Menelusuri Keberadaan Gerakan Wahabi di Indonesia

Berikut tulisan dan analisis ustad Abdi Kurnia Djohan tentang keberadaan gerakan Wahabi di Indonesia:

1. Gerakan Wahabi pertama kali muncul di Nusantara pada tahun 1800-an (akhir abad ke-19). Gerakan ini muncul pertama kali di Minangkabau, dipelopori oleh santri Minangkabau, Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Kemunculan Gerakan Wahabi di Minangkabau ditandai oleh konflik dengan para pemimpin tarekat tassawuf, yang dianggap tidak melakukan upaya untuk menguatkan syariat di Ranah Minang. Nama Imam Bonjol atau Peto Syarif disebut-sebut terseret, oleh arus Gerakan Wahabi, karena keterlibatannya di dalam Perang Paderi. Apakah benar Imam Bonjol, berada satu paket dengan Gerakan yang diinisiasi oleh Tiga Santri Minang tersebut, hingga saat ini belum ada klarifikasi yang didasarkan kepada riset yang mendalam mengenai hal tersebut;

2. Sementara itu, di Pulau Jawa, resonansi Gerakan Wahabi memancing kegaduhan di kalangan Kiai. Adalah Kiai Amir Maskumambang, putera dari Kiai Faqih Maskumambang, yang diketahui menyebarkan paham Wahabi, yang pernah ditolak ayahnya. Meskipun tidak pernah melakukan penyebaran secara masif, sikap Kiai Amir Maskumambang yang mendukung pemikiran Wahabi, menarik simpati sebagian santri dan kalangan awam untuk ikut mengembangkan paham yang berasal dari Nejed tersebut.

3. Hiruk pikuk keberadaan paham Wahabi tenggelam oleh perjuangan kooperatif dan diplomasi para pejuang, melawan Belanda. Kendati pernah menimbulkan kehebohan, para tokoh umat ketika itu lebih memfokuskan energi mereka untuk mengupayakan kemerdekaan bangsa dibandingkan mengurusi keberadaan kelompok sempalan,

4. Pada era 1940-an hingga era 60-an, isu Wahabi surut dari perdebatan publik. Kalaupun muncul di permukaan, perdebatan antara Wahabi dengan kalangan tradisional hanyalah bersifat sporadis. Ini bisa dibaca di dalam disertasi Delia Noer, Gerakan Politik Islam Moderen (1911-1940).

5. Pada era 1970-an, isu Wahabi praktis tidak ada. Ormas-ormas Islam yang sempat saling bertegang melakukan modus vivendi untuk melakukan penguatan visi politik, pasca fusi partai-partai Islam, menjadi PPP.

6. Pada awal 1980-an, M. Natsir mencoba untuk membangun kontak dengan Saudi Arabia, karena didorong oleh beberapa hal: 1. Intimidasi yang dilakukan lingkaran Soeharto terhadap semua eks Masyumi; 2. Makin masifnya gerakan Kristenisasi di desa-desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur; dan 3. Makin meluasnya dukungan umat Islam Indonesia terhadap Revolusi Iran (1979);

7. Upaya yang dilakukan oleh Moh. Natsir itu menjadi pintu masuk kembali bagi gerakan Wahabi yang pernah masuk secara individual pada akhir era 1800-an. Berkat diplomasi yang dibangun oleh M. Natsir, Saudi Arabia membuka cabang lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Universitas Imam ibnu Su’ud. Lembaga itu untuk pertama kali diberi nama LPBA (Lembaga Pengajaran Bahasa Arab), yang memilih tempat di Cikini lalu kemudian bergeser ke Salemba.

8. Keberadaan LPBA, yang kemudian berubah menjadi LIPIA, ini memberi dampak signifikan bahwa para lulusan pesantren yang terbentur syarat administratif untuk melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Pada masa awal keberadaannya, bisa dikatakan mayoritas mahasiswa LPBA berasal dari pesantren-pesantren NU yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kiai Ulil Abshar Abdalla diketahui pernah mengenyam pendidikan di LPBA/LIPIA selama 4 tahun.

9. Pada masa keberadaannya LPBA/LIPIA tidak menegaskan oritentasi ke-wahabi-an. Lembaga pendidikan ini lebih menegaskan sebagai tempat berkumpulnya umat Islam dari berbagai kelompok di Indonesia.

10. Yang menarik, pada era 80-an dan 90-an, LPBA/LIPIA menjadi hub masuknya pemikiran gerakan Islam di Timur Tengah, di antaranya adalah al-Ikhwan ul-Islam. Buku-buku dari penulis al-Ikhwan banyak dijumpai di perpustakaan LIPIA pada masa-masa tersebut. Beberapa informasi menyebutkan bahwa untuk mendapatkan materi-materi tarbiyah para murabbi harus sering mendatangi LIPIA untuk mendapatkan bahan.

11. Memasuki era 1990-an, hubungan Soeharto dengan jaringan Benny Moerdani merenggang. Soeharto mencurigai manuver yang dilakukan oleh Jend. Benny Moerdani cs. Kecurigaan Soeharto itu ditandai dengan dikuranginya peran Benny Moerdani di lingkup Kabinet. Seoharto pun dimusuhi. Isu Timor Timur diangkat.

12. Dalam situasi seperti itu, Soeharto mencoba merangkul kelompok-kelompok Islam. NU menolak. Dosa-dosa Soeharto terhadap NU sulit untuk dilupakan. Soeharto akhirnya merangkul kalangan modernis. (nanti dilanjut)

Sumber: FB Abdi Kurnia Djohan

(suaraislam)

Loading...