Membongkar Ustad Palsu Fauzan al-Azmi, dan Mempertanyakan Peran Kemenag & MUI

Sebenarnya potongan video yang beredar di media sosial terkait pernyataannya sebagai mantan pastor adalah video lama. Saya tidak paham pertama dipublikasikan dimana dan tahun berapa karena saya mencari videonya di Youtube hingga saat ini belum ketemu. Tetapi jika melihat konten penelusuran ustad ini oleh Mualaf Center Indonesia (MCI) milik koh Steven (yang pernah ngaku mualaf, S2 Vatikan), menunjukkan sekitaran akhir tahun 2018. Video ini kembali viral setelah diupload oleh akun @KatolikG pada Selasa, (2/7) lalu.

Lagi-lagi karena saya tidak menemukan video ceramah Fauzan al-Azmi ini, maka tulisan ini saya sandarkan pada hasil penelusuran MCI yang semoga saja benar adanya (bukan settingan untuk mengibuli publik). Karena mereka bertemu langsung dengan ybs di sebuah TPQ (saya nggak paham dimana).

1. Ngaku Mantan Misionnaris Kristen, Mantan Pemeluk Agama Kristen hingga Anak Kardinal

Dalam video yang beredar, ybs mengaku sebagai seorang mualaf mantan ketua misionaris kristen, mengaku beragama Kristen. Nama aslinya Ir. Ignatius Yohanes S.Th. Lumrahnya nama Ignatius dan Yohanes disematkan pada pemeluk agama Katolik dan juga nama-nama Gereja semisal Gereja katolik yang ada di Magelang, namanya Gereja Santo Ignatius. Lumrahnya pun nama Ignatius tidak bersanding dengan Yohanes.

Kemudian, ia mengaku sebagai mantan ketua Misionaris Kristen Indonesia. Sebenarnya mendengar pernyataan ybs sampai sini saja sudah sangat janggal. Bagaimana bisa ia beragama Kristen, sedangkan namanya Katolik banget?

Pernyataan ketiga yang meyakinkan netizen bahwa ybs pembohong adalah ketika dia mengaku sebagai anak dari seorang Kardinal. Faktanya, kardinal di Indonesia hanya ada 3.

Kardinal pertama Indonesia bernama Justinus Darmojuwono. Lahir di Godean, Kabupaten Sleman pada 2 November 1914, diangkat menjadi Kardinal pada tahun 1967 kala menjabat sebagai Uskup Keuskupan Agung Semarang dan meninggal di Semarang, Jawa Tengah, pada 3 Februari 1994.

Kardinal kedua Indonesia bernama Julius Riyadi Darmaatmadja. Lahir di Muntilan, Jawa Tengah, pada 20 Desember 1934. Diangkat menjadi Kardinal sejak 1994 yang ditahbiskan oleh Paus Yohanes Paulus II saat masih menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta sejak 1996 hingga 2010.

Kardinal ketiga Indonesia bernama Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo. Lahir di Yogyakarta pada 9 Juli 1950 dan diangkat menjadi Kardinal pada Oktober 2019 lalu saat masih menjabat sebagai Uskup Keuskupan Agung Jakarta.

Dari ketiga Uskup yang dimiliki Indonesia dan bahkan di dunia, tidak ada satupun yang menikah dan punya anak. Begitupun Paus (imam tertinggi dalam Katolik). Sehingga pernyataan Fauzan al-Azmi layak dikatakan sebagai ngawur dan tanpa dasar.

Dari tiga pernyataan awal itu, sudah bisa dikatakan bahwa yang bersangkutan memang 100% ASTUTI: Asli Tukang Typu!

2. Mengaku Dimualafkan oleh Tokoh NU

Dalam videonya lain yang dikutip oleh media milik Koh Steven Indra Wibowo “Vertizone Tv”, ybs mengaku dimualafkan oleh tokoh NU Pengasuh Ponpes Asshiddiqiyah Pusat pada 10 Februari 2006. Lalu ybs oleh pengasuh Ponpes dipindahkan ke Pesantren milik Alm KH. Hasyim Muzadi untuk lebih memperdalam kitab kuning. (Lihat pada menit ke 08:38 https://youtu.be/peRjXzHPI0M).

