama pelaku jadi Albert, atau menuduh aksi ini sebagai ulah rezim PKI untuk menghabisi ulama. Teroris itu pasti bangga; ternyata masih banyak manusia yang jauh lebih “anjay” dari pada dirinya.

Islah Bahlawi

Sumber: https://www.facebook.com/photo/?fbid=10217431510954500&set=p.10217431510954500

(Suara Islam)

Loading...