Meluruskan Klaim Kebenaran dan Do’a Keburukan

Habib Idrus doakan Jokowi dan Megawati berumur pendek (YouTube/Front Tv)

Saya tidak mau mendoakan pendek umur kepada orang yang dipandang salah. Karena boleh jadi dia yang benar dan saya yang salah. Bisa jadi penilaian tersebut dilandasi oleh emosi atau hawa nafsu sehingga bernilai subyektif, tidak objektif dan faktual.

Para imam mujtahid saja tidak ada yang mengklaim bahwa pendapatnya sajalah yang benar, sedangkan yang lain salah. Di antara mereka ada yang bertutur :

قولي هذا رأيي، فهو احسن ما قدرت له . فمتى جاءني باحسن من قولي فهو أولى بالصواب مني

“”Pendapatku ini adalah hasil pemikiranku. Maka itulah yang terbaik dari kemampuanku. Kapan saja ada yang bisa mendatangkan pendapatan yang lebih baik daripada pendapatku, maka ia lebih utama untuk dibenarkan daripada aku.”

Para imam mujtahid itu sadar bahwa penentu benar dan salahnya ijtihad adalah ALLAH Ta’ala. Yang dinilai benar olehNya akan mendapat dua ganjaran yakni ganjaran berijtihad dan benarnya. Sedangkan yang dinilai salah ijtihadnya tetap diberi satu pahala yaitu pahala berijtihadnya saja.

Jika kenisbian benar dan salah dalam hukum saja harus disikapi dengan penuh toleransi, saling menghargai satu sama lain, apalagi dalam soal politik yang sarat dengan kepentingan duniawi dan hawa nafsu. Sudah barang tentu tidak boleh mengklaim diri dan kelompoknya sendiri sebagai pihak yang benar, dan yang berseberangan sebagai pihak yang pasti salah.

Sikap yang baik dan elegan adalah mendoakan pihak yang dianggap salah semoga diberi hidayah dan taufiq kembali ke ajaran yang benar, segera bertaubat, dan memperbaiki diri. Adapun yang dianggap sudah benar agar jangan menyombongkan diri, tetap istiqomah dalam kebenaran, terus belajar dan membenahi diri, serta husnul khatimah. Aamiin ya Mujibas saailiin.

K.H. Cep Herry Syarifuddin

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1488967741294526&id=100005439434530

(Suara Islam)

Loading...