Meluruskan Isi Tausiyah Fahmi al-Anjatani (Pengasong Khilafah Indonesia) soal Sedekah Bumi

Berikut bantahan dan klarifikasi netizen melalui akun FBnya Sumarsam Sumarsam.

Dalam salah satu tausiyahnya yang terekam dalam video Pak Fahmi al-Anjatani menyampaikan beberapa statement sebagaimana transkrip berikut ini :

“Kadangkala saya juga gak mengerti ,…….
Ada orang mengaku Islam tapi hidupnya tidak sesuai dengan aturan Islam.

Ada orang mengaku Ahlu Sunnah Wal Jamaa’ah tapi cara pandangnya tidak sesuai dengan cara pandangnya Ahlu Sunnah Wal Jamaa’ah.

Bahkan ada orang mengaku NU tapi pola pikirnya tidak sesuai dengan apa apa yang telah difatwakan secara resmi oleh para Ulama NU”

“Seperti halnya contoh:
Hukum memperingati “MAPAK SRI” kata orang Cirebon bilang atau sedekah bumi. Apa hukumnya????

Mohon maaf saya tidak berpendapat sendiri , saya hendak menyampaikan apa yang telah difatwakan secara resmi oleh Ulama-Ulama NU di dalam Kitab Ahkamul Fuqoha Fii Muqorroroti Muktamaroti Nahdlotil Ulama.

Hukumnya adalah :
Ini satu pertanyaan . Apa hokumnya memperingati SEDEKAH BUMI yang biasa dikerjakan penduduk desa atau kampong. Karena telah menjadi adat kebiasaan sejak dahulu kala ???”

JAWABANNYA:
Adat kebiasaan demikian itu hukumnya HARAM.
Ini ada di Fatwa resmi NU di Kitab Ahkamul Fuqoha halaman ke 93 (Sembilan puluh tiga).
Bahkan ada lagi hokum dari memperingati MEMITU kata orang Cirebon orang Indramayu bilang .

Di sini ketika ditanyakan : Apa hukumnya memperingati nuju bulanan dari kandungan seseorang???
Eeeeh……… hukumnya adalah HARAM . Ini di halaman ke 95 (Sembilan puluh lima).
Hukumnya HARAM karena termasuk TABDIR. Tabdir itu termasuk menghambur hamburkan harta .

Banyak fatwa fatwa resmi NU yang kadangkala tidak dipatuhi oleh orang orang NU nya sendiri . Entah karena tidak tau atau karena sengaja menentangnya lebih mendahulu adat adat yang banyak kemunkaran di dalamnya daripada mematuhi fatwa fatwa para Ulama.
Makanya saya tidak habis pikir……

Orang NU kok arah pandangnya tidak sesuai dengan NU . Orang NU kok cara berfikirnya tidak sesuai dengan apa apa yang sudah difatwakan oleh Ulama – Ulama NU
———–
TANGGAPAN SAYA (Sumarsam):
Melalui tulisan ini saya akan mencoba utk meluruskan kedustaan yang telah dilakukan oleh pak Fahmi al-Anjatani dalam tausaiyahnya tersebut .
.
Ada dua hal yang perlu saya luruskan :

PERTAMA :
Pak Fahmi al-Anjatani mengatakan bahwa Fatwa resmi NU memfatwakan HARAM terhadap SEDEKAH BUMI. Berdasarkan pada Kitab Ahkamul Fuqoha halaman ke 93 (Sembilan puluh tiga).

TANGGAPAN SAYA:
Berikut ini saya kutipkan isi dari Kitab Ahkamul Fuqoha halaman ke 93 (Sembilan puluh tiga) yang sebenarnya :
Soal Ke 100. PERAYAAN UNTUK MEMPERINGATI JIN PENJAGA DESA/SEDEKAH BUMI .

