Menata Kata Bagian Iman

Jagad medsos dan dunia nyata tengah dihebohkan oleh “laku sosial dan politik” beberapa oknum yang telah mencederai keluhuran adat, budaya, moral, dan agama. Laku oknum yang dimaksud berkaitan erat dengan suguhan ujaran kata yang tidak beradab yang disampaikannya kepada guru bangsa dan pejabat Negara tempatnya bernaung. Sematan kata “Prof. sesat ini” dan nyinyiran bernada sumpah “Tusukan setingan, semoga mati saja”, merupakan suguhan kata yang lumayan mencederai.

Dalam konteks dialog atau diskusi, tensi bicara yang meninggi dan pemotongan pembicaraan lawan diskusi, lumrah saja terjadi. Begitu pula halnya dengan kejadian miris yang menimpa mantan petinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) kita. Pernyataan bela sungkawa kepadanya sangat baik dinyatakan. Akan tetapi, ujaran “nyinyir” yang kontennya “penyorakan negatif” dari keluarga besar internal TNI itu sendiri, tentu lah merupakan hal yang patut disayangkan. Bukan apresiasi yang didapat, aneka petisi, tudingan, dan pencopotan jabatan pun, menjadi petaka baru yang disemat.

Ragam kejadian negatif yang mewabah ini, bertumpu pada ketidakmapanan suasana batin dan ketidakcapan dalam berujar kata dari si pelaku. Tentu ini bukan fenomena langka. Hal ini seolah sudah mewabah di tengah belum move on-nya kita dari kontestasi politik pasca Pilpres waktu lalu.

Agaknya kita memerlukan sebuah oase yang mampu memenuhi dahaga moral dan spiritual kita. Supaya keakutan moral yang disuguhkan itu, tidak ikut merasuki keutuhan moralitas bangsa dan agama. Bila hal ini dibiarkan begitu saja, label negeri timur nun santun yang melekat pada diri bangsa, semakin menjauh dan kehilangan elanvitalnya. Revitalisasi pemaknaan ajaran agama dan laku budaya menjadi perkara penting di tengah derasnya arus digitalisasi komunikasi zaman ini.

Kata-kata Cerminan Keimanan

Tidak sulit menemukan dalil teks suci untuk menjustifikasi bahwa laku individu di atas sebagai bentuk patalogi sosial yang mesti dihindari. Justifikasi berdasar dalil suci dipandang signifikan mengingat bahwa, sebagai bangsa yang beragama, kita kerap menyandarkan setiap laku sosial kita kepada sumber teks suci, utamanya Islam.

Ada banyak isyarat dan wejangan apik dalam Qur’an dan Hadis supaya umat ini mampu menata dan mengelola kata, termasuk diri, lisan, dan qolbu-nya. Bahkan, penataan aspek ini berkaitan erat dengan pengukuhan keimanan. Sebut saja Qur’an Surat Qaaf ayat 18. Disebutkan bahwa “Apa yang dilafalkan dalam bentuk ujaran, melainkan ada Malaikat Roqib dan ‘Atid yang mendokumentasikannya”. Ayat ini mengesankan bahwa penataan maksimal lisan dan ujaran, merupakan bagian dari pengukuhan keimanan yang benar kepada Allah dan malaikat-Nya. Bila si pengujar kata buruk―baik ujaran langsung maupun tidak (ujaran kata melalui medsos)―memahami bahwa setiap ujarannya didokumentasikan oleh Malaikat, maka pastilah pengujar akan mawas diri secara maksimal. Bukan sebatas ujaran, tetapi mencakup semua laku sosialnya. Artinya, ketidakcakapan umat hari ini dalam mengumbar kata, merupakan indikasi bermasalahnya sisi keimanannya.

Sejalan dengan ayat itu, Nabi pun acapkali menggarisbawahi bahwa menata lisan (ujaran) merupakan perwujudan apik dari keimanan kita kepada Allah dan Hari Akhir. Mengapa Allah dan Hari Akhir? Karena apa yang diutarakan, semuanya disaksikan, dicatat, dan dipertanggungjawabkan nanti di hari kelak. Bahkan, betapa pentingnya menata kata ini, Nabi kemudian menekankan bahwa, diam adalah solusi terbaik agar terhindar dari mengumbar kata yang tidak baik (hadis sahih riwayat Bukhori dan Muslim). Signifikansi diam dalam menepis obral kata buruk menjadi sangat penting dalam konteks ini. Wejangan orang tua dahulu “Diam itu emas”, menjadi sangat relevan dalam rangka mencegah keterjatuhan diri dalam berujar kata.

Berangkat dari wejangan ini, dapat kita pahami bahwa kepiawaian menata kata merupakan indikasi baiknya iman seseorang. Sebaliknya, ketidakcakapan dalam berujar adalah sisi luar dari bermasalahnya keimanan. Bahkan, dalam riwayat yang lain, secara lugas disebutkan bahwa “Iman seseorang itu tidak akan menyempurna sampai qolbu-nya menjadi baik (sehat), dan qolbu itu tidak akan menyempurna sampai lisannya menjadi baik (hadis hasan riwayat Ahmad). Ini berarti, pergumulan iman dan qolbu menentukan out put yang keluar melalui lisan.

Mulutmu Harimaumu

Relevan dengan ajaran teks suci di atas, kita pun kerap mengabaikan petuah-petuah apik dari leluhur masa lalu. Petuah itu muncul berangkat dari bahasa batin mereka yang tentu saja sejalan dengan prinsip dan anutan agama yang diyakini.

Pribahasa “Mulutmu harimaumu”, sejatinya merupakan petuah lama yang menggambarkan betapa beringas dan bahayanya dampak dari apa yang diujarkan oleh pelaku. Bila mulut digambarkan layaknya harimau, maka mulut tadi dapat menggigit, mencakar, merobek, dan membunuh apa saja yang bisa dibuatnya. Bukan sebatas mangsanya saja, ia sendiri pun bisa saja menjadi korban keberingasan dirinya akibat ketidakmampuannya dalam mengendalikan diri.

Lagi-lagi petuah ini kurang mendapat signifikansinya di tengah kehidupan belantara jagad permedsosan kita hari ini. Keberingasan jagad medsos dan dunia nyata kita dewasa ini sudah berada dalam levelnya yang parah. Harimau-harimau pemangsa itu sudah berkeliaran bebas di mana-mana. Boleh jadi, diri kita pun bisa saja menjadi harimau pemangsa itu.

Oleh sebab itu, dibutuhkan suara-suara langit supaya keberingasan sang pemangsa dapat dikendalikan. Karenanya, revitalisasi pemaknaan ajaran agama dan budaya menjadi penting diwujudkan. Agar tidak ada lagi harimau-harimau liar nun ganas memangsa dan membunuh siapa pun, termasuk dirinya sendiri di belantara jagad maya dan nyata ini.

Menata diri secara maksimal untuk tidak berujar (umbar kata) kecuali yang baik, menjadi hal mendesak yang harus dilakukan. Pembenahan aspek terdalam diri berupa iman dan qolbu merupakan perkara besar yang harus terus diperjuangkan. Keseluruhan aspek ideal ini bila dilakukan, maka tidak akan ada oknum yang berani nekad mengumbar kata-kata buruk. Mari kita tata kata (ujaran) kita. Semoga peradaban langit bisa diwujudkan, di tengah belantara jagad medsos dan dunia nyata kita yang semakin mengerikan ini. Semoga.

Satera Sudaryoso, Direktur Kahmi Institute Babel

(suaraislam)