Menyebar Hoax dengan Gaya Bertanya

Yang dilakukan Andi Arief, meminta KPU melakukan pengecekan terhadap adanya berita (hoax) 7 kontainer surat suara yang sudah tercoblos, adalah cara baru penyerbaran hoax tanpa harus merasa ikut bersalah, bahwa itu adalah bagian dari (teknik) penyebaran hoax.

Apa yang dilakukan Andi Arief, mempertegas yang pernah saya posting beberapa waktu lalu; Musuh kemanusiaan bukanlah kebodohan, tetapi orang yang (mungkin) pintar, berpendidikan, beragama, tapi culas.

Ajaran-ajaran agama apapun, setidaknya yang pernah saya bacai, selalu lebih menekankan ukuran pada perbuatan manusianya. Bagaimana perbuatannya, adalah cerminan kualitas pengetahuan teoritik dan etik seseorang dalam kaitan interaksi dengan kitarannya.

Di situ pendidikan dan agama tak bisa menjadi jaminan. Ada proses yang harus dinilai, bagaimana pikiran dan perbuatannya setelah ‘terdidik’ dan ‘teragama’? Bisa saja sangat tidak mencerminkan dua hal itu.

Kembali ke soal Andi Arief. Sebagai pengurus pusat Partai Politik, sungguh tak mungkin tidak tahu jadwal KPU (sebagai penyelenggara Pemilu) dalam mencetak kertas, dsb. Sebagai orang politik, mestinya tahu KPU adalah lembaga independen. Kalau tidak tahu, berarti dia politikus jejadian, politikus goblog, sekalipun pernah kuliah filsafat di UGM.

Jika pun tidak tahu (lupakan kegoblogannya), ia tokoh publik, elite partai, apalagi pernah menjadi staf khusus seorang presiden. Mestinya, adab komunikasi yang baik dia pakai jalur sepantasnya, sesuai dengan reputasinya. Dia punya hotline.

Ini memang jaman medsos. Semua orang bebas berkomunikasi. Tapi yang dilakukan Andi Arief, dalam kapasitas yang melekat pada dirinya, bukan cerminan sikap yang arief bijaksana. Namanya saja yang arief, tindakannya tidak arief. Yang dilakukannya sama dan sebangun dengan ‘orang biasa’, rakyat jelata yang mungkin pendidikan formalnya lebih jelek, mungkin agama (beragamanya maksud saya) juga lebih jelek.

Jika dia beralasan ini bukan sikap nyinyir (tapi tabayun, konfirmasi), sebagai pemain yang ikut bertanding dalam Pemilu, mau tak mau orang bisa menudingnya memainkan isu. Itu bukan sesuatu yang tak disengaja. Apalagi tuitan twitternya itu kemudian dihapus, tanpa klarifikasi minta maaf atau ikut menjelaskan.

Orang yang bertanya untuk kepentingan publik, tapi ketika mendapatkan jawaban dan tak ikut menyebarkan jawaban itu (malah menghapus tuitan pertanyaannya), dalam komunikasi dia sedang melakukan kondisioning. Karena bukan jawaban yang dimaksudkan, tapi efek mediasi yang diharapkan.

Orang-orang pinter, yang pura-pura netral (biasanya mendukung Prabowo), sering memakai gaya komunikasi seperti itu. Mereka menyebarkan hoax dengan gaya bertanya atau minta konfirmasi. Jika bukan culas, apa namanya, meski (sekali lagi) dia berpendidikan dan beragama? Jawabannya: Kepentingan!

Sumber: FB Sunardian Wirodono

(suaraislam)