Perbedaan Antara Syariat, Tarekat, dan Hakikat

Dalam terminologi tasawuf, syariat itu ritus-ritus ibadah seperti salat, puasa, zakat dan seterusnya. Sebenarnya para sufi tidak menyangkal bahwa pengertian hakiki dari syariat adalah hukum-hukum yang diundangkan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya. Tetapi mereka kemudian lebih melihat pada tujuan untuk apa syariat itu diundangkan. Maka dengan simpel mereka mendefinisikan syariat itu ibadah.

Tarekat artinya adalah jalan. Yang dimaksudkan adalah pengembaraan menuju Allah dengan bekal ilmu dan amal. Ilmu yang dimaksudkan di sini adalah perangkat hukum Allah yang disebut syariat itu tadi. Sedang amal adalah amal-amal ibadah seperti salat, zikir-zikir, munajat, doa dan lainnya yang merupakan pengamalan terhadap hukum-hukum syariat.

Adapun hakikat adalah bagian internal dari syariat. Bagian ini tersembunyi dan hanya dikuak dengan menjalani tarekat.

Untuk mudahnya dipahami, ketiga unsur tersebut ditamsilkan dengan buah kelapa. Kulit dan batok kelapa itu adalah syariat. Sedang biji kelapa yang tersembunyi di balik batok adalah tarekat. Lalu, hakikat adalah minyak yang bersemayam di dalam biji. Untuk memperoleh biji haruslah terlebih dahulu dikupas kulitnya dan dibelah batoknya. Kemudian untuk memperoleh minyak, harus menjalani proses penggilingan atau pemanasan santan dan seterusnya. Tamsil ini diuraikan dalam al-Bujairimi alā al-Khatīb.

Menarik juga tamsil lain yang termuat dalam kitab Al-Azkiyā’. Menurutnya, syariat itu ibarat perahu, sedang tarekat adalah laut-air, di atas lah perahu berjalan. Kemudian, dengan melompat dari perahu dan menyelam di kedalaman air akan diperoleh mutiara manikam. Mutiara itulah hakikat.

KH. Zainul Mu’ien Husni, Lc. Dosen Senior Ma’had Aly Situbondo

Sumber: http://mahadaly-situbondo.ac.id/perbedaan-antara-syariat-tarekat-dan-hakikat/?

(Suara Islam)

Loading...