Menakar Kelogisan dan Kenalaran Kontroversi Analogi Gus Men

Sekitar setahun yang lalu (April 2021), artis Zaskia Adya Mecca, istri dari Hanung Bramantyo pernah viral gara-gara cuitannya di Instagram. Ia mengatakan bahwa cara membangunkan sahur menggunakan pelantang masjid di sekitar rumahnya dinilai berlebihan, nggak lucu, nggak etis, dan nggak menghargai orang lain. Hal itu mengingat di Indonesia kita hidup bersama di lingkungan yang multikultur, multiagama. Mestinya kondisi itu menjadi dasar pertimbangan penggunaan pelantang masjid supaya tidak ada yang merasa terganggu.

Di waktu yang bersamaan dengan viralnya cuitan tersebut, saya berkunjung ke rumah ART (Asisten Rumah Tangga) yang hari itu tidak masuk kerja. Dengan berkaca-kaca dia bercerita bahwa suara tadarus musala menggunakan toa di sekitar rumahnya tidak berhenti sejak sehabis salat tarawih hingga waktu sahur, kemudian salat subuh. Kemudian bertadarus lagi dengan pelantang sampai matahari terbit, bahkan sampai pukul 08.00. Pengeras suara tadarus dari musala di lingkungan rumahnya menyebabkan ART saya kurang istirahat.

Nah, kasus pernyataan yang viral kini menimpa Menteri Agama, Bapak Yaqut Cholil Qoumas (akrab dipanggil Gus Men). Unggahan video wawancaranya dengan wartawan pada acara di Pekanbaru Riau, viral di media sosial. Hal itu terkait penerbitan Surat Edaran Nomor SE.05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras suara di Masjid dan Musala. Terdapat empat hal yang dihadirkan analoginya oleh Gus Men dalam wawancara tersebut, yaitu suara toa ketika azan di masjid dan musala, suara toa dari tempat peribadatan nonmuslim, suara gonggongan anjing di perumahan, dan suara truk yang dibunyikan secara bersamaan. Hal itu jelas berbeda dengan kontroversi yang kemudian viral, seolah Gus Men menyamakan suara azan dengan gonggongan anjing.

Proses komunikasi tidak sebatas berupa penyampaian pesan oleh pembicara, namun juga bisa menghadirkan dampak pesan. Pada pernyataan Gus Men, pesan yang ingin disampaikan adalah kebisingan dari beberapa hal berikut dapat menggganggu kenyamanan masyarakat di sekitarnya. Pertama, kebisingan suara toa di masjid dan musala. Kedua, kebisingan suara toa dari rumah ibadah nonmuslim. Ketiga, kebisingan suara gonggongan anjing, dan keempat adalah kebisingan suara truk. Pada konteks demikian jelaslah bahwa keempatnya sedang disamakan dalam hal suara kebisingannya. Dengan demikian menjadi gamblang bahwa persepsi yang menyatakan bahwa Gus Men membandingkan (apalagi menyamakan) suara azan dengan suara gonggongan anjing adalah penafsiran yang tahapan kelogisan dan nalarnya patut dipertanyakan.

Pada konteks komunikasi lisan, kita memang tidak mudah menata kalimat dengan keruntutan logika yang tepat. Hal yang dapat menjadi instrumen untuk lebih memahami komunikasi lisan adalah gesture, mimik muka, dan atau kontak mata. Hal itu sangat mempengaruhi keberhasilan kita saat melakukan komunikasi lisan. Oleh karena itu jenis komunikasi tertulis, atau komunikasi lisan dengan cara membacakan tulisan merupakan alternatif aman bagi pejabat publik ketika harus menyampaikan hal-hal menyangkut urusan pemerintah, urusan pekerjaan, dan perjanjian.

Baik komunikasi lisan maupun komunikasi tulis, sebenarnya sama-sama tidak menjamin kita akan terbebas dari gangguan dalam komunikasi. Gangguan komunikasi yang dimaksudkan wujudnya berupa terjadinya tafsiran yang bahkan berubah jauh dari esensi pesan, atau bisa juga pesan yang disampaikan teralihkan kepada penerima pesan yang berbeda. Pada konteks pernyataan Gus Men yang viral dan menjadi kontroversi, telah terjadi kesalahpahaman penerimaan isi pesan yang masuk kategori gangguan komunikasi secara semantik. Wujudnya berupa penerimaan berbeda antara pemahaman pendengar dengan maksud pembicara.

