Menyikapi Status Hadis-hadis dalam Kitab Tasawuf

Saat ngaji kitab Tasawuf Risalah Al-Mustarsyidin karya Imam Harits Al-Muhasibi kepada Syekh Dr. Khaled Al-Kharsah yang dibaca khatam selama 2 jam, sempat beliau minta ada istirahat dulu sebelum melanjutkan.

Karena Syekh masih duduk di tempat Taklimnya maka saya gunakan bertanya perihal hadis-hadis yang terdapat dalam kitab tersebut -dan kitab Tasawuf pada umumnya-, yang di catatan kaki beliau kutip dari Takhrij Syekh Abu Ghuddah dengan komentar:

هذا الحديث لم اجده فيما رجعت اليه من المراجع الحديثية والله أعلم

Hadis ini tidak kami temukan dalam referensi kitab-kitab hadis yang kami jadikan rujukan. Allah yang maha tahu (hal.39).

Syekh Khaled Al-Kharsah menjawab: “Kitab-kitab Tasawuf ini jauh sebelum masa pembukuan kitab-kitab hadis, Imam Harits Al-Muhasibi saja wafat 243 H”. Ternyata kalau kita melihat masa keemasan pembukuan dan pencatatan hadis memiliki perbedaan masa, misalnya Imam Bukhari 256 H, Imam Muslim 261 H, Imam Abu Dawud 275 H, Imam Tirmidzi 279 H, Imam Ibnu Majah 273 H, Imam Nasa’i 303 H, dan lainnya.

Beliau kemudian memberi contoh: “Dulu saya punya murid yang suka mengatakan hadis ini palsu karena tidak ada sanadnya. Setelah 20 tahun murid tersebut menemukan Makhthuthat (naskah kitab lama yang belum dicetak) ternyata riwayat hadisnya ada disana. Lalu dia berkata: “Ini sanadnya hadis Hasan”. Jadi jangan tergesa-gesa memberi penilaian status hadis hanya karena tidak tahu.

Karena kitab-kitab Tasawuf memang bersifat keutamaan dalam akhlak dan motivasi berbuat kebaikan maka tidak terlalu ketat dalam pencantuman sanad dan status hadis, seperti yang disampaikan oleh Imam As-Subki:

وَعَامَّةُ مَا فِي الإِحْيَاءِ مِنَ الْأَخْبَارِ وَالآثَارِ مُبَدَّدٌ فِي كُتُبِ مَنْ سَبَقَهُ مِنَ الصُّوْفِيَّةِ وَالْفُقَهَاءِ وَلَمْ يُسْنِدْ الرَّجُلَ لِحَدِيْثٍ وَاحِدٍ وَقَدْ اعْتَنَى بِتَخْرِيْجِ أحَادِيْثِ الاِحْيَاءِ بَعْضُ أَصْحَابِنَا فَلَمْ يَشُذَّ عَنْهُ إِلَّا الْيَسِيْرَ

“Kebanyakan dalam kitab Ihya’ terdapat riwayat hadis dan atsar yang terdapat dalam kitab-kitab sebelum Ihya’, baik kitab Shufi atau fikih dan tanpa menyebutkan sanad hadis. Dan sebagian ulama kami telah menekuni takhrij hadis kitab Ihya’ dan tidak ada yang menyelisihi kecuali sedikit saja.” (Thabaqat Asy-Syafiiyah Al-Kubra 6/118)

Menurut saya faktornya adalah ketidaksukaan kepada Tasawuf yang menyebabkan mereka membesar-besarkan tuduhan hadis palsu. Kalau mau jujur, inshaf dan objektif ternyata kitab-kitab Matan Hadis juga banyak hadis palsunya berdasarkan Takhrij ahli hadisnya mereka, Syekh Albani. Berikut datanya:

1. Sunan Abu Dawud 2 hadis palsu. 2. Sunan Tirmidzi 18 hadis palsu.
3. Sunan Ibnu Majah 46 hadis palsu.(silahkan baca kitab Ahadits Sunan Arba’ah Al-Maudhuat bi Hukm Al-Albani, karya Syekh Syauman Ar-Ramli).

Ini Sunan Ibnu Majah ada 46 hadis palsu!!!

Kesimpulan yang saya peroleh dari Syekh Khaled Al-Kharsah terkait Hadis-hadis yang belum dijumpai dalam kitab-kitab Tasawuf adalah Tawaqquf, tidak berkomentar dan cukup menyampaikan kajian dari ulama yang meneliti hadis seperti yang disampaikan oleh Syekh Abu Ghuddah di atas.

KH Ma’ruf Khozin

Sumber: https://www.facebook.com/100000539955543/posts/5189420221085925/

(Suara Islam)

Loading...