Lebih Takut Tuhan daripada Corona

Tuhan dihargai. Bukan buat ditakuti. Kecuali Tuhan yang kamu maksud itu setan.

Menjaga kesehatan diri sendiri dan sesama adalah cara menghargai Tuhan.

Kalau sudah menjaga kesehatan lalu sakit, itu namanya sudah takdir. Kalau belum menjaga lalu sakit. Itu namanya hobi cari gara-gara.

Tuhan tidak seperti ayam jago yang kamu tandingkan dengan Corona untuk dipertaruhkan mana yang lebih jago.

Bedakan antara orang beriman dan penjudi. Karena iman tanpa perbuatan adalah mati. Dan kasih lebih besar daripada iman karena kasih itu perbuatan.

Kasih tidak hidup dalam hati manusia-manusia egois karena takut tidak masuk surga jika tidak melakukan ritual.

Sama halnya dengan menggunakan media sosial itu sama seperti baju, setiap orang memakai yang dia inginkan dengan cara mereka.

Kalau kita tidak suka baju orang lain ya nggak masalah, selama kita tidak memaksakan orang lain memakai baju yang sesuai selera kita.

Intinya..
Jangan sakit hati ketika melihat orang lain sibuk dengan dunianya sendiri.

Sibukan saja dirimu dengan hal yang bikin dirimu nyaman. Senyaman pagi ini di rumah, saya meracik dan menyeruput kopi lalu anak-anak menikmati susu segarnya dan kita larut dalam kebersamaan penuh kebahagiaan.

Dan hikmah dari mewabahnya Virus Corona adalah, saya bisa lebih dekat lagi dengan Tuhan, bersyukur masih diberikan umur panjang, masih bisa bernafas pagi ini, sehat, dan saya bisa punya quality time lebih banyak bersama keluarga.

Sumber: FB Aldira Maharani

(suaraislam)

Loading...