Liberalisme yang Disalahpahami

Foto: FB Amin Mudzakkir

Hingga sekarang, masih saja ada sejumlah orang yang salah paham terhadap liberalisme. Mereka pikir liberalisme otomatis sama dengan seks bebas, pro-LGBTQ, atau mengumbar aurat. Pokoknya liberalisme dianggap kebebasan tanpa batas seperti di film-film Barat.

Beberapa sahabat yang dulu pernah terang-terangan mengkampanyekan “Islam liberal”, seperti Ulil Abshar Abdalla, Moqsith Ghazali, dan Akhmad Sahal, terkena dampaknya. Mereka dituduh sesat. Tak tanggung-tanggung, yang menuduh itu adalah MUI Pusat.

Sekarang tuduhan tersebut sudah agak mereda, meski kecurigaan tetap saja ada. Terlebih lagi beberapa sahabat yang saya sebut di atas saat ini benar-benar sudah menjadi kyai. Mereka ngajar ngaji. Ulil dengan kitab Ihya-nya, lalu belakangan Moqsith dengan kitab al-Wasith-nya.

Sejak dulu sahabat-sahabat saya itu jago ngaji. Baca kitab kuningnya lancar. Alfiyah-nya nglotok. Lebih dari itu, ritual ibadahnya juga tetap terjaga seperti santri pada umumnya. Oleh karena itu, ketika mereka menyebut dirinya liberal pun, yang dimaksud tentu saja bukan sesederhana seperti dilihat sejumlah orang di film-film Barat.

Masalah pokoknya adalah karena liberalisme itu sendiri merupakan konsepsi yang sangat kompleks. Saya sudah 10 tahun belajar di STF Driyarkara untuk mengerti apa itu liberalisme, tetapi tetap saja kesulitan merumuskan pengertiannya secara mudah. Perdebatan mengenainya terus berkembang, termasuk kritik terhadapnya di kalangan para pemikir Barat sendiri yang tidak pernah berhenti.

Saya sendiri mempunyai kritik yang serius terhadap liberalisme. Kritik itu saya tuliskan dalam tesis S2 mengenai pemikiran Seyla Benhabib dan juga dalam disertasi S3 mengenai Nancy Fraser yang sekarang masih berjalan. Keduanya adalah pemikir feminis yang sangat kritis terhadap liberalisme. Meski demikian, saat yang sama saya juga mengakui kontribusi liberalisme yang besar terhadap sejarah peradaban manusia.

Yang pasti, mempelajari apa itu liberalisme dan pro-kontra terhadapnya tidak membuat kami melupakan ziarah kubur. Foto di bawah diambil di depan makam kramat Panjalu, Ciamis. Dulu Gus Dur sering ke sini dan karena Gus Dur pula tempat ini menjadi sangat terkenal. Tempatnya asik sekali, cocok buat meditasi; merenungkan kembali perjalanan hidup yang kemarin-kemarin untuk melangkah ke depan dengan harap panangtayungan gusti nu maha suci.

Sumber: FB Amin Mudzakkir

(suaraislam)

Loading...