Pahala Dibully (Dibohongi Pakai Anies Baswedan)

Sedang ramai dibicarakan pernyataan AA Gym tentang beruntungnya Gubernur DKI yang sedang dibully orang banyak terkait kegagalan kinerjanya. Bahwa Anies Baswedan adalah orang yang beruntung di Akhirat karena mendapat pahala akibat dibully. Sebuah pernyataan yang merujuk pada Hadits Rasulullah SAW bahwa seseorang bisa beruntung karena dighibah orang lain. Dan sebaliknya, seseorang juga bisa bangkrut di Akhirat akibat mengghibah orang lain.

Memang pahala dan dosa tentang ghibah tersebut tidak mungkin dibantah karena benar adanya. Karena hakekatnya, semua manusia pasti memiliki aib. Dan Kemuliaan kita sebagai manusia, salah satunya karena Tuhan telah menutup aib-aib kita. Sehingga sebenarnya kita tidaklah berhak membuka aib manusia yang lain. Masalahnya adalah, selain sering menerapkan standart ganda atas suatu perkara, kita juga sering menempatkan perkara bukan pada tempatnya.

Misalnya ketika seorang Jokowi habis-habisan dibully oleh para pembencinya, AA Gym cenderung diam. Juga ketika terjadi banjir di Jakarta saat era Ahok, ia juga menyebut akibat pemimpin ujub (sombong). Ini jelas sebuah standart ganda dalam menilai seseorang. Contoh lain adalah ketika Rizieq Shihab yang mengatakan Gus Dur itu Buta Matanya, juga Buta Hatinya. Jelas ini sebuah penghinaan yang bukan pada tempatnya. Bahkan bisa dikatakan sebagai menghina Allah SWT sebagai pencipta makhluk bagaimanapun keadaannya. Jangankan menghina manusia, Nabi Nuh sampai menangis meratap-ratap menyesal telah menghina Anjing yang cacat matanya.

Selain itu, AA Gym dan para pendukungnya juga tak bisa membedakan antara Kritik, Ghibah dan Penghinaan. Apa yang dilakukan netijen sebenarnya cenderung kepada kritik terhadap Gubernur DKI dan kapasitasnya sebagai pejabat publik berikut janji dan kontrak politik sebelum dipilih. Netijen lebih membahas tentang kegagalan Anies Baswedan dalam menanggulangi banjir. Bukan membully fisik sebagaimana yang pernah terjadi pada Gus Dur. Jadi menurut saya, ini bisa jadi tidak termasuk ghibah apalagi penghinaan. Meskipun diakui ada satu dua netijen yang mengaitkan dengan latar belakang SARA dan mungkin juga sebagai reaksi atas apa yang sebelumnya pernah terjadi pada Ahok.

Dan terakhir, saya cuma berandai-andai. Meski bencana adalah kehendak alam dan tak mudah ditangani, namun apa yang ditampilkan Anies Baswedan di depan panggung ternyata bagian dari unsur “kesengajaan”. Tujuannya adalah sebagai Pendidikan Politik kepada para pemilihnya bahwa betapa fatalnya akibat dari Politik Identitas. Tentu apa yang ia dapatkan bukan tergolong bullyan, melainkan umpan yang sudah dimakan dari peran ‘Badut Politik’ yang ia mainkan. Apa gak tambah nelangsa para pendukungnya? Ibarat sebuah pantun: “Habis ketemu Genderuwo, eh malah ketemu Setan. Habis dibohongi Prabowo, eh Lanjut Anies Baswedan”. Apeesss…*FAZ*

Sumber: FB Fadly Abu Zayyan

(suaraislam)

Loading...