Pada pernyataan Gus Men yang menggunakan empat analogi, maka hal yang dimaksudkan adalah bisingnya bunyi toa, riuhnya suara pelantang dari peribadatan nonmuslin, gaduhnya suara gonggongan anjing, dan hiruk-pikuknya suara truk. Keempatnya adalah contoh-contoh suara bising yang dapat menyebabkan masyarakat di sekitarnya kurang nyaman. Kembali ditegaskan bahwa bukan menganalogikan suara azan dengan bunyi gonggongan anjing, dengan suara di rumah ibadah nonmuslim, dan bukan dengan bunyi truk. Jika penerimaan dan tafsiran sebagian khalayak bahwa Gus Men menganalogikan suara azan dengan suara gonggongan anjing, maka berarti telah terjadi komunikasi yang tidak berhasil karena terdapat gangguan semantik.

Hal apakah yang menjadi penyebab kesalahan penerimaan atau penafsiran pesan? Apakah memang semata-mata sebagai bentuk kesalahan pendengar dalam menangkap pesan? Atau memang banyak cara yang dapat dilakukan dalam menangkap isi pesan? Pada konteks pernyataan Gus Men maka penyebabnya adalah kemajemukan pendengar. Dengan demikian, siapapun yang berkomunikasi menghadapi pendengar yang beragam harus menyadari betul kondisi tersebut dan perlu mempertimbangkan jenis pesan dan cara penyampaian pesan yang efektif. Pembicara harus sadar diri dan tahu perannya sebagai apa dalam proses komunikasi. Ketika pembicara sebagai publik figur maka kemampuan dan tingkat nalar pendengar yang berbeda-beda harus menjadi pertimbangan penting dalam memilih diksi.

Bukti kemampuan tingkat nalar masyarakat kita sangat majemuk terlihat pada kasus pembakaran bendera HTI beberapa waktu lalu. Bagi sebagian masyarakat pembakaran tersebut tidak hanya dimaknai sebagai proses membakar selembar kain, atau membakar ikon dari organisasi yang dilarang pemerintah. Sebagian masyarakat memaknai pembakaran bendera tersebut sebagai upaya membakar kalimat Tauhid, kalimat Al-Qur’an, atau kalimat suci. Cara pikir yang berbeda dan menunjukkan keberagaman tersebut juga sepatutnya menjadi kebijaksanaan bersama dalam menyikapinya.

Hal yang juga menarik disampaikan adalah bahwa komunikasi juga dipengaruhi oleh relasi antara siapa sajakah aktor yang terlibat dalam proses itu. Siapa yang menyampaikan dan kepada siapa pesan itu disampaikan. Relasi kekuasaan sangat berpengaruh terhadap hasil komunikasi. Bisa jadi ketika sebuah pesan disampaikan oleh orang yang selama ini selalu disorot dan diberi kritik, maka cara menafsirkan dan penerima pesan akan berbeda ketika disampaikan orang lain. Artinya, pernyataan Gus Men dengan redaksional yang persis sama, boleh jadi tidak akan menimbulkan kontroversi jika disampaikan oleh pihak lain. Di sinilah kita bisa menyaksikan bagaimana relasi bahasa dan kuasa itu berkelindan.

Selalu ada hikmah di balik peristiwa. Demikian pula pasti ada hikmah dari kejadian viral dan hebohnya kontroversi pernyataan Gus Men. Derasnya arus informasi yang melimpah di Indonesia menampakkan gejala belum disertai dengan kesiapan pola pikir dan daya literasi masyarakatnya. Seorang pembicara di ruang publik butuh kembali meningkatkan kesadaran dan kepekaannya tentang siapa mitra bicara yang sedang dihadapi. Menghadapi audiens yang beraneka-ragam butuh perencanaan. Pesan yang disampaikan harus relevan untuk semua dan harus dihindarkan penggunaan bahasa yang ambigu. Demikian pula seorang pendengar yang baik harus mampu menggunakan logika dan kenalarannya dalam memahami suatu informasi. Tak baik menerapkan pemahaman dengan cara logika sumbu pendek, panas dikit sudah meledak.

Polemik pernyataan Gus Men tentang Surat Edaran yang hampir bersamaan dengan peringatan Isra Mikraj, layak menjadi refleksi dan introspeksi bersama. Azan dan salat merupakan dua hal pengingat kita sebagai hamba yang diperintahkan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mari bersama munculkan perasaan masyairil ubudiyah (takut kepada Allah), masyairil khosyah (cinta kepada Allah), dan masyairil hub wa takdzim (mengagungkan Allah). Dan terutama lagi, mari bedah sendiri keegoan kita masing-masing untuk tak selalu merasa diri paling benar, sebagaimana Rasulullah pun dibedah sebelum di Mikraj-kan.

Qonita Fitra Yuni, Korbid Dakwah PC Fatayat NU Situbondo

(Suara Islam)

Loading...