In Memoriam KH Ahmad Hasyim Muzadi

KH Hasyim Muzadi

Innalillah wainna ilaihi raji’un. Kabar duka itu datang. NU kehilangan salah satu putera terbaiknya. Pagi ini jam 06.15 WIB KH Ahmad Hasyim Muzadi dipanggil Sang Pencipta. Allah ghafara dzunubah wa nawwarah dharihah. Amin….

Tak mudah menemukan orang NU seperti Kiai Hasyim Muzadi. Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk berjuang melalui organisasi tradisional Islam, NU. Ia tak pernah berpindah ke lain hati; sekali NU sampai mati pun tetap NU.

Ia memimpin NU mulai dari tingkat paling bawah sebagai ketua NU ranting. Lalu pelan-pelan merangkak naik sebagai ketua MWC NU, ketua PCNU, ketua PWNU, hingga kemudian sebagai sebagai ketua umum PBNU.

Sebagai pemimpin umat, ia bergerak ke sana-kemari mengurusi soal-soal keumatan. Cukup melelahkan, tapi beliau tak mengeluh. Kadang tampak guratan kelelahan di wajahnya, tapi beliau cenderung mengabaikannya. Ia memilih berangkat ke kampung-kampung, pulau-pulau terpencil untuk menyapa umat yang sekian lama terpingirkan.

Menyapa umat dengan bahasa-bahasa sederhana kadang jenaka. Itulah kelebihan Kiai Hasyim Muzadi. Ketika ceramah di kampung, Kiai Hasyim tak menyibukkan diri untuk beristidlal dengan bahasa-bahasa akademik yang rumit.

Baja juga:

Kiai Hasyim suka menggunakan logika sederhana sehingga mudah dipahami oleh umat awam sekalipun. Soal-soal rumit kenegaraan-kebangsaan dan keumatan, pelan-pelan diurai oleh Kiai Hasyim sehingga tampak titik masalahnya dan bagaimana cara menyelesaikannya.

Dalam menyelesaikan soal keumatan dan kebangsaan, Kiai Hasyim biasanya memilah; mana yang menjadi wewenang pemerintah dan mana yang menjadi otoritas ulama. Sebab, menurutnya, tokoh agama dan pemerintah harus bahu membahu dalam menyelesaikan soal-soal kebangsaan.

Kiai Hasyim terbiasa berfikir kategoris. Ini terlihat dari diksi-diksinya yang kini mempengaruhi banyak orang. Di antaranya, “kita harus bisa membedakan mana pengurus dan mana yang menjadi urusan”. “Jangan-jangan ini bukan soal beda pendapat tapi beda pendapatan”. “Mungkin dia salah paham, pahamnya yang salah atau gak paham-paham”.

Ya ayyatuhan nafsul muthma’innah irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyah… Selamat jalan, Kiai Hasyim….

Kamis, 16 Maret 2017
Salam,

Abdul Moqsith Ghazali

(suaraislam)