Mengapa Ada Anggota FPI Jadi Teroris? Penelusuran Pemikiran Habib Rizieq

Habib Rizieq dipengaruhi ole Sayyid Quthb, utamanya dalam doktrin Hakimiyyah (Kedaulatan di tangan Tuhan). Inilan ulasan singkat pemikiran Habib Rizieq dalam disertasinya di Malaysia.

FPI disebut dalam penangkapan terduga teroris yang terkait dengan jaringan terduga pelaku bom bunuh diri di Makassar. Hal ini karena ditemukan KTA dan seragam FPI di lokasi penggerebekan. Selain itu, terduga teroris juga diketahui menghadiri sidang Habib Rizieq dalam dua kali sidang terakhir. Temuan ini semakin menambah daftar panjang keterhubungan FPI dengan kelompok ekstremis.

Keterhubungan FPI dengan kelompok ekstremis seperti Jamaah Anshorut Daulah (JAD) yang terafiliasi dengan ISIS, pernah dibantah oleh Munarwan. Jubir FPI. Munarman menyebut bahwa FPI tidak ada hubungan dengan JAD karena “berbeda manhaj”. Apa yang dimaksud Munarman dengan “Berbeda manhaj” yang membuat FPI dan JAD, lalu ISIS di belakangnya, tidak mungkin terhubung?

Sebelum itu, muncul narasi bahwa FPI adalah penganut Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang secara akidah dan amaliyah sama dengan organisasi tradisionalis, NU. Agaknya, yang dimaksud Munarman dengan “Berbeda manhaj” adalah perbedaan pandangan dalam persoalan akidah dan amaliyah ibadah. Dimana, JAD dan ISIS dikenal mengikuti pandangan Sunni-Wahabi yang sangat puritan, menentang segala yang berbau syirik dan bid’ah, sedangkan FPI berhaluan tradisionalis yang menganut mazhab dalam persoalan akidah, fikih dan tasawuf yang cenderung menerima tradisi Islam yang populer di masyarakat.

Hal ini ada benarnya. Benar, bahwa FPI lebih dekat dengan NU dalam persoalan akidah dan amaliyah ibadah serta sikap terhadap tradisi Islam populer. Benar, FPI didukung oleh sejumlah tokoh agama yang memiliki latar belakang tradisional ala NU. Tetapi, yang perlu digarisbawahi, FPI dan NU berbeda dalam pemikiran dan gerakan kebangsaannya.

FPI, sebagaimana dapat dilacak dalam pemikiran Habib Rizieq yang tertuang dalam disertasinya, sangat dipengaruhi oleh doktrin yang berkembang di kalangan Ikhwanul Muslimin dan Wahabisme. Dimana, ISIS dan JAD, kelompok yang lahir dari Al-Qaeda yang menggabungkan pandangan politik pan-Islam Ikhwanul Muslimin dan teologi Wahabisme.

Habib Rizieq merupakan tokoh intelektual yang sukses menghadirkan FPI dalam kontestasi Indonesia kontemporer; sejak dari fondasi pemikiran hingga gerakan organisasi, Habib Rizieq lah thinker-nya. Tanpa Habib Rizieq, FPI akan segera kehilangan tajinya sebagaimana dapat dilihat ketika Habib Rizieq tertahan selama bertahun-tahun di Arab Saudi. Habib Rizieq lah pemikir utama, kalau bukan satu-satunya, di kalangan FPI. Dengan demikian, ideologi FPI adalah pandangan Habib Rizieq itu sendiri.

Jika disebut bahwa FPI dalam hal ini tercermin dalam pemikiran Habib Rizieq Syihab memiliki tingkat keterpengaruhan Ikhwanul Muslimin dan Wahabisme dalam pemikiran politiknya, seperti apa tepatnya?

Doktrin Hakimiyyah

Hakimiyyah berarti kedaulatan hukum berada di tangan Tuhan. Doktrin ini dikembangkan oleh pemikir Islamis Pakistan, Abul A’la Al-Maududi, lalu dikembangkan Sayyid Quthb di Mesir. Sebagian intelektual berhaluan Wahabi mengembangkan konsep Tauhid Hakimiyyah. Dimana konsep kedaulatan Tuhan menjadi salah satu bentuk tauhid yang harus diimani Muslim, pelanggaran terhadap doktrin tauhid ini akan berkonsekuensi kemusyrikan yang dapat mengeluarkan seseorang dari identitas keislaman. Hal ini misalnya dikembangkan oleh Amin Sinqithi dalam Tafsir Adhwa’ul Bayan Fi Tafsir Al-Quran Bi Al-Qur’an, dan dielaborasi oleh Abdurrahman bin Abdul Aziz As-Sudais dalam disertasinya yang berjudul Al-Hakimiyyah Fi Tafsir Adhwa’ Al-Bayan. Karya yang terakhir digunakan para pendukung ISIS menyebarkan propagandanya dan telah diterjemahkan oleh Aman Abdurrahman. Dalam beberapa versi Wahabisme, model tauhid Hakimiyyah ditolak.

Habib Rizieq mengutip, dan sepertinya mendukung sekali konsep Hakimiyyah, terutama yang dikembangkan oleh Sayyid Quthb. Habib Rizieq yang dalam disertasinya berbicara tentang penerapan Syariat Islam dalam naungan Pancasila, menginginkan agar hukum Islam menjadi rujukan dalam konstitusi dengan cara menafsirkan sila pertama sebagai sila pokok dan menjadi acuan penafsiran terhadap sila-sila lainnya dalam Pancasila.

