Mereka yang Menyerang Jokowi dalam Kesempitan

Kita sedang merasakan getirnya serangan corona, konsentrasi pemerintah harus fokus, selain mengatasi penyakit yang memggerus kekuatan dunia, di waktu yang sama pemerintah harus mengendalikan berjalannya roda ekonomi agar tidak stug. Bukan pekerjaan mudah, saya tidak bisa membayangkan bgmn cara Pak Jokowi memutar pikiran pada setiap detiknya, bgmn koordinasi dengan para menteri, dsb.

Negara dengan mayoritas agama yang selalu dekat dengan Tuhan, mengaku beradab dan teriakannya menyambangi langit ke tujuh ini ternyata banyak manusianya yang meletakkan mulutnya di jepit p*nt*tnya, dan membiarkan otaknya pindah ke lututnya.

Adalah orang-orang terpelajar seperti, FZ, Haikal Hasan, RR, SBY, AHY, dan sejenisnya, mereka tidak hentinya menyerang pemerintah seolah semua salah. Bak pepatah lama, Cermin di pajang, berkaca di celah lubang, pantulannya tak terlihat mukanya.

Apakah mereka beradab, di tengah negara dilanda bencana yang meresahkan dunia, mereka mencari kesempatan menyerang, tak ada jeda sejak semula, apakah oposisi itu harus menghabisi, apakah mereka mengenal bangsanya, bagaimana pikirannya di tengah kesusahan mereka berdendang menyerang. Lock down kata AHY yang nyukur kumisnya saja belum bisa rata, RR blg rakyat tdk butuh Ibu Kota Baru, rakyat butuh presiden baru, SBY bilang rakyat tdk akan resah karena corona kalau pemerintah kredibel, FZ gak usah di komen, biarkan saja sampah busuk itu menggunung dan longsor dengan sendirinya. HH bukan kelas kita mengomentarinya.

Anak bau kencur yang kelimis krn buapaknya presiden yang setengah sinden ini jadi setali tiga uang, like father jd herder. Dia mbacot lock down, apa dia ngerti alurnya, apa dia mikir resikonya, dia pikir terus kl bisa blg lock down dia dianggap bisa, preet..mayor bekas mau ngegas, lepaslah pedalnya. Nanti saja kalau sdh pakai matic enak nyetirnya.

SBY, apa kurang kaca sekaligus monumen Hambalang yang sengaja di sisakan Pak Jokowi agar dia selalu bisa kesana saat rindu mencari judul lagu, atau kangen saat-saat nyinden yang lalu. Pak Jokowi itu khabarnya tidur hanya 3 jam sehari, makan seadanya, pikirannya hanya kerja buat rakyatnya. Eh kita punya sejarah ada presiden bekas yang sempat nyinden dan 6 kali rekaman. Pertanyaannya, kapan dia kerja, kapan dia mikirin bangsanya.

Tapi patut saja, kita tau apa hasilnya, ninggalin hutang yang hanya buat subisaidi, dan dilunasi Jokowi.

RR, manusia putus asa ini dari zaman Gusdur diangkat menteri lalu tergusur, zaman Jokowi di kasi kesempatan di gusur lagi, jadi kesimpulannya memang kapasitasnya gak ada, bisanya mencela tanpa analisa, ibarat anak kera di kasi pisang, ngupasnya saja dia tak bisa.

Banyak dan ribuan alinea kl kita mau menulis cerita orang yang cuma bisa mbacot gak bisa kerja, mereka hanya gaya saja, angkuh, sok kaya, pdhl asal usul hartanya gak jelas juntrungannya. Kalau yang belum kaya, teriak sampai serak ujungnya buka lapak juga.

Marilah coba jeda mencela, bangsa ini sedang menghadapi bahaya, jangan biasakan menari diatas ring, padahal lawannya masih ngurus yang lebih penting. Pertandingan ada waktunya, jangan mengaku juara kalau bertanding tanpa lawan tanding.

BERHENTILAH BERTERIAK YANG TANPA AKHLAK, KARENA BANGSA INI SEDANG TERSEDAK.

SIAPAPUN ANDA, KALAU MASIH DI INDONESIA, ANDA MASIH MENGHIRUP UDARANYA. JANGAN TANYA CORONA DARI MANA KARENA KITA WAJIB MENYELAMATKANNYA.

INDONESIA DALAM BAHAYA BUKAN WAKTUNYA ANDA CARI MUKA.

Sumber: FB Iyyas Subiakto dengan judul asli Menyerang dalam Kesempitan

(suaraislam)

Loading...