Pasang-Surut Konservatisme & Militansi Agama di Arab Saudi

Prof. Dr. H. Sumanto Al Qurtuby, Dosen di King Fahd University for Petroleum and Gas, Arab Saudi.

Anda mungkin mengira kalau konservatisme dan militansi agama sudah ada sejak dahulu kala di Arab Saudi? Tidak. Konservatisme dan militansi agama itu baru menguat secara signifikan di Arab Saudi itu sejak awal 1980an.

Sebelum itu, masyarakat cukup bebas mengekspresikan keragaman budaya. Musik & sinema berkembang. Perempuan tampil di TV sebagai presenter maupun penyanyi. Juga, di media cetak, foto-foto perempuan biasa terpajang. Raja Faisal dulu yang pertama kali memprakarsai pendirian stasiun TV. Bioskop – yang sudah ada sejak akhir 1930an – juga merupakan pemandangan lumrah. Perempuan bekerja di berbagai sektor. Busana mereka juga fleksibel.

Kala itu, konservatisme & militansi tentu saja sudah ada tetapi scope-nya terbatas, misalnya hanya di wilayah-wilayah yang menjadi kantong para pengikut Wahabisme yang berhaluan konservatf seperti di Najed atau Al Qassim (khususnya Buraidah). Selebihnya santuy. Waktu itu, meskipun para pemegang otoritas politik & agama itu dari kelompok Wahabi masyarakat Saudi sangat majemuk. Selain itu, Wahabisme juga belum mengalami proses militansi serius.

Pemandangan mulai berubah sejak 1960an ketika Arab Saudi menampung para aktivis militan Ikhwanul Muslimin (IM) dari Mesir & Suriah khususnya. Waktu itu Arab Saudi sedang berantem dengan Gamal Abdel Nasser (Presiden Mesir) yang memelopori pan-sekuler republikanisme, pan-sosialisme dlsb. Nasser adalah sosok pemimpin politik yang anti kerajaan, dan karena itu Arab Saudi menjadi salah satu sasaran serangan dan kampanyenya. Beberapa kali, Nasser berusaha menggulingkan kerajaan Saudi. Tapi gagal.

Karena jengkel dengan ulah Nasser, Arab Saudi menampung para militan IM (yang juga musuh Nasser). Rumus dalam politik itu: “musuh dari musuhku adalah teman”. Para militan IM ini kemudian ini mengajar di kampus-kampus & sekolah Saudi. Merekalah kelak yang mengubah masyarakat Arab Saudi menjadi lebih konservatif dan militan, sekaligus politis.

Maka, pada awal 1980an lahirlah sebuah kelompok & gerakan yang bernama “Sahwa Islamiyah” atau Kebangkitan Islam. Sahwa pada dasarnya adalah “anak” hasil “kawin silang” antara Wahabisme dan Qutubisme yang menjadi ideologi kelompok IM.

Pemicu munculnya Sahwa ini adalah terjadinya peristiwa “Kudeta Ka’bah” yang dilakukan oleh “kelompok apokaliptik” Juhayman al-Utaibi & his gangs tahun 1979. Mereka membajak Masjid Haram & mengurung puluhan ribu orang yang sedang berhaji. Setelah duel sekitar 2-3 minggu antara tentara Saudi & pembajak, Juhayman & kelompoknya keok. Ada ratusan yang terbunuh.

Peristiwa itu mendorong Raja Khalid untuk menerapkan kebijakan yang lebih konservatif lagi dalam hal keagamaan / keislaman: asumsinya kalau masyarakat beragama secara benar dan lurus, maka orang seperti Juhayman & kelompoknya tak akan lahir. Maka, kerajaan mulai mengoptimalkan & memberi ruang besar pada kelompok konservatif agama termasuk memberi otoritas lebih besar pada “polisi Syariat” untuk mengatur urusan keislaman & “membimbing” umat Islam.

Nah, sejak itulah kelompok Sahwa mulai berperan. Sejak itu pula, musik dilarang, film dilarang, foto perempuan di media cetak dilarang, perempuan tampil di tivi dilarang, segregasi laki-perempuan diterapkan, abaya hitam & cadar mulai diwajibkan, kurikulum sekolah diubah jadi banyak sekali pelajaran Islam, toko & warung wajib tutup kalau ada azan, polisi syariat pun mulai bertingkah. Dan seterusnya.

Kini, setelah hampir 40an tahun, pelan tapi pasti, banyak hal telah berubah. Polisi syariat juga sudah dibekukan.

Pelajaran penting yang bisa diambil disini adalah: sekali “jamaah badrun” diberi ruang dalam kekuasaan, maka mereka akan menggunakannya untuk mengubah masyarakat – bukan agar sesuai dengan ajaran atau syariat Islam tapi agar selaras dengan jenis keislaman yang mereka pahami dan praktikkan. Sudah jelas mbang brambang? Beluuummmm

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

SUmber: FB Sumanto Al Qurtuby

(suaraislam)

Loading...