Habib Rizieq dalam ulasannya tentang kewajiban menegakkan syariat Islam mengutip Qs. Al-Maidah: 44-47, dimana secara tekstual dikatakan bahwa orang-orang yang tidak menegakkan hukum Allah divonis kafir, fasik dan zalim. Untuk menguatkan pandangannya terhadap ayat tersebut, Habib Rizieq mengutip Sayyid Quthb;

“Kafir kerana menolak Ketuhanan Allah yang tercermin dalam penolakan Syariah-Nya. Dan Zalim kerana membawa manusia kepada selain Syariah Allah, serta menyebar kerusakan dalam kehidupan mereka. Serta Fasiq kerana sudah keluar dari aturan Allah dan mengikuti selain jalan-Nya.” (Fi Zhilal Al-Qur’an, juz 6, hlm. 901).

Habib Rizieq setelah mengutip Sayyid Quthb, Habib Rizieq mengutip penjelasan ahli fiqih Syria Mustafa Hin dan Mustafa Dib, serta penafsiran Hamka dan Quraish Shihab; yang berbicara tentang bentuk-bentuk kekafiran. Narasi Habib Rizieq dalam disertasinya jelas mengarahkan pada pembahasan kemungkinan kekafiran Muslim yang tidak menerapkan syariat Islam. “Kekafiran” menjadi kata kunci penting sebagai konsekuensi tidak dilaksanakannya syariat Islam.

Habib Rizieq juga menyatakan bahwa hukum di luar syariat adalah hukum jahiliyyah; meminjam nomenklatur Al-Quran. Penjelasan tentang konsep jahiliyyah merujuk kepada Sayyid Quthb. Untuk menunjukkan otoritas Sayyid Quthb dalam tafsirannya, Habib Rizieq mengutip penerimaan Syekh Ali As-Shobuni –tokoh yang dihormati Muslim tradisional. Habib Rizieq juga memuji Sayyid Quthb dengan sebutan “As-Syahid”.

Kecenderungan Habib Rizieq dalam kajiannya ini adalah menambahkan dukungan rujukan dari tokoh intelektual modern, yang terkadang diterima oleh kalangan tradisional. Tetapi, sepertinya agak jarang Habib Rizieq merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang klasik atau tafsir yang disusun oleh ulama golongan bermazhab.

Di sini, dapat diketahui sepintas bahwa Habib Rizieq memiliki kecenderungan mendukung pemikiran Sayyid Quthb tentang doktrin Hakimiyyah. Padahal, jika beliau mau merujuk karya tafsir klasik, akan ditemukan beragam pendapat tentang ayat ini.

Qs. Al-Maidah: 44-47 merupakan ayat yang menjadi pokok gagasan kaum Khawarij pada abad pertama Islam. Mulai digunakan lagi pada abad modern ini guna mendukung agenda pendirian negara Islam. Para aktivisnya, sekalipun memiliki istilah yang berbeda-beda, tetapi ingin menjadikan agama Islam sebagai dasar negara. Habib Rizieq, sebenarnya ingin berkompromi dengan realitas, dengan mengakui Pancasila sebagai dasar negara; namun Pancasila dalam imajinasi Habib Rizieq adalah yang ditafsirkan berdasarkan doktrin Hakimiyyah.

Habib Rizieq merasa mendapatkan pembenaran dengan praktik para penguasa di Indonesia dalam perjanalan Indonesia. Dimana, para penguasa sekalipun mengatasnamakan Pancasila, tetapi dalam praktiknya tafsir atas Pancasila berbeda-beda sesuai kecenderungan Presidennya. Era Soekarno, Pancasila ditafsirkan dengan kecenderungan kiri-Marxis. Era Soeharto, Pancasila ditafsirkan dengan kecenderungan jawa sentris. Habib Rizieq menyebutnya “Kejawen”. Pasca reformasi, Megawati dan SBY memilik kecenderungan yang berbeda-beda. Ini artinya, sebenarnya tafsir atas Pancasila sangat ditentukan pemegang kekuasaan. Jika mereka yang sekuler dalam pandangan Habib Rizieq bisa menafsirkan Pancasila, maka kelompok Islam juga dapat menafsirkannya sesuai dengan perspektifnya sendiri. Ini artinya, formalisasi syariat Islam sebenarnya sangat dimungkinkan dalam konteks Pancasila. Inilah yang membedakan Habib Rizieq dengan pengikut ISIS seperti Aman Abdurrahman dan JAD.

Tetapi, bagi sebagian anggota jaringan JAD, rupanya FPI dianggap memiliki kesamaan misi dan agenda sehingga mereka merasa tidak masalah bergabung di bawah bendera FPI. Terlepas dari konteksnya penyusupan atau kesamaan agenda, pada akhirnya, ada sebagian jaringan JAD yang menaruh harapan pada FPI dan bergabung di dalamnya. Inilah, mengapa ada anggota FPI baiat kepada pemimpin ISIS di Sulawesi pada tahun 2015-an, lalu hari ini mereka ditangkap karena dugaan keterlibatan jaringan pelaku teror.

M Khoirul Huda

Sumber: https://harakah.id/mengapa-ada-anggota-fpi-jadi-teroris-penelusuran-pemikiran-habib-rizieq/

(Suara Islam)

Loading...