Menyibak Sisi Intelektualitas Syaikhana Khalil Bangkalan

Ilustrasi, Syaikhona Kholil. Foto: Istimewa

Menyebut nama Shaikhana Khalil maka tidak bisa dilepaskan dari tiga hal, yakni: dimensi sufistik, berdirinya jam’iyyah NU dan intelektualitas. Dua item yang berkaitan dengan sufistik dan jamiyyah NU telah banyak yang membahasnya. Bahkan saking kuatnya sisi sufistik yang melekat pada Shaikhana, berimbas pada kurang tereksplornya sisi intelektualitas Shaikhana Khalil.

Adalah Lajnah Turats Ilmi Shaikhana Khalil Bangkalan, sebuah perkumpulan yang dibentuk pada tahun 2019 oleh dzuriyyah Shaikhana Khalil Bangkalan dalam rangka mengeksplor sisi intelektualitas Shaikhana, dengan harapan masyarakat bisa mengenal keilmuan Guru ulama Nusantara tersebut di berbagai bidang (mutafannin).

Kiranya tepat testimoni dari para tokoh seperti Sayyid Salim bin Jindan yang mengatakan bahwa “Shaikhana Khalil adalah Wali agung, Qutb yang mashur, ‘alim dan berwawasan luas, yang mampu menyelesaikan persoalan pelik, dan keilmuannya bagai lautan yang dalam ketika mengurai kemuskilan”.

Begitu pula Kiai Ahmad Qusyairi bin Kiai Siddiq mengatakan “Shaikhana di bidang nahwu seperti Imam Sibawaih, di bidang fikih seperti Imam Nawawi, di bidang kewalian (tasawuf), kashf, karamah seperti Shaikh Abdul Qadir al-Jilani”.

Shaikh Yasin Padang pun ikut berkomentar perihal kealiman Shaikhana Khalil dengan menyebutnya ” al-Imam al-‘arif bilLah, yang mashur sebagai kekasih Allah, memiliki karamah, mufassir, musnid, muhaddis, sufi, ahli qiroah, mursyid”.

Dengan demikian tidak mengherankan bilamana genealogi keilmuan yang diturunkan Shaikhana Khalil kepada murid-muridnya mengantarkan mereka menjadi ulama besar yang pakar di berbagai keilmuan pula. Misal, KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Abdul Karim Lirboyo, KH. Romli Tamim Peterongan, KH. Munawir Krapyak, KH. Asad Syamsul Arifin, KH. Muharram Karangkates, KH. Mansur Blitar, KH. Makruf Kedunglo, Kiai Toha Pamekasan, Kiai Abd Majid Pamekasan, Kiai Abi Sujak Astatinggi, Kiai Muhammad Hasan Genggong, Kiai Zaini Paiton, Kiai Khozin Buduran, dll.

Kesaksian para ulama di atas secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa Shaikhana alim-allamah di berbagai fan ilmu yang dituangkan dalam makhtutat (manuskrip). Di antara beberapa karya Shaikhana yang saat ini sudah terkumpul ada 28 manuskrip, dan yang sudah diterbitkan dicetak (tahqiq) masih 5 judul. Sedangkan manuskrip lain masih tahap proses ditahqiq dan selanjutnya akan diterbitkan. Berikut 5 judul kitab tersebut:

1. Isti’dad al-Maut,

2. Taqrirat Shaikhana ala manzumat nazhat al-Tullab fi Qawaid al-I’rab,

3. Kitab al-Bina fi ilm al-Tasrif,

4. Taqrirat Shaikhana ala matan al-‘Izzi fi ilm al-Sarf,

5. Ratib Shaikhana Khalil.

Semangat dzuriyah “nguri-nguri”, melestarikan kembali turats ini tidak terlepas dari motto “muhafadzah ala al-Qadim al-Salih wa al-akhz bi al-Jadis al-Aslah” sekaligus penegas bahwa Shaikhana Khalil bukan sekedar waliyullah yang memiliki keramat namun juga intelectual, penulis produktif.

Artinya, Shaikhana Khalil menguasai—meminjam istilah Abed al-Jabiri—bayani, burhani serta irfani. Sayangnya yang kerap dipublish hanya irfaninya saja. Oleh karena itulah, Lajnah Turats Ilmi Shaikhana yang diketuai Lora Utsman Hasan al-Akhyari menggagas Pameran manuskrip dan diskusi khusus karya-karya Shaikhana yang akan diadakan pada tanggal 7-8 Juni pukul 09.00-12.00 di Hotel Ningrat Bangkalan.

Acara ini akan dihadiri oleh KH. Miftachul Akhyar, KH. Bahauddin Nursalim, KH. Afifuddin Muhajir, KH. Afifuddin Dimyati, Dr. Ginanjar Sya’ban dan beberapa tokoh, akademisi dan tentunya pecinta turats ulama nusantara. Bagi yang ingin hadir, silahkan hubungi panitia: Dr. Muhaimin 082331902290, Ahmad Mujalli, M.H.I 085728100246.

Ahmad Karomi

Sumber: https://www.halaqoh.net/2021/06/menyibak-sisi-intelektualitas-shaikhana.html?

(Suara Islam)

Loading...