Saya masih belum menemukan kebenaran akan hal tersebut. Mengingat, santri ponpes Asshiddiqiyah sangat banyak. Apapun itu, nggak ada urusannya dengan konten ceramah ybs. Karena konten ceramah di luar kendali NU. Jadi NU nggak punya urusan, gak usah dikait-kaitkan😀 soal dia pernah nyantri dan dimualafkan oleh tokoh NU itu perkara lain🙂

3. KTP Palsu Hingga Diusir dari Tempat Tinggal

Dalam video penelusurannya, Vertizone Tv menemukan sejumlah pernyataan dan identitas ybs yang sangat mbulet. Saya nggak biasa nulis satu persatu karena sangat banyak.

Ada beberapa identitas KTP yang digunakan. Entah asli atau palsu. Foto KTP nya pun asal-asalan dan tidak seperti foto KTP resmi.

Saat datang ke TPQ yang menjadi lokasi pertemuan Vertizone Tv dengan ybs, tokoh dan pemilik TPQ mengatakan bahwa ybs bukanlah warga asli daerah tersebut. Ybs adalah pendatang yang mengaku terusir dari tempat tinggalnya. Kemudian diberi tempat tinggal sementara oleh pemilik TPQ tersebut karena merasa iba, terlebih karena ybs mengaku dirinya sebagai ustad.

Dari ketiga hal di atas, dapat disimpulkan bahwa memang Fauzan Al-Azmi adalah orang bermasalah. Mulai dari pindah rumah (numpang) karena diusir dari rumah, menggunakan KTP yang (diduga) palsu, hingga memalsukan identitas dirinya sebagai mualaf bahkan anak seorang Kardinal.

Meskipun video lama, ini bisa jadi pelajaran bagi kita semua supaya lebih berhati-hati dalam memilah dan memilih guru, mubaligh, bahkan ulama. Jangan asal pilih tokoh panutan, karena sekarang ini tidak semua yang bergelar Ustad adalah orang-orang yang dipandang mahir dalam bidang agama.

Kadang-kadang, seorang yang melabeli dirinya sebagai Ustad dan mengaku sebagai mualaf, menjual kemualafannya untuk mencaci-maki agama yang semula dianutnya. Seperti Koh Steven sendiri yang pernah mengatakan dirinya lulusan S2 Vatikan, hingga berujung menjelek-jelekan agama lain. Tentu ini permasalahan yang serius. Sebab jika terus-terusan dilakukan, akan memicu percikan api konflik bodoh yang sangat tidak diinginkan.

Bisakah kita beragama yang kaffah tanpa menjelek-jelekan agama lain dan mengganggu keyakinan orang lain? Surga atau neraka, mukmin atau kafir, mendapat hidayah atau tidak, itu semua urusan Tuhan. Tugas manusia hanya sebagai perantara penyebar kedamaian, kemanusiaan dan keadilan.

Lagi-lagi saya menanyakan dimana peran Kemenag yang diberi anggaran APBN sekian besar, mengapa menertibkan orang-orang seperti ini sulit sekali? Ya, memang perlu diakui sih, segala yang berkaitan dengan agama apalagi agamanya mayoritas itu sangat sulit diatur. Apalagi jika sudah menyangkut tokoh panutan, bisa-bisa kena sentil dan didemo berjilid-jilid.

MUI, sebagai organisasi yang -katanya sih- beranggotakan para Ulama perwakilan dari tiap ormas, kok juga nggak bisa menertibkan orang-orang seperti ini? Bahkan di tubuh MUI pun orang-orang yang suka provokasi seperti Tengku Zul ada. Jadi sebenarnya MUI berpihak kepada siapa? Suatu kelompok saja atau keseluruhan umat Islam di Indonesia? Lalu, sebenarnya MUI ini merepresentasikan Islam yang mana? Yang ramah tamah, luwes, damai dan toleran, ataukah Islam yang gegeran, ngamukan, tukang demo dan tukang intimidasi? Entahlah!

Yang pasti, hati-hati dalam memilih figur panutan. Seperti dalam menerima informasi, baiknya selalu melakukan verifikasi sebelum menjadikan seseorang sebagai tokoh panutan. Verifikasi mulai dari sanad keilmuan, latar belakang pendidikan, dan lain sebagainya. Itu sangat penting, supaya ilmu kita benar-benar berkualitas, serta tentu saja sanad dan gurunya jelas. Sehingga nggak ada keraguan di dalamnya.

“Semakin tinggi ilmu seseorang, maka ia akan semakin toleran”
-Gus Dur-

Sekian
Semoga kita semua selalu dijauhkan dari segala macam bentuk fitnah di akhir zaman.

Jumat, 3 Juli 2020

Vinanda Febriani

Sumber: https://www.facebook.com/vinanda.febriani.9/posts/729541397796463

(suaraislam)

Loading...