Mufti Agung Mesir: Di Zaman Ini Banyak Penceramah Tak Kompeten, Tapi Punya Pengikut Banyak

Fenomena munculnya banyak penceramah atau ustad dadakan yang tidak memiliki kapasitas keilmuan yang mapan mendapat komentar dari Mufti Agung Mesir.

Mufti Agung Mesir, Syekh Ali Jum’ah merasa heran dengan fenomena keagamaan yang terjadi belakangan ini. Kata dia, kini banyak penceramah bodoh atau miskin ilmu yang pengikutnya justru banyak dan tersebar di mana-mana.

Menurut Syekh Ali, sebenarnya hal tersebut sempat disampaikan para ulama terdahulu. Misalnya Ibnu Mas’ud yang mengatakan, suatu hari nanti bakal ada masa di mana populasi orang alim semakin sedikit, namun penceramah atau orang yang gemar bercakap-cakap justru semakin bertambah.

“Orang-orang mengira, kemampuan itu merupakan bukti keilmuan tokoh (ulama) tersebut,” ujar Syekh Ali, Kamis 27 Agustus 2020 dikutip dari dakwahnu.id.

Dia mengira, tipikal penceramah itu hanya memiliki bekal secuil untuk berdakwah. Namun, yang menjadi masalah, mereka mengaku-ngaku memiliki ilmu pengetahuan agama—khususnya hadits, kemudian mulai berani mengeluarkan fatwa dan mengajarkan ilmu tersebut kepada orang banyak.

“Akibatnya, tersebarlah fitnah di tengah masyarakat sehingga menjauhkan mereka dari kebenaran dan Manhaj yang lurus,” terangnya.

Lebih jauh, ia beranggapan, saat ini banyak pendakwah yang pintar menurut versinya sendiri, bukan menurut pengakuan orang lain ataupun jamaahnya. Bahkan, dengan kemampuan mereka yang ‘seadanya’, mereka telah bersikap sombong dan merasa paling ujub.

“Mereka berani berdusta mengenai rawi-rawi hadits dan bertindak keras kepada murid-murid mereka. Akibatnya mereka bertentangan dengan ajaran ilmu yang mereka dengarkan, dan berlawanan dengan kewajiban yang seharusnya mereka lakukan,” imbuhnya.

Syekh Ali menilai, saat ini sulit membedakan antara ulama sungguhan dan ulama ‘jadi-jadian’. Sebab, secara tampilan dan pembawaan keduanya bisa terlihat sedemikian mirip. Hal tersebut tentu berbahaya lantaran bisa menimbulkan kebingungan.

Lebih gawat lagi, mulai banyak ulama ‘jadi-jadian’ yang berani masuk ke ranah fatwa, dan berusaha memberikan pendapat mereka mengenai permasalahan yang berkaitan dengan fiqih.

“Akibatnya terjadilah praktek mendahulukan usaha sebelum sadar, mendahulukan pekerjaan sebelum pengetahuan. Dan memindahkan (menyampaikan) ilmu agama tidak melalui jalur yang benar,” kata dia. (Ahn)

(Suara Islam)

Loading...