Memutus Mata Rantai Radikalisme-Terorisme Sejak Dini di Lingkungan Keluarga

Ilustrasi, Siswa TK Santo Bernardus berpelukan dengan siswa TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) saat berkunjung dalam kegiatan berbagi kasih di TK ABA Kota Madiun, Jawa Timur. Antara Foto/Siswowidodo.

Data yang ditemukan di lapangan menunjukan bahwa teror yang terjadi terhadap bangsa Indonesia hari ini adalah jenis terorisme lone wolf. Istilah ini untuk menunjukan pada aksi-aksi teror yang dilakukan oleh satu atau dua person dan atau sekeluarga. Ini yang terjadi beberapa hari kebelakang seperti pemboman di Gereja Katedral Makasar yang dilakukan oleh pengantin baru. Tidak berselang lama, teror pun terjadi di Mabes Polri Jakarta yang dilakukan oleh seorang perempuan muda berusia dua puluhan.

Di sisi lain, aksi teror yang terjadi hari-hari ini lebih banyak dilakukan oleh generasi muda. Beberapa analisa menyebutkan bahwa generasi muda ini sangat mudah terpapar radikalisme. Canggihnya lagi, ideologi radikalisme ini ditransfer melalui media sosial. Generasi muda sangat intens dengan media sosial dan sangat jarang dibarengi dengan perilaku kritis. Sehingga mereka dengan mudah menyerap informasi-informasi radikal.

Dari sana, ada orang yang melakukan aksi dan ada pula yang hanya menyimpannya sebagai ideologi. Ini pula yang dianalisis oleh kepala BNPT, Boy Rafli Amar.

Fenomena ini memang meresahkan banyak orang termasuk para orang tua. Tidak sedikit mereka yang terkejut mendengar anaknya menjadi martil dalam aksi terorisme. Hal ini pula memukul banyak keluarga yang harus menanggung beban moral akibat aksi perbuatan tersebut. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh keluarga?
Dalam rangka menanggulangi terorisme model ini, maka diperlukan peran aktif keluarga dalam mencegah terorisme sejak dini dari lingkungan keluarga. Keluarga mengawasi anak-anaknya jangan sampai terpapar radikalisme. Cara praktisnya yaitu dengan mempelajari gejala-gejala dan indikator timbulnya radikalisme. Gejala dan narasi yang dimaksud bisa kita pelajari dari surat wasiat Zakia Aini yang ditulisnya untuk keluarga.

Di antara gejalanya yaitu para terorisme ini biasanya menutup diri dari banyak orang. Mereka lebih senang menyendiri dengan gadget atau laptonya karena menurutnya itu lebih mulia mendengar ceramah-ceramah radikal daripada bergaul dengan orang-orang yang mendukung pemerintahan thagut. Biasanya orang terpapar radikalisme sangat agresif dengan praktik-praktik seperti pemilu, upacara, hormat bendera, interaksi dengan bank dan terlibat dalam program-program pemerintah. Jika keluarganya melakukan itu, biasanya dia melarang keras agar keluarganya meninggalkan praktik-praktik tersebut. Yah, biasanya dia yang ngaji di medsos meresa lebih “islami” daripada keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Sedangkan narasi-narasi yang biasanya muncul yaitu demokrasi, pancasila, Undang-Undang dan pemilu tidak sesuai dengan ajaran al-Quran dan Sunnah. Akan tetapi, itu semua ajaran-ajaran yang bersumber dari orang kafir-musyrik yang harus ditolak dengan keras. Narasi lain yaitu pemerintahan yang tidak menerapkan hukum Islam adalah thagut dan harus dilawan. Penerapan hukum Islam adalah harga mati. Biasanya pula dia sangat sering mengucapkan narasi-narasi jihad, hijrah dan lain sebagainya.

Dari informasi yang beredar pun ibu dari Zakia melihat perubahan dari anaknya. Zakia pun sangat sering melarang praktik-praktik seperti pemilu dan lain sebagainya. Indikasi-indikasi awal itu seharunya direspon dengan aktif oleh keluarga. Keluarga harus mengambil tindakan jika melihat anaknya termasuk dengan indikator di atas. Di antara tindakan yang bisa diambil yaitu dengan menasehatinya dengan ajaran Islam yang ramah, penuh cinta dan menghargai eksistensi yang lainnya. Jika tidak mampu, konsultasi dengan ustad-ustad yang membawa Islam ramah dan penuh cinta. Jika tidak mampu juga, memohon bantuan pada pihak berwenang.

Ya, orang tua harus memutus benang terorisme ini sejak dini mulai dari lingkungan keluarganya. Dengan membantu peran aktif ini maka keluarga sudah menjadi agen pencegah terorisme dan menyelamatkan negara dari kehancuran. Mari kita cegah keluarga kita dari ideologi dan praktik radikalisme serta terorisme.[]

Penulis: Beta Firmansyah, Alumni STFI Sadra Jakarta.

Sumber: https://www.nuansanet.id/2021/04/memutus-mata-rantai-radikalisme.html

(Suara Islam)

Loading...