Para Manipulator Agama

Seorang kawan mengirimkan sebuah link berita kepada saya. Dimana isinya adalah pernyataan dari Babe Haikal yang mengatakan bahwa yang akan menentukan nasib Bangsa Indonesia adalah Habib Rizieq. Sejenak memang saya terpingkal atas pernyataan Haikal. Namun setelahnya saya menyadari bahwa pernyataan ini tidak bisa dianggap sebagai sekedar guyonan.

Meski sekilas seperti tidak ada hubungannya, saya teringat dengan sejarah dan cikal bakal berdirinya Negara Israel. Dokumen Deklarasi Balfour adalah bukti otentik yang menjelaskan gagasan negara Zionist itu (foto dokumen terlampir di bawah). Dinamakan Deklarasi Balfour karena ditandatangan oleh Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour atas permintaan “Tuan Besar” kepada Kerajaan Inggris untuk mendukung pendirian negara Yahudi di tanah Palestina yang dikemudian hari lahirlah Negara Israel.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa agenda Zionist itu bisa berlangsung? Selain dukungan dari Kerajaan Inggris, para perancangnya juga berhasil memanipulasi doktrin Agama Yahudi bahwa ada “Tanah Yang Dijanjikan” kepada Bani Israel yang berada di wilayah Palestina. Doktrin yang dinukil dari Kitab Taurat ini seharusnya bermakna kontekstual saat Nabi Musa dan umatnya (Bani Israel) diperintahkan hijrah dari Mesir ke Palestina akibat tekanan dari Fir’aun. Oleh para Manipulator Agama pada jaman modern, malah ditafsirkan sebagai legitimasi Gerakan Zionist yang berujung pada konflik “abadi” khususnya Umat Muslim dengan Yahudi meskipun sebenarnya keduanya berasal dari rumpun Agama yang sama yaitu Abrahamik. Image Agama Yahudi kemudian juga menjadi rusak menjadi agama penjajah, penindas dan musuh bagi kemanusiaan.

Kini kita melihat dan merasakan sebuah “Copy Paste” yang dilakukan oleh para Manipulator Agama. Setelah “Tanah Yang Dijanjikan” dalam doktrin Yahudi, kini dengan tema “Khilafah Yang Dijanjikan” dalam Islam. Kalau Zionist hanya dalam skala satu wilayah negara, konsep Khilafah justru dalam skala trans nasional atau tanpa batas wilayah negara. Itulah kenapa gerakan semacam ISIS dan HTI bisa menjadikan wilayah dimana saja sebagai episentrum gerakan.

Loh, bukannya ISIS sudah kalah dan HTI sudah dilarang? Memang secara entitas organisasinya, ISIS telah kalah (baca: dimatikan oleh tuannya) di Irak dan Suriah, serta Hizbut Tahrir juga dilarang di banyak negara. Tapi faktanya, ideologi Wahhabi Takfiri sebagai ruhnya ISIS dan Gerakan Khilafah sebagai semangat Hizbut Tahrir justru semakin gencar khususnya di Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Image Islam yang identik dengan kekerasan akibat kiprah ISIS sudah tercipta sebagaimana image Bani Israel dan Yahudinya yang identik dengan bangsa penjajah dan penindas. Simbol Kalimat Tauhid juga sudah menjelma sebagai momok phobia sebagaimana simbol Bintang Daud. Duh…

Akhirnya, saya berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Babe Haikal adalah bagian dari puzzle dari agenda besar para Manipulator Agama skala Global. Mulai dari agenda terselubung pemindahan Basis ISIS ke Indonesia, propaganda Jejak Khilafah di Nusantara, sampai dengan Imam Besar sebagai penentu nasib Bangsa Indonesia. Jadi, hal ini jangan dianggap sekedar gurauan belaka. Dan konflik biasanya diciptakan serta dipelihara dibalik agenda perebutan sumber daya. Karena saat ini adalah peralihan era Minyak dimana Timur Tengah sebagai episentrumnya, menjadi Lithium dan Indonesia sebagai mercusuarnya. Ini adalah Copy paste dari gerakan Zionist ke Khilafah. Kehendak para Tuan yang berlagak seperti Tuhan dan ingin terus menggengam serta mengendalikan dunia.(FAZ)

Fadly Abu Zayyan

Sumber: https://www.facebook.com/100011516113440/posts/1106145809779279/

(Suara Islam)

Loading...