SOAL:
Bagaimana hukumnya mengadakan pesta dan perayaan guna memperingati Jin penjaga Desa (Mbau Rekso) untuk mengharapkan kebahagiaan dan keselamatan , dan kadang terdapat hal hal yang munkar.

Perayaan tersebut dinamakan SEDEKAH BUMI yang biasa dikerjakan penduduk desa (kampong), karena telah menjadi adat kebiasaan sejak dahulu kala?

JAWABAN:
Adat kebiasaan sedemikian itu hukumnya haram .

KETERANGAN:
Dalam Kitab Al-Jamal ‘Alal Jalalain pada tafsir Surat Jin. Dalam Kitab Syaroh Ihya Juz VI:
Orang pertama meminta perlindungan kepada Jin adalah kaum dari Bani Hanifah di Yaman, kemudian hal tersebut menyebar di Arab. Setelah Islam datang maka berlindung kepada Alloh menggantikan dari berlindung kepada Jin

PENJELASAN:
Yang di fatwakan HARAM dalam fatwa NU tersebut adalah tentang kemunkarannya serta tentang meminta perlindungannya kepada Jin , bukan soal SEDEKAH BUMI nya .

Maksudnya: Haram hukumnya meminta perlinfungan kepada Jin dan membuat kemunkaran walaupun dibungkus dengan satu kegiatan yang disebut dengan SEEDEKAH BUMI .

Mafhum Mukholafahnya adalah : Boleh melakukan SEDEKAH BUMI selama untuk memohon perlindungan kepada Alloh Swt serta dalam pelaksanaanya tidak ada kemunkaran di dalamnya
.
KE DUA :
Pak Fahmi al-Anjatani mengatakan bahwa Fatwa resmi NU memfatwakan HARAM terhadap memperingati nuju bulanan dari kandungan seseorang. Berdasarkan pada Kitab Ahkamul Fuqoha halaman ke 95 (Sembilan puluh lima).

TANGGAPAN SAYA:
Berikut ini saya kutipkan isi dari Kitab Ahkamul Fuqoha halaman ke 95 (Sembilan puluh lima) yang sebenarnya :

Soal Ke 102. MELEMPAR KENDI YANG PENUH AIR PADA UPACARA BULAN KETUJUH DARI UMUR KANDUNGAN (Tingkeban)

SOAL:
Bagaimana hukumnya melempar kendi yang penuh hingga pecah pada waktu pulangnya orang orang yang menghadiri upacara peringatan bulan ketujuh dari umur kandungan dengan membaca sholawat bersama sama dengan harapan supaya mudah lahirnya anak kelak . Apakah hal tersebut hukumnya haram karena termasuk tabdir???

JAWABAN:
Yaa….perbuatan tersebut hukumnya haram karena termasuk tabdir.

KETERANGAN:
Dalam Kitab Bajuri ‘Ala Fathil Qorib:
Mubadzir dan boros itu sinonim, dalam arti mengelola harta di luar pengelolalan yang semestinya, sebagaimana yang dimaksudkan oleh perkataan Imam Al-Ghazali dan lainnya, selama tidak menimbulkan sesuatu yang terpuji pada masa kini (dunia) dan tidak pula pahala pada masa yang akan dating (akhirat).

PENJELASAN :
Dalam fatwa tersebut yg dihukumi haram adalah perbuatan tabdzir-nya, seperti melempar kendi yang penuh hingga pecah, bukan soal Tasyakurannya dalam upacara peringatan bulan ketujuh dari umur kandungan seorang ibu.
Mafhum Mukholafahnya adalah: Boleh mengadakan Tasyakurannya dalam upacara peringatan bulan ketujuh dari umur kandungan seorang ibu selama tidak ada tabdzir dan kemunkaran di dalamnya .

Semikian tanggapan saya sebagai upaya utk meluruskan tausiyah yg disampaikan oleh Pak Fahmi al-Anjatani.

Semoga ada manfaatnya.

Sumber: FB Sumarsam Sumarsam

(suaraislam)

Loading...