Nikahkan Putrinya yang Masih di Bawah Umur, Ketua MUI Buru Selatan Jadi Sorotan

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buru Selatan menjadi sorotan setelah menikahkan anaknya yang merupakan siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 01 Namrole, Buru Selatan, Maluku pada 29 September lalu.

Sejumlah pihak menyoroti pernikahan anak di bawah umur tersebut diantaranya dari Ketua MUI pusat Abdullah Jaidi, dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas hingga KPAI.

“Kalau secara syari boleh dan sah. Tetapi secara UU Perkawinan dalam situasi sekarang ini belum cukup matang dan masih membutuhkan pendidikan seperti teman-temannya. Ya memang kalau sudah lulus SMA sekitar umur 18 tahun maka sudah cukup matang,” kata Ketua MUI Pusat, Abdullah Jaidi, memberikan pandangan mengenai pernikahan tersebut lewat pesan singkat, Selasa (12/10/2021) seperti dikutip dari detik.com.

Menteri Agama (Menag) Gus Yaqut Cholil Qoumas angkat bicara dan menyesalkan pernikahan tersebut. Yaqut mengingatkan soal batas usia perkawinan.

Gus Yaqut menegaskan bahwa regulasi di Indonesia telah diatur tentang batas usia perkawinan. Aturan ini sekaligus menegaskan larangan menikah bagi anak di bawah umur.

“Regulasi mengatur batas usia perkawinan. Kita punya Undang-Undang No 16 Tahun 2019 sebagai Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Di situ jelas diatur bahwa perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun,” kata Yaqut kepada wartawan, Senin (11/10).

Lebih lanjut, Menag meminta jajarannya, khususnya para penghulu, proaktif mencegah perkawinan anak. Caranya, dengan menolak mencatatkan pernikahan calon pengantin yang masih di bawah umur.

“Kecuali jika sudah mendapatkan dispensasi dari pengadilan dengan alasan sangat mendesak disertai bukti-bukti pendukung yang cukup,” jelasnya.

Dia menambahkan, untuk menekan praktik pernikahan dini, diperlukan upaya masif dan juga harus melibatkan banyak pihak, tidak cukup hanya Kementerian Agama. Pelibatan instansi lain diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya ketercukupan usia dalam pernikahan, baik dari sisi kesehatan, tumbuh kembang anak, dan masa depan anak.

“Upaya penyadaran ini termasuk penting juga dilakukan oleh media,” tutur pria yang akrab disapa Gus Yaqut ini.

Remaja Indonesia, lanjutnya, harus dididik untuk lebih mengutamakan pendidikan dan masa depan mereka.

“Jadi butuh pelibatan banyak pihak, baik para guru di sekolah maupun para penyuluh, baik agama maupun kesehatan,” tegasnya.

(Suara Islam)

Loading...