Menyoal Rocky Gerung: Sertifikat Tanah dan Sertifikat Moral

Manusia boleh menggugat soal hak azasi untuk tinggal dimanapun di muka Bumi, tapi jangan salah, setiap jengkal tanah memiliki legalitas kepemilikan. Jika seseorang tidak memenuhu azas hukum yang kuat atas kepemilikan tanah – meski menguasainya secara fisik – maka anda telah melanggar hak kepemilikan orang lain. Bukan hanya itu, bahkan wilayah udara juga memiliki keabsahan hak milik dari tanah di bawahnya. Namun seseorang kadang tetap berkelit, berusaha mendebat secara hukum untuk menguasai tanah yang secara hukum adalah hak orang lain.

Rocky berusaha menyeret kasus tanah yang ditempati kemana-mana. Menuduh sang pemilik tanah seolah memiliki kepentingan politik untuk mengusirnya. Ini cara lama, yang sering dilakukan siapa saja. Dalam konteks hak legalitas atas kepemilikan tanah, soal siapa Rocky tentu saja tidak ada hubungannya. Banyak orang terkenal di seluruh dunia yang tergusur karena menempati properti yang bukan miliknya.

Jika Rocky tidak memiliki legalitas yang sah atas kepemilikan tanah yang ditempati, maka dia harus hengkang. Mau tidak mau. Rocky dalam hukum internasional disebut “Squatters” – penghuni liar. Dalam istilah yang lebih keren disebut “adverse possession”, atau penguasaan yang merugikan.

Minggu kemarin staf khusus Menteri BPN menyuarakan ambiguitas; penguasaan fisik tanah juga penting sebelum mendapat legalitas. Ini menggelikan. Sertifikat tanah adalah bentuk legalitas formal yang tak terbantahkan. Adalah satu-satunya cara bagi negara untuk memberikan kepastian legalitas hak atas kepemilikan tanah. Jika dengan penguasaan fisik saja bisa membenarkan kepemilikan tanah secara hukum, maka pernyataan ini sangat berbahaya. Bisa jadi seseorang termotivasi untuk berbuat jahat, merampas tanah orang lain dengan prinsip “yang penting menguasai fisik terlebih dahulu, urusan legalitas belakangan.” Dan modus ini bisa menjadi pelumas bagi para mafia tanah dalam melakukan kejahatannya.

Dari kasus ini kita bisa melihat kesimpulan mendasar; jika Rocky memang tidak punya legalitas hukum yang kuat atas tanah yang ditempati, tapi tetap ngotot sebagai miliknya, berarti dia juga memerlukan “sertifikat moral” dan “sertifikat dungu” bagi dirinya sendiri.

Islah Bahlawi

Sumber: https://www.facebook.com/islah.bahrawi/posts/10219434188460186

(Suara Islam)

Loading...